Buka menu utama

Perubahan

4 bita dihapus ,  1 tahun yang lalu
k
Bot: Perubahan kosmetika
{{rapikan}}
{{noref}}
[[Berkas:Cina Benteng.JPG|thumbjmpl|Pernikahan pada kalangan Tionghoa Benteng.]]
'''Tionghoa Benteng''' adalah panggilan yang mengacu kepada masyarakat keturunan [[Tionghoa]] yang tinggal di daerah [[Tangerang]], provinsi Banten. Nama "Tionghoa Benteng" berasal dari kata "Benteng", nama lama kota Tangerang. Saat itu terdapat sebuah benteng Belanda di kota Tangerang di pinggir sungai [[Cisadane]], difungsikan sebagai pos pengamanan mencegah serangan dari Kesultanan Banten, benteng ini merupakan benteng terdepan pertahanan Belanda di pulau Jawa. Masyarakat Tionghoa Benteng telah beberapa generasi tinggal di Tangerang yang kini telah berkembang menjadi tiga kota/kabupaten yaitu, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan. Mereka adalah komunitas Tionghoa Peranakan terbesar di Indonesia. Setelah masa peralihan 1945-1950, banyak dari mereka yang eksodus ke Belanda dan Amerika Serikat.
 
== Sejarah ==
[[Berkas:AMH-4578-NA Map of the fort at Tangerang.jpg|thumbjmpl|Denah Benteng Tangerang tertanggal 1709]]
Menurut kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyang (Catatan dari Parahyangan), keberadaan komunitas Tionghoa di Tangerang dan Batavia sudah ada setidak-tidaknya sejak 1407 NI. Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan pertama dari dataran Tiongkok yang dipimpin Tjen Tjie Lung alias Halung di muara Sungai Cisadane, yang sekarang berubah nama menjadi Teluk Naga.
 
== Penggolongan ==
Orang Tionghoa Benteng terbagi menjadi dua golongan berdasarkan keberangkatan mereka dari [[Tiongkok]]:
# Golongan pertama adalah mereka yang datang pada abad ke-15, mereka datang untuk menjadi petani, buruh, pekerja, dan pedagang, mereka mencapai [[Tangerang]] dengan menggunakan perahu sederhana, dan pada awalnya hidup pas-pasan dan bekerja sama dengan kolonial Belanda untuk mencapai standar hidup yang lebih baik. Dewasa ini kebanyakan Tionghoa Benteng golongan pertama ini hidup pas-pas an dan sudah terasimilasi dengan budaya pribumi Sunda dan Betawi. Kebanyakan dari mereka tinggal di pedesaan.
# Golongan kedua adalah mereka yang datang pada abad ke-18 dan mendapat restu dan perbekalan dari Kaisar, dengan janji bahwa mereka akan tetap loyal terhadap Kaisar [[Dinasti Qing]]. Mereka datang bersama-sama dengan kapal dagang Belanda dengan motivasi mendapat penghasilan yang lebih layak dengan menjadi petani kapas dan padi, banyak juga yang menjadi tentara kolonial Belanda. Tionghoa Benteng golongan kedua ini hampir semuanya hidup sejahtera dan kental dengan sifat aristokrasi. Terdapat 7 keluarga besar yang selama cukup lama menguasai sebagian besar lahan di Tangerang. Mereka disebut dengan ''"setsei" (seven great families)'' : House of Oey, House of Ong, House of Li, House of Lim, House of Teng, House of The, House of Tan
 
== Pakaian adat ==