Buka menu utama

Perubahan

3.941 bita ditambahkan, 11 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
'''Janggala''' adalah salah satu dari dua pecahan kerajaan yang dipimpin oleh [[Airlangga]] dari [[Wangsa Isyana]]. Kerajaan ini berdiri tahun 1042, dan berakhir sekitar tahun 1130-an. Lokasi pusat kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di wilayah [[Kabupaten Sidoarjo]], [[Jawa Timur]].
'''Janggala''', adalah salah satu dari dua kerajaan pecahan [[Kerajaan Kahuripan|Kahuripan]] pada tahun [[1049]] (satu lainnya adalah [[Kerajaan Kadiri|Kadiri]]), yang dipecah oleh [[Airlangga]] untuk dua puteranya. Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua kerajaan untuk menghindari perselisihan dua puteranya, dan ia sendiri turun tahta menjadi pertapa. Wilayah Kerajaan Janggala meliputi bagian utara Delta [[Sungai Brantas]], dan pusat kerajaannya diduga berada di daerah yang saat ini adalah Kecamatan [[Gedangan, Sidoarjo]].
 
==Pembagian Kerajaan oleh Airlangga==
Tak banyak yang diketahui peristiwa di Kerajaan Janggala, karena Kadiri-lah yang cukup dominan. Raja pertama Kerajaan Janggala adalah '''Jayanegara'''. Diganti oleh putranya: '''Wajadrawa'''. Kemudian putri mahkota Wajadrawa, '''Kirana''', menikah dengan Raja Kediri.
Pusat pemerintahan Janggala terletak di [[Kahuripan]]. Menurut prasasti Terep, kota [[Kahuripan]] didirikan oleh [[Airlangga]] tahun 1032, karena ibu kota yang lama, yaitu Watan Mas direbut seorang musuh wanita.
 
Berdasarkan prasasti Pamwatan dan ''[[Serat Calon Arang]]'', pada tahun 1042 pusat pemerintahan [[Airlangga]] sudah pindah ke [[Daha]]. Tidak diketahui dengan pasti mengapa [[Airlangga]] meninggalkan [[Kahuripan]].
Janggala kembali dipersatukan dengan Kadiri ketika Raja Kadiri [[Kameswara]] (1116-1136) menikah dengan puteri Kerajaan Janggala: Kirana. Dengan demikian, berakhirlah riwayat Kerajaan Janggala.
 
Pada tahun 1042 itu pula, [[Airlangga]] turun takhta. Putri mahkotanya yang bernama [[Sanggramawijaya Tunggadewi]] lebih dulu memilih kehidupan sebagai pertapa, sehingga timbul perebutan kekuasaan antara kedua putra [[Airlangga]] yang lain, yaitu [[Sri Samarawijaya]] dan [[Mapanji Garasakan]].
 
Akhir November 1042, [[Airlangga]] terpaksa membagi dua wilayah kerajaannya. [[Sri Samarawijaya]] mendapatkan [[Kerajaan Kadiri]] di sebelah barat yang berpusat di kota baru, yaitu [[Daha]]. Sedangkan [[Mapanji Garasakan]] mendapatkan Kerajaan Janggala di sebelah timur yang berpusat di kota lama, yaitu [[Kahuripan]].
 
==Raja-Raja Janggala==
Pembagian kerajaan sepeninggal [[Airlangga]] terkesan sia-sia, karena antara kedua putranya tetap saja terlibat perang saudara untuk saling menguasai.
 
Pada awal berdirinya, Kerajaan Janggala lebih banyak meninggalkan bukti sejarah dari pada [[Kerajaan Kadiri]]. Beberapa orang raja yang diketahui memerintah Janggala antara lain:
# [[Mapanji Garasakan]], berdasarkan prasasti Turun Hyang II (1044), prasasti Kambang Putih, dan prasasti Malenga (1052).
# [[Alanjung Ahyes]], berdasarkan prasasti Banjaran (1052).
# [[Samarotsaha]], berdasarkan prasasti Sumengka (1059).
 
==Akhir Kerajaan Janggala==
Meskipun raja Janggala yang sudah diketahui namanya hanya tiga orang saja, namun kerajaan ini mampu bertahan dalam persaingan sampai kurang lebih 90 tahun lamanya. Menurut prasasti Ngantang (1035), Kerajaan Janggala akhirnya ditaklukkan oleh [[Sri Jayabhaya]] raja [[Kadiri]], dengan semboyannya yang terkenal, yaitu ''Panjalu Jayati'', atau ''Kadiri Menang''.
 
Sejak saat itu Janggala menjadi bawahan [[Kadiri]]. Menurut ''[[Kakawin Smaradahana]]'', raja [[Kadiri]] yang bernama [[Sri Kameswara]], yang memerintah sekitar tahun 1182-1194, memiliki permaisuri seorang putri Janggala bernama '''Kirana'''.
 
==Janggala sebagai Bawahan Majapahit==
Setelah [[Kadiri]] ditaklukkan [[Singhasari]] tahun 1222, dan selanjutnya oleh [[Majapahit]] tahun 1293, secara otomatis Janggala pun ikut dikuasai.
 
Pada zaman [[Majapahit]] nama [[Kahuripan]] lebih populer dari pada Janggala, sebagaimana nama [[Daha]] lebih populer dari pada [[Kadiri]]. Meskipun demikian, pada prasasti Trailokyapuri (1486), [[Girindrawardhana]] raja [[Majapahit]] saat itu menyebut dirinya sebagai penguasa ''Wilwatikta-Janggala-Kadiri''.
 
==Janggala dalam Karya Sastra==
Adanya Kerajaan Janggala juga muncul dalam ''[[Nagarakretagama]]'' yang ditulis tahun 1365. Kemudian muncul pula dalam naskah-naskah sastra yang berkembang pada zaman kerajaan-kerajaan [[Islam]] di [[Jawa]], misalnya ''[[Babad Tanah Jawi]]'' dan ''Serat Pranitiradya''.
 
Dalam naskah-naskah tersebut, raja pertama Janggala bernama '''Lembu Amiluhur''', putra Resi Gentayu alias [[Airlangga]]. Lembu Amiluhur ini juga bergelar Jayanegara. Ia digantikan putranya yang bernama [[Panji Asmarabangun]], yang bergelar Prabu Suryawisesa.
 
[[Panji Asmarabangun]] inilah yang sangat terkenal dalam kisah-kisah Panji. Istrinya bernama Galuh Candrakirana dari [[Kediri]]. Dalam pementasan [[Ketoprak]], tokoh Panji setelah menjadi raja Janggala juga sering disebut [[Sri Kameswara]]. Hal ini jelas berlawanan dengan berita dalam [[Smaradahana]] yang menyebut [[Sri Kameswara]] adalah raja [[Kadiri]], dan Kirana adalah putri Janggala.
 
Selanjutnya, [[Panji Asmarabangun]] digantikan putranya yang bernama Kuda Laleyan, bergelar Prabu Surya Amiluhur. Baru dua tahun bertakhta, Kerajaan Janggala tenggelam oleh bencana [[banjir]]. Surya Amiluhur terpaksa pindah ke barat mendirikan [[Kerajaan Pajajaran]].
 
Tokoh Surya Amiluhur inilah yang kemudian menurunkan Jaka Sesuruh, pendiri [[Majapahit]] versi dongeng. Itulah sedikit kisah tentang Kerajaan Janggala versi babad dan serat yang kebenarannya sulit dibuktikan dengan fakta sejarah.
 
==Kepustakaan==
* [[Andjar Any]]. 1989. ''Rahasia Ramalan Jayabaya, Ranggawarsita & Sabdopalon''. Semarang: Aneka Ilmu
* ''Babad Tanah Jawi''. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi
* Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. ''Sejarah Nasional Indonesia Jilid II''. Jakarta: Balai Pustaka.
* [[Slamet Muljana]]. 1979. ''Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya''. Jakarta: Bhratara
 
{{Kerajaan di Jawa}}
1.090

suntingan