Reformasi Katolik: Perbedaan revisi

5.831 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
[[File:Council Trent.jpg|frame|Penggambaran salah satu sesi [[Konsili Trento]].]]
 
[[Paus Paulus III]] (1534–1549) dianggap sebagai paus Kontra-Reformasi yang pertama,<ref name="britannica.com"/> dan ia juga memprakarsai [[Konsili Trento]] (Konsili Trente, 1545–1563), suatu komisi para kardinal yang ditugaskan untuk melakukan reformasi institusional, membahas isu-isu kontroversial seperti para uskup dan imam yang korup, penjualan [[indulgensi]], serta penyalahgunaan finansial lainnya.
 
Konsili menegakkan struktur dasar dari [[Sejarah Kekristenan selama Abad Pertengahan|Gereja Abad Pertengahan]], sistem sakramental, tarekat-tarekat religius, dan doktrinnya. Konsili menolak segala kompromi dengan pihak Protestan, menegaskan kembali prinsip-prinsip dasar dari iman Katolik. Konsili menegakkan dogma [[keselamatan (agama)|keselamatan]] yang dianugerahkan oleh [[rahmat ilahi|rahmat]] melalui [[iman dalam Kekristenan|iman]] ''dan'' [[perbuatan baik|perbuatan-perbuatan dari iman tersebut]] (bukan [[sola fide|iman semata]], sebagaimana yang ditekankan oleh pihak Protestan) karena "iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati", seperti yang termaktub dalam Yakobus 2:22-26.
Gereja Katolik berperan sebagai patron seni yang terkemuka di sebagian besar wilayah Eropa. Tujuan dari banyak hasil seni dalam era Kontra-Reformasi, khususnya di Roma dari buah karya [[Gian Lorenzo Bernini|Bernini]] dan di Flandria dari buah karya [[Peter Paul Rubens]], adalah memulihkan sentralitas dan dominansi Katolik. Hal ini merupakan salah satu penggerak dari keberadaan gaya [[Barok]] yang timbul di seluruh Eropa pada akhir abad ke-16. Di daerah mayoritas Katolik, arsitektur,<ref>{{en}} {{cite book|author=Hanno-Walter Kruft|title=History of Architectural Theory|url=https://books.google.com/books?id=OPTfVyHyVW4C&pg=PA93|date=996|publisher=Princeton Architectural Press|pages=93–107}}</ref> seni lukis,<ref>{{en}} {{cite book|author1=Helen Gardner|author2=Fred S. Kleiner|title=Gardner's Art Through the Ages: The Western Perspective|url=https://books.google.com/books?id=UK_jTggtYl8C&pg=PT192|year=2010|publisher=Cengage Learning|page=192}}</ref> dan, pada tingkat yang lebih rendah, musik, merefleksikan tujuan-tujuan dari Kontra-Reformasi.<ref>{{en}} {{cite book|author=Arnold Hauser|title=Social History of Art, Volume 2: Renaissance, Mannerism, Baroque|url=https://books.google.com/books?id=YYy0WgUXlKEC&pg=PT192%7Cyear%3D2010%7Cpublisher%3DCengage+Learning%7Cpage%3D192%7D%7D%3C%2Fref%3E%3DPA44|year=1999|publisher=Psychology Press|page=192}}</ref>
 
Konsili Trento menyatakan bahwa arsitektur, seni lukis dan pahat memiliki suatu peranan dalam menyampaikan [[teologi Katolik]]. Hasil karya apa saja yang dapat membangkitkan "keinginan daging" tidak dapat diterima di dalam gereja-gereja, sedangkan penggambaran apa saja mengenai pergumulan dan penderitaan Kristus secara eksplisit sangat diharapkan dan pantas. Dalam era ketika beberapa reformis Protestan menghancurkan gambar dan rupa orang-orang kudus serta melabur dinding-dinding, para reformis Katolik menegaskan kembali arti penting dari seni, dengan perhatian secara khusus pada gambar dan rupa Perawan Maria.<ref>{{en}} Irene Earls, ''Baroque Art: A Topical Dictionary'' (1996) pp 76-77</ref>
 
===Dekret-dekret terkait seni rupa===
 
Menurut seorang sejarawan seni rupa abad pertengahan bernama [[Émile Mâle]], hal itu merupakan "kematian seni rupa abad pertengahan",<ref>{{en}} [http://danielmitsui.tripod.com/aaaaa/deathart.html The death of Medieval Art]{{dead link|date=December 2016 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }} Extract from book by [[Émile Mâle]]</ref> namun hal itu dipandang tidak begitu berarti jika dikontraskan dengan adanya [[ikonoklasme]] di dalam beberapa kelompok Protestan dan tidak berlaku untuk lukisan-lukisan sekuler. Para pelukis dan pematung dari era Kontra Reformasi misalnya [[Tiziano Vecelli]] (Titian), [[Tintoretto]], [[Federico Barocci]], [[Scipione Pulzone]], [[El Greco]], [[Peter Paul Rubens]], [[Guido Reni]], [[Anthonie van Dyck]], [[Bernini]], [[Francisco de Zurbarán|Zurbarán]], [[Rembrandt]], dan [[Bartolomé Esteban Murillo]].
<!--
==Church music==
The demand by the Council of Trent for simplicity in music in order that the words might be heard clearly placed a serious stumbling block in the path of the development of [[polyphony]] in the mid 16th Century.
 
==Musik gereja==
The Council, in their '''''Canon on Music to be used for the Mass''''', stated:
''All things should indeed be so ordered that the masses, whether they be celebrated with or without singing, may reach tranquilly into the ears and hearts of those who hear them, when everything is executed clearly and at the correct speed. In the case of those masses which are celebrated with singing and with organ, let nothing profane be intermingled, but only hymns and divine praises. The whole plan of singing should be constituted not to give empty pleasure to the ear, but in such a way that the words be clearly understood by all. And thus the hearts of listeners be drawn to desire of heavenly harmonies in the contemplation of the joys of the Blessed. They shall also banish from church all music that contains whether in the singing or in the organ playing things that are lascivious or impure.''
 
===Reformasi sebelum Konsili Trento===
While this was worded fairly vaguely, the intent was clear. Complex [[Polyphony]] was no longer deemed acceptable by the Council.
[[Konsili Trento]] diyakini sebagai puncak dari pengaruh Kontra-Reformasi pada musik gereja di abad ke-16. Bagaimanapun, pemakluman-pemakluman konsili tersebut dalam hal musik bukan merupakan upaya pertama reformasi. Gereja Katolik telah berbicara menentang yang dirasanya sebagai penyalahgunaan musik dalam [[misa]] sebelum Konsili Trento berhimpun untuk membahas musik pada tahun 1562. Pemanipulasian [[Kredo]] ("Aku percaya"; penggunaan syahadat dalam misa) dan penggunaan lagu-lagu non liturgis dibahas pada tahun 1503, nyanyian sekular dan kejelasan verbal dalam bermazmur dibahas pada tahun 1492.<ref>{{en}} [[Karl Gustav Fellerer|K. G. Fellerer]] and [[Moses Hadas]]. "Church Music and the Council of Trent". ''[[The Musical Quarterly]]'', Vol. 39, No. 4 (1953) [https://www.jstor.org/stable/739857 in JSTOR]. p. 576.</ref> Para delegasi di konsili tersebut merupakan penghubung semata dalam rangkaian panjang klerus gereja yang telah mendorong dilakukannya reformasi liturgi musik sejak tahun 1322.<ref>{{en}} Leo P. Manzetti. "Palestrina". ''The Musical Quarterly'', Vol. 14, No. 3 (1928), [https://www.jstor.org/stable/738432 in JSTOR]. p. 330.</ref>
 
Langkah paling ekstrem dalam melakukan reformasi mungkin terjadi pada tahun 1562, ketika Egidio Foscarari (uskup Modena) dan [[Gabriele Paleotti]] (uskup agung Bologna), atas instruksi para [[legatus kepausan]], mulai mengupayakan reformasi tarekat-tarekat religius dan praktik-praktik mereka terkait liturgi.<ref>{{en}} Craig A. Monson. "The Council of Trent Revisited." Journal of the American Musicological Society, Vol. 55, No. 1 (2002), [https://www.jstor.org/stable/831778 in JSTOR] p 20.</ref> Pembaruan-pembaruan yang ditetapkan pada [[klausura|klausura-klausura]] para biarawati, yang meliputi diharamkannya penggunaan organ,{{clarification needed|reason=In Monson's other book (https://books.google.com/books?id=w0hIaY9TiQoC p. 32-33), it seems that Paleotti forbade any instrument other than the organ.}} larangan keterlibatan musisi profesional, dan tidak diperbolehkannya [[polifoni|bernyanyi polifonik]], dianggap jauh lebih ketat daripada semua keputusan yang dihasilkan Konsili Trento dan bahkan daripada yang dapat ditemukan dalam kisah legendaris [[Giovanni Pierluigi da Palestrina]].<ref>Monson, p. 21.</ref>
 
Stimulasi seruan untuk melakukan pembaruan dari banyak tokoh gerejani merupakan teknik penggubahan yang populer pada abad ke-15 dan ke-16 dengan menggunakan materi musik dan bahkan teks-teks yang menyertainya dari gubahan-gubahan lain seperti [[motet]], [[madrigal]], dan ''[[chanson]]''. Sejumlah suara yang menyanyikan teks-teks berbeda dalam berbagai bahasa meyebabkan teks sulit untuk dibedakan di antara campuran kata-kata dan catatan-catatan. [[Misa parodi]] kelak mengandung kumpulan melodi (umumnya baris tenor) serta kata dari lagu-lagu yang mungkin mengenai subjek-subjek sensual, dan seringkali demikian.<ref>Manzetti. 330.</ref> Liturgi musik gereja menjadi semakin terpengaruh oleh nada dan gaya sekuler. Konsili Paris, yang berhimpun pada 1528, dan juga Konsili Trento, berupaya memulihkan perasaan akan kesakralan dalam aransemen gerejani dan apa yang sesuai untuk misa. Konsili-konsili tersebut semata-mata menanggapi isu-isu pada zaman itu.<ref>Fellerer and Hadas. 580–581.</ref>
 
===Reformasi yang dihasilkan sesi ke-22===
Konsili Trento berhimpun secara sporadis sejak tanggal 13 Desember 1545 sampai dengan 4 Desember 1563 untuk melakukan pembaruan banyak aspek dalam Gereja Katolik. Sesi ke-22 dari konsili tersebut, yang bertemu pada tahun 1562, membahas musik gereja pada Kanon 8 dalam bagian "Penyalahgunaan-Penyalahgunaan dalam Kurban Misa", hasil dari pertemuan konsili pada tanggal 10 September 1562.<ref>Fellerer and Hadas, 576.</ref>
 
Kanon 8 menyatakan bahwa, "Karena misteri-misteri suci semestinya dirayakan dengan rasa hormat sepenuhnya, dengan perasaan terdalam yang terarah kepada Allah semata maupun dengan penyembahan lahiriah yang benar-benar sesuai dan pantas, sehingga orang-orang lain dapat dipenuhi dengan hormat bakti dan merasa terpanggil untuk beribadah: ... Semuanya seharusnya diatur sehingga Misa, entah dirayakan tanpa ataupun dengan nyanyian, dengan segala sesuatunya dilakukan secara jelas dan lekas, dapat sampai ke telinga para pendengar dan menembus hati mereka dalam kesenyapan. Dalam Misa yang lazim menggunakan organ dan musik berbirama, tidaklah seharusnya hal-hal profan bercampur baur di dalamnya, selain himne-himne dan pujian-pujian ilahi. Jika sesuatu dari ibadah ilahi dinyanyikan dengan organ selagi ibadah berlangsung, hendaknya itu dilantunkan dengan suara yang sederhana dan jernih, demi menghindari ketidakkentaraan pengucapan kata-kata suci. Tetapi keseluruhan cara bernyanyi dalam tangga-tangga nada musikal seharusnya diperhitungkan agar tidak memberikan kesenangan sia-sia pada telinga, sehingga kata-katanya dapat dipahami oleh semua orang. Dengan demikian, hati para pendengar dapat diangkat ke gairah akan harmoni-harmoni surgawi dan kontemplasi sukacita orang-orang yang terberkati."<ref>Monson. 9.</ref>
 
Kanon 8 kerap disitir sebagai dekret Konsili Trento mengenai musik gereja, namun terdapat suatu kesalahpahaman yang mencolok: kanon 8 hanya merupakan sebuah dekret yang diusulkan. Pada kenyataannya, delegasi-delegasi di Konsili Trento tidak pernah secara resmi menerima kanon 8 dalam wujudnya yang populer itu, tetapi uskup-uskup dari Granada, Coimbra, dan Segovia mendesak agar pernyataan panjang tentang musik tersebut dikurangi dan banyak [[prelat]] lainnya dalam Konsili yang mendukung dengan antusias.<ref>Monson. 10–11.</ref> Batasan-batasan yang ditetapkan pada sesi ke-22 sebatas menjauhkan unsur-unsur sekuler dari musik gereja, menyebabkan polifoni secara implisit diperbolehkan.<ref>Monson. 12.</ref> Isu kejelasan tekstual tampak dalam pembahasan-pembahasan awal dan baru tercantum dalam keputusan-keputusan final sesi ke-22.<ref>Monson. 22.</ref> Sesi ke-22 hanya melarang hal-hal "yang membangkitkan nafsu" dan "profan" bercampur baur dengan musik, namun Paleotti, dalam keputusan-keputusan yang dibuatnya, mengangkat isu-isu kejelasan tekstual dengan tingkat kepentingan yang setara.<ref>Monson. 24.</ref>
 
Gagasan bahwa Konsili Trento berhimpun untuk menyingkirkan segala bentuk polifoni dari Gereja Katolik telah tersebar luas, namun tidak terdapat bukti dokumenter untuk mendukung klaim tersebut. Bagaimanapun, mungkin saja beberapa bapa konsili pernah mengusulkan tindakan demikian.<ref>Manzetti. 331.</ref> [[Ferdinand I, Kaisar Romawi Suci]], mendapat kredit sebagai "penyelamat musik gereja" karena ia mengatakan bahwa polifoni seharusnya tidak dihalau keluar dari Gereja. Dikatakan bahwa Ferdinand kemungkinan besar seorang alarmis dan ia melihat adanya kemungkinan polifoni dilarang sepenuhnya melalui Konsili Trento.<ref>Monson. 16.</ref> Konsili Trento tidak berfokus pada gaya musik, tetapi pada sikap-sikap dalam ibadah dan penghormatan selama misa.<ref>Fellerer and Hadas. 576.</ref>
<!--
==Church music==
[[Giovanni Pierluigi da Palestrina|Palestrina]]'s musical mastery and his skill at word setting greatly affected the outcome of this difficult situation, by composing a six part polyphonic mass, called the [[Pope Marcellus Mass]], of 1555, to prove that [[Counterpoint]], that polyphony is indeed compatible with the doctrines of the Counter-Reformation. The Counter-Reformation, in looking at Palestrina's mass, says: 'Yes, all the words are clear, Polyphony is Okay after all' and Palestrina is hailed as the savior of Church Music.
While this may or may not be entirely accurate, Palestrina's music will become the model for the next generations of Catholic composers, and is still held as an ideal for polyphonic clarity.
14.576

suntingan