Rokok Klembak: Perbedaan revisi

259 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
k
tidak ada ringkasan suntingan
k
'''Rokok Klembak Menyan''', atau dikenal juga dengan nama ‘rokok siong’ adalah rokok yang terbuat dari daun [[tembakau]], akar [[klembak]] dan menyan yang dilinting atau digulung dengan kertas papier. Rokok ini populer di kalangan [[petani]] dan [[buruh]] di sekitar pesisir selatan [[Jawa Tengah]], yang membentang dari [[Cilacap]], [[Banyumas]], [[Purwokerto (kota)|Purwokerto]], [[Purbalingga]], [[Sumpiuh, Banyumas|Sumpiuh]], [[Tambak, Banyumas|Tambak]], [[Gombong, Kebumen|Gombong]], [[Karanganyar, Kebumen|Karanganyar]], [[Kebumen]] sampai daerah [[Purworejo]]. Rokok ini populer karena harga yang relatif murah dan terjangkau untuk kalangan bawah. Selain itu diyakini oleh sebagian orang dapat digunakan sebagai obat mengatasi sembelit. Saat ini, kondisi penjualan rokok jenis ini sudah stagnan dan cenderung menurun, karena hanya orang-orang yang sudah tua dan sepuh yang menghisap rokok ini. Orang-orang yang lebih muda lebih suka menghisap rokok putih dan rokok kretek yang lebih populer, sedangkan rokok klembak lebih banyak digunakan sebagai rokok sesaji untuk keperluan sesaji dalam upacara pengiriman doa seperti [[selamatan]] maupun perayaan hari besar seperti [[sedekah bumi]] maupun [[sedekah laut]] di daerah pedesaan.
 
=Sejarah=
 
==Sejarah Rokok Klembak di kota Gombong==
Sejak tahun 1950-an, di kota Gombong muncul produksi dengan merk '''Sintren''', '''Bangjo''' dan '''Togog''' yang dirintis oleh pasangan suami istri '''The Tjoan''' (Agus Subianto) dan '''Tjo Goe Nio''' (Setiawati). Pada waktu itu, pemasarannya bukan hanya sebatas di sepanjang pesisir selatan pulau Jawa namun merambah sampai ke pulau Sumatera, khususnya propinsi [[Jambi]]. Produk ini dijual dengan kemasan isi 6 batang dan 10 batang per bungkusnya. Produksinya amat disukai oleh penggemar rokok klembak menyan pada saat itu. Bahkan dalam perkembangannya perusahaan ini sempat menyerap hampir 1000 orang pekerja. Pelanggan rokok merk Sintren berada di kota Kebumen, [[Kroya]], Purwokerto dan Gombong. Untuk pemasaran rokok merk Togog meliputi wilayah Jawa Tengah bagian tengah seperti : Purbalingga, [[Magelang]] hingga [[Wonosobo]]. Sedangkan merk Bangjo dipasarkan di Purwokerto, [[Sidareja, Cilacap|Sidareja]], [[Majenang, Cilacap|Majenang]] dan [[Ajibarang, Banyumas|Ajibarang]]. Untuk pelanggan di wilayah luar pulau Jawa masih tetap berada di propinsi Jambi.<ref name=":0">[http://www.selarasindo.com/?p=2385 Gombong pertahankan rokok siong]</ref>
 
=Skala dan Manfaat Ekonomi=
Meski mendapata tantangan dan diterjang berbagai jenis rokok baru dengan kemasan lebih modern, namun rokok siong ini masih bertahan meski dengan tingkat produksi sudah tidak seperti dulu lagi. Sebagai contoh perusahaan rokok Sintren menyerap hampir sekitar 150 pekerja. Rata-rata pekerja sudah berusia lanjut dengan kisaran umur antara 65-85 tahun. Jika memasuki ruang produksi rokok Sintren ini seperti kita mengunjungi Panti Jompo. Walau berusia lanjut, mereka nampak bersemangat. Bekerja sebagai tukang linting rokok ini sudah dijalankan puluhan tahun seusia berdirinya pabrik.<ref name=":0" />
 
Soal penghasilan, bekerja dengan sistem borongan. Untuk bekerja setengah hari mereka bisa melinting sekitar 800 batang. Yang jika dirata-rata bisa mendapatkan sekitar 16 ribu sampai 20 ribu rupiah tergantung banyaknya rokok yang dilinting. Karyawannya berasal dari berbagai desa di sekitar kota Gombong seperti: Jatinegara, [[Kalibeji, Sempor, Kebumen|Kalibeji]]Sidoarum[[Sidoharum, Sempor, Kebumen|Sidoharum]], [[Purbowangi, Buayan, Kebumen|Purbowangi]], [[Sempor, Kebumen|Sempor]], [[Banjareja, Kuwarasan, Kebumen|Banjareja]], [[Kuwaru, Kuwarasan, Kebumen|Kuwaru]], [[Serut, Kuwarasan, Kebumen|Serut]], dan bahkan dari wilayah lain seperti [[Kuwarasan, Kuwarasan, Kebumen|Kuwarasan]].<ref name=":0" />
 
=Pranala luar=
424

suntingan