Krabi: Perbedaan revisi

1.696 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
 
==Sejarah==
Berbagai peninggalan prasejarah membuktikan bahwa kehadiran manusia mulai ditemukan di Krabi pada periode 25,000-35,000 tahun Sebelum Masehi. Penduduk asli kota ini merupakan keturunan Tiongkok yang bermigrasi ke Thailand. Menurut catatan sejara, Krabi merupakan kota besar yang menjadi bagian dari Kerajaan Ligor, yang saat ini lebih dikenal sebagai Nakhon Si Thammarat. Salah satu catatan sejarah dari tahun 1200 menyebutkan bahwa kota ini sempat dikenal dengan sebutan ''Ban Thai Samor''.<ref name="as"/>
 
Pada mulanya, kota ini hanya terdiri dari tiga komunitas yang menyediakan gajah untuk wilayah [[Bangkok]]. Komunitas ini kemudian semakin berkembang dan akhirnya menjadi sebuah kota.<ref name="t"/> Ketika Raja Chulalongkorn (Rama V) berkuasa (1868-1910), kota ini disebut Pakasai dan dikepalai oleh gubernur pertama yang bernama, Luang Tehp Sena.<ref name="as"/>
 
Walaupun perikanan tetap menjadi salah satu penghasilan utama masyarakat, penduduk Krabi mulai mengembangkan pertanian dan perkebunan, terutama setelah komoditi karet diperkenalkan oleh Malaya. Di tahun 1960-an, perkebunan kelapa sawit mulai masuk ke kota ini dan akhirnya menjadikan Krabi sebagai perkebunan sawit terbesar di negara dalam negeri. Pariwisata mulai berkembang di Krabi sejak 1980-an seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung.<ref="kr">[http://krabitravel.com/information/history.html Krabi History, culture, religion], Krabitravel.com ; Diakses 26 November 2017.</ref>
 
==Agama dan Kebudayaan==
Sekitar 60% penduduk Krabi adalah penganut Muslim (mayoritas Sunni) dan 40% Buddhis (Theravada dan Sino-Thai Mahayana). Selain itu, juga terdapat sebagai kecil penganut Hindu, Kristen, dan Moken. Umat Buddhis umumnya bekerja di bidang perdagangan sedangkan Muslim lebih banyak tinggal sebagai nelayan dan pengelola perkebunan.<ref="kr"/>
 
Banyak [[masjid]] terlihat di seluruh kota dan wanita Muslim umumnya menggunakan hijab di kota ini. Penganut Muslim di Krabi tergolong moderat dan hidup berdampingan dengan damai bersama penganut Buddhis. Beberapa candi Buddhis dapat dilihat di kota ini, seperti Wat Kaew Korawaram dan Tiger Cave Temple (campuran [[Theravada]] dan [[Mahayama]]. Di berbagai toko, warga juga banyak memajang gambar Ganesha, Dewa Hindu, untuk membawa keberuntungan.<ref="kr"/>
 
Selain agama-agama yang diakui, aliran animisme juga berkembang di kota ini. Salah satunya terlihat dari jimat tali dengan pahatan koral atau kayu Lingjam yang dikenakan pada nelayan di pinggang mereka. Jimat ini dikenakan untuk menangkal roh jahat yang ada di lautan.<ref="kr"/>
 
==Referensi==
3.550

suntingan