Mahabali: Perbedaan revisi

1.414 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
{{TMH Infobox
[[Berkas:033-vamana.jpg|right|240px|thumb|Lukisan Bali (duduk di singasana) dan [[Wamana]] Awatara (berkulit biru).]]
| Image = 033-vamana.jpg
'''Mahabali''' (Bali yang Agung) ([[Bahasa Sanskerta|Sanskerta]]: महावलि ; [[Malayalam]]: മഹാബലി; ''Mahāvali'') atau Raksasa '''Bali''' ([[Bahasa Sanskerta|Sanskerta]]: वलि; ''Vali'') adalah nama seorang raja [[asura]] ([[rakshasa|raksasa]]), putra [[Wirocana]], cucu [[Prahlada]]. Nama Mahabali atau Bali sering disebut dalam kitab ''[[Purana]]'' sebagai raja asura yang mengadakan perang melawan para [[dewa (Hindu)|dewa]]. Ia juga disebut sebagai asura yang mengusir para dewa dari surga, merebut kekuasaan [[Indra]] (raja para dewa), dan menguasai tiga dunia ([[bumi]], [[antariksa]], dan [[surga]]). Kekuasaannya yang besar berakhir setelah [[Wamana]] menghukumnya. Menurut kitab ''[[Purana]]'', ia merupakan seorang [[Ciranjiwin]] (makhluk berumur panjang), menghuni [[Patala]] (alam bawah tanah) bersama dengan raksasa pengikutnya.
[[Berkas:033-vamana.jpg|right|240px|thumb| Caption = Lukisan Bali (duduk di singasana) dan [[Wamana]] Awatara (berkulit biru).]]
| Nama = Mahabali
| Alias = Bali
| Devanagari = महावलि
| Ejaan_Sanskerta = Mahāvali
| Ayah = [[Wirocana]]
| Golongan = [[danawa]]
| Kitab = ''[[Purana]]''
| Profesi = Raja Danawa
| Anak = [[Banasura]]
}}
'''Mahabali''' (Bali yang Agung) ([[Bahasa {{Sanskerta|Sanskerta]]: महावलि ; |Mahāvali|[[Malayalam]]: മഹാബലി; ''Mahāvali'')}} atau Raksasa '''Bali''' ([[Bahasa {{Sanskerta|Sanskerta]]: वलि; ''|Vali'')}} adalah nama seorang raja [[asuradanawa]] (sebangsa [[asura]] atau [[rakshasa|raksasa]]) dalam [[mitologi Hindu]], putra [[Wirocana]], cucu [[Prahlada]]. Nama Mahabali atau Bali sering disebut dalam kitab ''[[Purana]]'' sebagai raja asura yang mengadakan perang melawan para [[dewa (Hindu)|dewa]]. Ia juga disebut sebagai asura yang mengusir para dewa dari surga, merebut kekuasaan [[Indra]] (raja para dewa), dan menguasai tiga dunia ([[bumi]], [[antariksa]], dan [[surga]]). Kekuasaannya yang besar berakhir setelah [[awatara]] [[Wisnu]] yang bernama [[Wamana]] menghukumnya. Menurut kitab ''[[Purana]]'', ia merupakan seorang [[Ciranjiwin]] (makhluk berumur panjang), menghuni [[Patala]] (alam bawah tanah) bersama dengan raksasa pengikutnya.<ref>{{cite web|title=Srimad Bhagavatam: Canto 8 - Chapter 21|url=http://bhagavata.org/canto8/chapter21.html}}</ref><ref>{{cite web|url=http://prabhupadabooks.com/sb/8/21/34|title=PrabhupadaBooks.com Srila Prabhupada's Original Books|publisher=}}</ref>
 
Menurut kitab ''[[Purana]]'', Mahabali memerintah dunia dengan baik. Ia dibantu oleh dua menterinyamenteri yangutamanya utamayang bernama Kumbanda dan Kupakarna. Selain itu, ia merupakan seorang pemuja Dewa [[Wisnu]] yang taat. Wisnu-lah yang menamainya Mahabali, sebab ia "berjiwa besar." (''Maha'' berarti "besar"). Namun ia mengusir para [[dewa (Hindu)|dewa]] dari [[swargaloka|surga]], sehingga Wisnu harus turun tangan untuk membawanya kembali ke jalan yang benar.
 
Mahabali memiliki seratus putra. Semuanya kuat dan menyamai dirinya dari segi kemampuan. Putranya yang tertua bernama Bana, atau [[Banasura]].
Menurut kitab ''[[Naradapurana]]'', Bali (Mahabali) memiliki angkatan perang yang besar, dengan kekuatan jutaan [[Gajah perang|gajah]], [[kereta perang|kereta]], [[kavaleri|kuda]], dan [[infanteri|prajurit]] dalam jumlah besar. Dengan angkatan perang tersebut, ia mengadakan ekspedisi untuk menaklukkan tiga dunia - [[bumi]], [[antariksa]], dan [[surga]]. Penyerbuannya ke surga telah membuat [[Indra]] dan para dewa terdesak. Akhirnya, Indra, raja para dewa mengumumkan peperangan melawan Bali. Setelah perang sengit terjadi selama seribu tahun (menurut ''[[Naradapurana]]''), para asura memperoleh kemenangan. Para dewa meninggalkan surga, lalu turun ke bumi dengan menyamar sebagai makhluk bumi.
 
== Bali dan Wamana ==
[[Berkas:Vamana1.jpg|right|240px|thumb|Wamana menginjak kepala Bali lalu mengirimnya ke [[Patala]] (alam bawah tanah).]]
[[Aditi]], ibu para [[dewa (Hindu)|dewa]], sedih melihat penderitaan anak-anaknya. Kemudian Aditi melakukan tapa, memuja Dewa [[Wisnu]]. Karena merasa berkenan dengan pemujaan yang dilakukan Aditi, Wisnu bersedia menampakkan diri di hadapannya. Aditi memohon agar Wisnu menjelma sebagai putranya untuk menyelesaikan perkara antara Bali dan para dewa. Wisnu bersedia mengabulkan permohonan Aditi, dan berjanji akan menghukum Bali dan mengembalikan kekuasaan [[Indra]]. Versi lain mengatakan bahwa Wisnu sendiri yang ingin menjelma sebagai putra Aditi, meskipun Aditi hanya memohon perlindungan, bukan memohon agar Wisnu menjelma sebagai putranya. Maka dari itu, [[awatara]] (penjelmaan) Wisnu pada zaman tersebut, terlahir sebagai putra Aditi dan [[Kasyapa]]. Anak penjelmaan Wisnu tersebut bernama [[Wamana]], berwujud [[brahmana]] [[kretinisme|katai]].
 
== Hukuman Wisnu ==
Bali menyelenggarakan suatu [[yadnya]] (upacara suci) dan mengundang seluruh [[brahmana]] ([[rohaniwan]]/[[paderi]]) di negerinya untuk menghadiri acara tersebut. Wamana turut serta dan berbaur dengan para brahmana yang telah diundang. Upacara tersebut dipimpin oleh [[Sukra]] (Sukracarya), guru para asura. Saat melihat Wamana, [[Sukra]] sadar bahwa Wisnu sendiri telah menjelma ke dunia dalam wujud brahmana katai dan turut menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Bali. Kemudian Sukracarya mengingatkan Mahabali agar tidak memenuhi permohonan Wamana, sebab petaka akan terjadi. Namun Bali tidak menghiraukan peringatan gurunya, sebab merupakan kewajibannya untuk melayani tamu undangannya sebaik mungkin, dan ia merasa sangat beruntung bila berhasil menyenangkan Wisnu yang datang pada saat itu dalam wujud brahmana katai.
[[Berkas:Vamana1.jpg|right|240px|thumb|Lukisan dari [[Nepal]], menggambarkan Wamana menginjak kepala Bali lalu mengirimnya ke [[Patala]] (alam bawah tanah).]]
Bali menyelenggarakan suatu [[yadnya]] (upacara suci) dan mengundang seluruh [[brahmana]] ([[rohaniwan]]/[[paderi]]) di negerinya untuk menghadiri acara tersebut. Wamana turut serta dan berbaur dengan para brahmana yang telah diundang. Upacara tersebut dipimpin oleh [[Sukra]] (Sukracarya), guru para asura. Saat melihat Wamana, [[Sukra]] sadar bahwa Wisnu sendiri telah menjelma ke dunia dalam wujud brahmana katai dan turut menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Bali. Kemudian Sukracaryaia mengingatkan Mahabali agar tidak memenuhi permohonan Wamana, sebab petaka akan terjadi. Namun Bali tidak menghiraukan peringatan gurunya, sebab merupakan kewajibannya untuk melayani tamu undangannya sebaik mungkin, dan ia merasa sangat beruntung bila berhasil menyenangkan Wisnu yang datang pada saat itu dalam wujud brahmana katai.
 
Bali menyambut Wamana dengan takzim dan menanyakan apa yang dapat ia lakukan untuk memuaskan tamu istimewanya tersebut. Wamana mengajukan permintaan yang sederhana, yaitu sebidang tanah seluas tiga langkah kakinya. Bali yang merasa permintaan tersebut sangat mudah, segera menjawab bahwa ia bersedia memenuhinya, kemudian ia mempersilakan Wamana melangkah untuk mengukur luas tanah yang ia minta.
Bali tidak mampu berbuat apa-apa, kecuali menyerahkan kekuasaannya di tiga dunia kepada Wisnu. Dengan demikian, ketiga dunia menjadi milik Wisnu lalu Wisnu menyerahkan kekuasaan terhadap surga kepada [[Indra]]. Sementara itu, Bali dan para raksasa pengikutnya tidak memiliki tempat tinggal lagi sejak Wamana mengambil alih wilayah kekuasaan mereka. Karena sikap Bali yang dermawan, Wisnu mengizinkannya tinggal di [[Patala]] (alam bawah tanah), dan menganugerahkan umur yang panjang kepadanya. Wisnu juga mengubah namanya dari Bali menjadi Mahabali, sebab ia berjiwa besar.
 
== AjaranAnugerah Wisnu ==
 
[[Wamana]] memberi pelajaran kepada Bali bahwa kesombongan dan keangkuhan harus ditinggalkan jika ingin mendapat kemajuan dalam hidup, dan harta melimpah seharusnya tidak diminta sebagai anugrah sebab kekayaan mudah lenyap. Kemudian Wamana berubah wujud sebagai [[Wisnu|Mahawisnu]]. Ia merasa senang dengan keteguhan hati Bali dan sikapnya yang setia terhadap janji. Maka dari itu, Wisnu menamainya Mahabali karena ia merupakan seorang ''Mahatma'' (berjiwa besar). Ia mengizinkan Mahabali pergi menuju alam spiritual untuk bergabung dengan [[Prahlada]] (kakeknya) dan para raksasa lainnya. MahawisnuWisnu juga menyatakan bahwa Mahabali boleh memerintahmenjabat seluruhsebagai dunia[[Indra]] (pemimpin para dewa) pada [[yugamanwantara]] (zaman) berikutnya.<ref>{{cite web|url=http://prabhupadabooks.com/sb/8/22/31|title=PrabhupadaBooks.com Srila Prabhupada's Original Books|publisher=}}</ref>
 
Menurut legenda Hindu, Mahabali merupakan raja yang dermawan bagi rakyatnya, dan dipuja terutama oleh [[orang Malayali]] di negara bagian [[Kerala]], [[India]]. Masa kekuasaannya diyakini sebagai zaman keemasan dan kemakmuran. Untuk menghibur rakyat yang berduka atas kemalangan rajanya, maka Mahabali diizinkan untuk kembali ke permukaan Bumi, setahun sekali, pada perayaan yang disebut [[Onam]], yang dirayakan oleh orang Malayali di seluruh dunia.<ref>{{cite web|url=http://www.onamfestival.org/king-mahabali-onam.html|title=King Mahabali and Onam,Legend of King Mahabali,Story of King Mahabali|first=Siddhartha|last=Gupta|publisher=}}</ref>
 
== Referensi ==
{{reflist}}
 
== Pranala luar ==