Ahmad Sanusi: Perbedaan antara revisi

143 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
k (Bot: Perubahan kosmetika)
|caption =
|birth_name =
|birth_date = [[18 September]] [[18891888]]
|birth_place = {{bendera|Hindia Belanda}}, Desa Cantayan, Kecamatan Cikembar, [[Kabupaten Sukabumi]], [[Provinsi Pasundan|Jawa Barat]]
|disappeared_date =
|box_width =
}}
'''Ahmad Sanusi''' atau dikenal dengan sebutan '''Kiai Haji Ahmad Sanusi''' atau '''Ajengan Cantayan''' atau '''Ajengan Genteng''' atau '''Ajengan Gunungpuyuh''' (lahir [[18 September]] [[1889|1888]] di Desa Cantayan, [[Cikembar, Sukabumi|KecamatanUnder Distrik Cikembar]], [[Kabupaten Sukabumi|Distrik Cibadak, Under Afdeling Sukabumi]] - meninggal tahun [[1950]] di [[Kota Sukabumi|Sukabumi]] pada umurtanggal 6131 Juli 1950 (dalam usia 62 tahun) adalah tokoh [[Sarekat Islam]] dan pendiri Al-IttahadulIttahadiyatul Islamiyah (AII), sebuah organisasi diyang bergerak dalam bidang [[pendidikan|pendidikan, sosial kemasyarakatan]] dan [[ekonomi]].<ref name="Ensiklopedi"> {{cite book|author=H.M. Bibit Suprapto|title=Ensiklopedi Ulama Nusantara|publisher=Gelegar Media Indonesia|year=2009|id=ISBN 979-980-661198066-141114-5}} Halaman 212-215.</ref><ref name="pelitatangerang">[http://pelitatangerang.xtgem.com/index/__xtblog_entry/59385-kh-ahmad-sanusi-sukabumi?__xtblog_block_id=1 www.pelitatangerang.com: KH Ahmad Sanusi, Sukabumi]. Diakses 27 April 2014</ref> Pada awal Pemerintahan [[Jepang]], AII dibubarkan dan secara diam-diam ia mendirikan [[Persatuan Umat Islam|Persatuan Umat Islam Indonesia]] (PUII).<ref name="Ensiklopedi"/><ref name="sukabumi">[http://www.sukabumikota.go.id/detailberita.asp?id=PUI%20TELAH%20TOREHKAN%20KARYA%20POSITIF%20BAGI%20BANGSA%20DAN%20NEGARA www.sukabumikota.go.id: PUI Telah torehkan Karya Positif bagi Bangsa dan Negara]. Diakses 27 April 2014</ref> Ia juga pendiri [[Pondok Pesantren]] Syamsul Ulum, Sukabumi.<ref name="Ensiklopedi"/> Selain itu, Kiai Sanusi juga pernah menjadi anggota [[Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia|Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia]] (BPUPKI) pada tahun [[1945]].<ref name="Ensiklopedi"/><ref name="ensikperadaban">[http://www.ensikperadaban.com/?TOKOH_%26amp%3B_INTELEKTUAL_MUSLIM_INDONESIA:Ulama:Ahmad_Sanusi www.ensikperadaban.com: Ahmad Sanusi]. Diakses 27 April 2014</ref>
 
== Sejarah ==
Kiai Sanusi adalah putera dari Ajengan Haji Abdurrahim bin Yasin, pengasuh Pesantren Cantayan di Sukabumi.<ref name="Ensiklopedi"/><ref name="hti">[http://hizbut-tahrir.or.id/2011/01/13/ajengan-ahmad-sanusi-pejuang-syariah-islam/ www.hizbut-tahrir.or.id: Ajengan Ahmad Sanusi: Pejuang Syariah Islam]. Diakses 27 April 2014</ref> Sebagai putera seorang ajengan (kiai), ia telah belajar ilmu-ilmu keislaman sejak ia masih kanak-kanak, selain ia juga banyak belajar dari para [[Santri|santri]] Senior|senior di pesantren ayahnya.<ref name="Ensiklopedi"/>
 
Menginjak usia dewasa, Kiai Sanusi mulai mengaji di beberapa pesantren di [[Jawa Barat]].<ref name="Ensiklopedi"/> Pada usia 20 tahun, ia menikah dengan Siti Juwariyah binti Haji Afandi yang berasal dari Kebon Pedes, [[Baros, Sukabumi|Baros]], Sukabumi.<ref name="Ensiklopedi"/> Setelah menikah, ia dikirim ayahnya ke [[Mekah]] untuk menunaikan [[Haji|ibadah haji]] sekaligus memperdalam ilmu-ilmu keislaman.<ref name="Ensiklopedi"/> Ia belajar di Mekah selama tujuh tahun.<ref name="ensikperadaban"/> Disana Kiai Sanusi mendapat gelar [[Imam|imam besar]] [[Masjidil Haram]].<ref name="ensikperadaban"/> ia berguru kepada ulama-ulama terkenal, khususnya dari kalangan al-Jawi ([[Semenanjung Melayu|Melayu]]).
 
== Mendirikan Pesantren ==
Pada tahun 1915, sepulang belajar dari Mekah, Kiai Sanusi kembali ke [[Indonesia]] untuk membantu ayahnya mengajar di Pesantren Cantayan.<ref name="ensikperadaban"/> Setelah tiga tahun membantu ayahnya, ia mulai merintis pembangunan pondok pesantrennya sendiri yang terletak di Kampung Genteng, sebelah utara desa Cantayan, sehingga ia kemudian dikenal dengan sebutan Ajengan Genteng.<ref name="Ensiklopedi"/> Pesantrennya tersebut ia beri nama Pondok Pesantren SyamsulBabakan UlumSirna Genteng.<ref[[Berkas:Rasyid ridla.jpg|thumb|left|200px|Syeikh Muhammad Rasyid Ridla, salah satu ulama pembaharu asal Mesir yang banyak mempengaruhi pemikiran K.H. Ahmad name="Ensiklopedi"/>Sanusi]]
Ketika belajar di Mekah, Kiai Sanusi telah mengenal ide-ide pembaharuan dari [[Muhammad Abduh|Syeikh Muhammad 'Abduh]], [[Rasyid Ridha|Syeikh Muhammad Rasyid Ridla]], dan [[Jamal-al-Din Afghani|Jamaluddin al-Afghani]], melalui buku-buku dan majalah aliran pembaharuan di [[Mesir]], sehingga pengaruh tersebut menjadikannya ulama pembaharu ketika pulang ke Indonesia.<ref name="Ensiklopedi"/> Namun demikian, ia tetap tidak meninggalkan mahzabnya, ia tetap mengikuti [[Mazhab Syafi'i|mazhab Syafi'i]] sebagaimana yang dilakukan kedua gurunya, Syeikh Ahmad Khatib dan Syeikh Mukhtar at-Tarid.<ref name="Ensiklopedi"/> Bahkan dalam bidang ilmu [[fikih]] yang juga merupakan keahliannya, Kiai Sanusi terkenal sangat kritis terhadap dalam menentukan hukum [[Islam]].<ref name="Ensiklopedi"/>
 
Dalam bidang ilmu [[al-Qur'an]], Kiai Sanusi berpendapat bahwa terdapat empat kategori hukum dalam al-Qur'an, yaitu: <ref name="hti"/>
== Pemikiran ==
[[Berkas:Rasyid ridla.jpg|jmpl|kiri|200px|Syeikh Muhammad Rasyid Ridla, salah satu ulama pembaharu asal Mesir yang banyak mempengaruhi pemikiran K.H. Ahmad Sanusi]]
Ketika belajar di Mekah, Kiai Sanusi telah mengenal ide-ide pembaharuan dari [[Muhammad Abduh|Syeikh Muhammad 'Abduh]], [[Rasyid Ridha|Syeikh Muhammad Rasyid Ridla]], dan [[Jamal-al-Din Afghani|Jamaluddin al-Afghani]], melalui buku-buku dan majalah aliran pembaharuan di [[Mesir]], sehingga pengaruh tersebut menjadikannya ulama pembaharu ketika pulang ke Indonesia.<ref name="Ensiklopedi"/> Namun demikian, ia tetap tidak meninggalkan mahzabnya, ia tetap mengikuti [[mazhab Syafi'i]] sebagaimana yang dilakukan kedua gurunya, Syeikh Ahmad Khatib dan Syeikh Mukhtar at-Tarid.<ref name="Ensiklopedi"/> Bahkan dalam bidang ilmu [[fikih]] yang juga merupakan keahliannya, Kiai Sanusi terkenal sangat kritis terhadap dalam menentukan hukum [[Islam]].<ref name="Ensiklopedi"/>
 
Dalam bidang ilmu [[al-Qur'an]], Kiai Sanusi berpendapat bahwa terdapat empat kategori hukum dalam al-Qur'an, yaitu:<ref name="hti"/>
# Berkaitan dengan keimanan dan kebebasan beragama dalam memilih dan menjalankan ketentuan-ketentuan agama
# Berkaitan dengan rumah tangga dan pergaulannya seperti pernikahan dan perceraian, keturunan dan kewarisan
# Berkaitan dengan prinsip kerja samakerjasama antarsesama umat manusia seperti jual-beli, sewa-menyewa, gadai dan lain-lain
# Berkaitan dengan pemeliharaan kehidupan, yaitu berupa peraturan pidana dan perdata untuk menghukum di antara sesama manusia yang melakukan kesalahan
 
== Karya-karya ==
Kiai Sanusi dikenal sebagai ulama ahli [[tafsir]] dan fikih yang telah menghasilkanmengasilkan banyak karya.<ref name="Ensiklopedi"/><ref name="pahlawan">{{cite news|title = Dua Ulama Jabar Dapat Gelar Pahlawan Nasional |newspaper = www.news.okezone.com|date =Sabtu, 08 November 2008 01:00 wib|author=Toni Kamajaya|url =http://news.okezone.com/read/2008/11/07/1/161854/dua-ulama-jabar-dapat-gelar-pahlawan-nasional|accessdate = 27 April 2014|archiveurl=https://archive.is/NCULl|archivedate=27 Apr 2014 03:49:15 UTC}}</ref><ref name="Ensiklopedi"/>
 
== Referensi ==
 
{{reflist}}
 
{{BPUPKI}}
 
[[Kategori:Tanggal kelahiran 18 September]]
[[Kategori:Tokoh Jawa]]
[[Kategori:Ulama Sunda]]
[[Kategori:Anggota BPUPKI]]
Pengguna anonim