Rokok Klembak: Perbedaan revisi

1.079 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
k
 
==Sejarah Rokok Klembak di kota Gombong==
Sejak tahun 1950-an, di kota Gombong muncul produksi dengan merk '''Sintren''', '''Bangjo''' dan '''Togog''' yang dirintis oleh pasangan suami istri '''The Tjoan''' (Agus Subianto) dan '''Tjo Goe Nio''' (Setiawati). Pada waktu itu, pemasarannya bukan hanya sebatas di sepanjang pesisir selatan pulau Jawa namun merambah sampai ke pulau Sumatera, khususnya propinsi Jambi. Produk ini dijual dengan kemasan isi 6 batang dan 10 batang per bungkusnya. Produksinya amat disukai oleh penggemar rokok klembak menyan pada saat itu. Bahkan dalam perkembangannya perusahaan ini sempat menyerap hampir 1000 orang pekerja. Pelanggan rokok merk Sintren berada di kota Kebumen, [[Kroya]], Purwokerto dan Gombong. Untuk pemasaran rokok merk Togog meliputi wilayah Jawa Tengah bagian tengah seperti : Purbalingga, [[Magelang]] hingga [[Wonosobo]]. Sedangkan merk Bangjo dipasarkan di Purwokerto, [[Sidareja, Cilacap|Sidareja]], [[Majenang, Cilacap|Majenang]] dan [[Ajibarang, Banyumas|Ajibarang]]. Untuk pelanggan di wilayah luar pulau Jawa masih tetap berada di propinsi Jambi.<ref name=":0">[http://www.selarasindo.com/?p=2385 Gombong pertahankan rokok siong]</ref>
 
=Skala dan Manfaat Ekonomi=
=Daftar Perusahaan=
Di daerah Purworejo dan sekitarnya, masih banyak industri rumahan rokok klembak menyan yang bertahan, diperkirakan jumlahnya sekitar puluhan yang berasal dari pecahan perusahaan rokok '''Poncoroso'''. DaftarBerikut daftar perusahaan rokok klembak menyan yang masih bertahan di kota Gombong, yang terdaftar pada Departemen Kementerian Perindustrian <ref>[http://www.kemenperin.go.id/direktori-perusahaan?what=&prov=&hal=359 Perusahaan yang terdaftar pada Kemenperin RI]</ref>: Rokok '''Mirasa,''' Rokok '''Nusa Harapan,''' Rokok '''Shinta''' dan Rokok '''Sintren'''
 
# Rokok '''Mirasa'''
Meski mendapata tantangan dan diterjang berbagai jenis rokok baru dengan kemasan lebih modern, namun rokok siong ini masih bertahan meski dengan tingkat produksi sudah tidak seperti dulu lagi. Sebagai contoh perusahaan rokok Sintren menyerap hampir sekitar 150 pekerja. Rata-rata pekerja sudah berusia lanjut dengan kisaran umur antara 65-85 tahun. Jika memasuki ruang produksi rokok Sintren ini seperti kita mengunjungi Panti Jompo. Walau berusia lanjut, mereka nampak bersemangat. Bekerja sebagai tukang linting rokok ini sudah dijalankan puluhan tahun seusia berdirinya pabrik.<ref name=":0" />
# Rokok '''Nusa Harapan'''
 
# Rokok '''Shinta'''
Soal penghasilan, bekerja dengan sistem borongan. Untuk bekerja setengah hari mereka bisa melinting sekitar 800 batang. Yang jika dirata-rata bisa mendapatkan sekitar 16 ribu sampai 20 ribu rupiah tergantung banyaknya rokok yang dilinting. Karyawannya berasal dari berbagai desa di sekitar kota Gombong seperti: Jatinegara, Kalibeji,  Sidoarum, Purbowangi, Sempor, Banjareja, Kuwaru, Serut, dan bahkan dari wilayah lain seperti Kuwarasan.<ref name=":0" />
# Rokok '''Sintren'''
 
=Pranala luar=
424

suntingan