Nurtanio Pringgoadisuryo: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Zaini Suherly (bicara | kontrib)
Tidak ada ringkasan suntingan
Borgxbot (bicara | kontrib)
k Robot: Cosmetic changes
Baris 30:
== Sikumbang ==
 
Pada masa selesainya perang kemerdekaan (sekitar tahun 1950), Nurtanio berhasil merancang dan membuat pesawat Sikumbang yang merupakan pesawat ''all metal'' pertama Indonesia itu. Nurtanio kemudian berencana menerbangkan ke daerah [[Sekaten]], [[Yogyakarta]] dari [[Bandung]]. Sahabatnya R.J Salatun mempunyai firasat buruk tentang penerbangan itu dan berniat membatalkannya. Karena dia punya akses langsung kepada Kepala Staf Angkatan Udara Suryadarma, Salatun memberikan argumen kepada Suryadarma agar membatalkan rencana penerbangan Nurtanio ke Yogyakarta dengan alasan Nurtanio adalah satu-satunya kostruktur penerbangan yang dimiliki Angkatan Udara. Suryadarma setuju dengan alasan Salatun dan memerintahkan stafnya untuk memberikan radiogram pembatalan rencana penerbangan ke Yogyakarta. Untuk mengobati rasa kesalnya, Nurtanio menerbangkan pesawat Sikumbang itu keliling udara Bandung di sekitar Lanud Husein Sastranegara.
 
Tidak lama kemudian pesawat itu didaratkan di Lanud Husein karena mengalami gangguan berupa mesinnya mati. Nurtanio mengambil kesimpulan seandainya dia melakukan penerbangan ke Yogyakarta, maka dia harus mendarat darurat di daerah rawan yang masih dikuasai [[DI/ TII]] karena mengalami [[mesin]] mati.
 
Pada saat itu, Indonesia menerima berbagai macam pesawat dan peralatan perang dari Belanda sebagai pelaksanaan pengakuan kedaulatan yang merupakan buah dari [[Konfrensi Meja Bundar]]. Untuk Angkatan Udara, Indonesia menerima berbagai pesawat diantaranya [[P-51 Mustang]], Pembom sedang/ringan [[B-25 Mitchell]] dan pesawat angkut [[DC-3 Dakota]]. Pesawat-pesawat itu masih berwarna [[metal]] [[aluminium]] karena tidak diberi cat kamuflase. Alasan Nurtanio adalah pesawat itu permukaannya menjadi lebih licin sehingga mengurangi hambatan (''drag''). Namun kemudian muncullah gejala politik kurang baik yang diwarnai pembentukan dewan-dewan daerah oleh pimpinan wilayah politik dan pimpinan wilayah angkatan perang (yang dijuluki ''warlord'') sebagai protes akibat kebijakan pemerintah pusat yang secara ekstrim dapat menjurus kearah disintegrasi. Bila kemungkinan itu terjadi, maka Angkatan Perang Indonesia khususnya Angkatan Udara Republik Indonesia akan dibuat repot.
 
Untuk mempersiapkan diri terhadap kemungkinan terburuk, R.J Salatun yang menjabat sebagai Sekretaris Dewan Penerbangan merangkap Sekretaris Gabungan Kepala-Kepala Staf memberi masukan kepada KSAU Suryadarma untuk mulai memberi kamuflase kepada pesawat-pesawat AURI selagi PO (periodiek overhaul). Dengan demikian jika terjadi konflik, AURI tidak akan kerepotan. Nurtanio kecewa dan bertanya hal itu untuk apa. Tidak lama kemudian ketika AURI jadi ujungtombak penumpasan [[PRRI]]/[[Permesta]], seluruh armada udaranya sudah diberi kamuflase.
 
== Pesawat Gelatik dan merintis Aeroindustri ==
Baris 44:
Menurut [[Ir. Hoo Kian Lam]] (pemilik pesawat terbang [[Walraven W-2 PK-KKH]] dan pernah berusaha mendirikan industri penerbangan pada masa [[Hindia-Belanda]]), yang ikut serta dalam kunjungan ke pabrik PZL di [[Warsawa]], Nurtanio yang memimpin delegasi menerbangkan sendiri pesawat Wilga hingga sangat mengesankan bagi pejabat-pejabat Polandia.
 
Namun ketika usulan R.J Salatun berdasarkan pengalamannya pada tahun 1958 ketika ditawari Perdana Menteri [[RRC]], [[Chou-en Lai]] untuk memproduksi pesawat jet Type 56 (lisensi [[MiG-17]] versi China), Nurtanio berkata bahwa untuk proyek Gelatik yang begitu membumi saja dukungan dana dan pembiayaannya sudah tersendat-sendat. Ketika proyek Wilga/Gelatik berjalan, Nurtanio mengeluhkan kondisi sosial ekonomi para karyawannya yang membuat kaget orang Polandia. Sampai satu kali mereka perhatikan, kenapa semua karyawan meninggalkan pekerjaannya. Ternyata sedang mengantri minyak tanah.
 
Namun sejarah mencatat, bahwa SDM yang dididik di perakitan pesawat Gelatik berperan besar saat Lapip menjadi Lipnur (Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio) yang merupakan modal dasar IPTN pada tahap permulaan. Pada dasawarsa 70-an, Marsekal TNI (purn) [[Ashadi Tjahjadi]] ( mantan Kepala Staff Angkatan Udara/KSAU) melihat ''jig'' (cetakan untuk produksi) pesawat Gelatik yang diterlantarkan di udara terbuka di halaman Lipnur. Ashadi berniat memanfaatkan lagi untuk suatu usaha bagi para purnawirawan AURI (TNI-AU) berupa major overhaul pesawat -pesawat Gelatik. Alangkah mengecewakan ketika gagasan itu ditolak oleh [[B.J. Habibie]] dengan alasan itu termasuk aset perusahaan.
Baris 50:
Selain kegiatannya di LAPIP, Nurtanio bersama staf dan penerbang AURI juga aktif dalam memantau kesiapan teknis armada-armada udara yang dimiliki AURI saat itu. Diantaranya adalah kelemahan pada pesawat tempur [[MiG-19 Farmer]] versi awal yang dioperasikan AURI yang selalu memberikan indikasi adanya kesalahan saat digunakan meski pesawat ini memberikan keselamatan dan keamanan dengan penggunaan mesin ganda. Setelah terjadi pembicaraan antara R.J Salatun, Nurtanio dan [[Leo Wattimena]] (salah seorang penerbang legendaris AURI selain [[Rusmin Nuryadin]]), kesalahan itu terletak pada tongkat kemudinya (''stick force'') yang selalu berubah-ubah (tidak stabil). Sebenarnya KSAU Suryadarma menolak menerima pesawat itu namun Deputi KSAU [[Uni Soviet]] Marsekal Rudenko dalam perundingan di [[Kremlin]] dimana R.J Salatun ikut hadir, mengancam bahwa dua skadron (sekitar 24 pesawat) pesawat tempur [[MiG-21 Fishbed]] tidak dapat diberikan kecuali Indonesia mau menerima 10 pesawat tempur MiG-19 Farmer. Pesawat MiG-19 ini kemudian pada awal [[orde baru]] dijual ke [[Pakistan]].
 
Tahun 1964, AURI menjalin kerjasama dengan [[Insitut Teknologi Bandung]] dan [[Pindad]] untuk mengembangkan roket di bawah proyek "PRIMA" (Proyek Pengembangan Roket Ilmiah dan Militer Awal) yang dipimpin Budiardjo dan R.J Salatun. Hasil kongkritnya adalah terciptanya [[Roket Ilmiah Kartika I]] yang merupakan roket sounding kedua di negara [[Asia]]-[[Afrika]] saat itu, sesudah [[Jepang]]. Alat [[telemetri]]nya yang kedua sesudah [[India]], berhasil merekam sinyal-sinyal dari satelit cuaca [[TIROS]] dengan alat buatan dalam negeri. Pada waktu roket Kartika sedang didesain, para sarjana dan teknisi LAPIP ikut dikerahkan.
 
Sekitar pertengahan tahun 1965, didirikan KOPELAPIP yang bertujuan membuat pesawat [[Fokker]] [[F -27]]. Pilihan atas F -27 dapat dimengerti, karena pasarnya besar meskipun pabrik Fokker rupa -rupanya menganggap bahwa pesawat itu sudah melewati puncak produksinya sehingga yakin akan mengalami penurunan. F-27 secara operasional merupakan pesawat yang handal, meskipun jika diperhatikan dari teknik produksi bagi industri penerbangan pemula semacam KOPELAPIP di Indonesia pada masa itu sangat terlalu maju yakni teknik pembuatannya tidak pakai paku keling tetapi dengan merekatkan lempengan-lempengan aluminium (''[[metal bonding]]'').
Baris 60:
Akibat meletusnya [[G-30S/PKI]] dan pergantian pemerintahan, maka KOPELAPIP mengalami kegagalan. Bahkan kemudian hal itu membawa keuntungan bagi pabrik Fokker, larisnya [[pesawat]] [[turboprop]] Fokker F-27 yakni timbulnya krisis energi terutama minyak bumi akibat konflik di [[Timur Tengah]] karena pecahnya [[Perang Enam Hari]] dan [[Perang Yom Kippur]], yang membuat pasaran pesawat turboprop yang dikenal hemat bahan bakar melonjak disamping munculnya seorang salesman berbangsa Inggris yang ulung telah mendongkrak pemasaran pesawat F -27 hingga menjadi paling laris diantara produk-produk Fokker.
 
== Akhir pengabdiannya ==
 
Nurtanio tetaplah seorang Nurtanio, dari seorang aero-modeller hingga menjadi pejabat resmi yang memimpin LAPIP. Pekerja keras, tidak banyak omong (bombastis), rendah hati, sopan santun, serta bekerja dengan serba apa adanya dengan biaya rendah (''low cost''). Pesawat-pesawat yang diciptakannya memanfaatkan komponen dan suku cadang yang ditemukan di berbagai gudang yang tak terpakai. Gaya pendekatan yang serba rasional, tidak muluk-muluk dan sangat membumi, sesuai dengan kondisi Indonesia yang sejak awal kemerdekaan dianggap praktis tidak pernah ideal hingga sulit menciptakan kontinuitas dan konsistenitas. Tetapi gaya Nurtanio yang realistis juga, yang menyebabkan dirinya kurang dihargai karena dianggap tidak bisa mengikuti arus ''megalomania''.
 
Nurtanio banyak pengalaman, baik sebagai penerbang maupun pejabat yang bertanggung jawab atas
Baris 75:
Nurtario gugur pada suatu kecelakaan pesawat terbang pada tanggal [[21 Maret 1966]], ketika menerbangkan pesawat Aero 45 atau Arev yang sebenarnya buatan [[Cekoslowakia]], yang telah dimodifikasi dengan memberi tangki bahan bakar ekstra. Pesawat ini sebenarnya akan digunakan untuk penerbangan keliling dunia, dan Nurtanio mengalami kecelakaan saat kerusakan mesin, dia berusaha untuk mendarat darurat di lapangan [[Tegallega]] Bandung namun gagal karena pesawatnya menabrak toko.
 
Namun sejarah kemudian mencatat bagaimana setelah gugur Nurtanio tertimpa aib. LIPNUR diubah menjadi
IPTN. Nama Nurtanio dihapus. Alasan menghapus nama Nurtanio yang disampaikan secara resmi, sangat
sepele. Tuduhannya, adanya surat pribadi dengan kop perusahaan sehingga keluarga Nurtanio difitnah akan
Baris 86:
 
{{DEFAULTSORT:Pringgoadisuryo, Nurtanio}}
 
 
[[Kategori:Penerbang Indonesia]]