Tengku Sulung: Perbedaan revisi

32 bita dihapus ,  4 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
k (Robot: Perubahan kosmetika)
| birthplace = [[Lingga]], [[Kepulauan Riau]], [[Indonesia]]
}}
'''Tengku Sulung''' adalah seorang pejuang kemerdekaan yang memfokuskan perlawanannya terhadap kolonial Belanda di daerah Reteh/Sungai Batang. Tengku Sulung sendiri diperkirakan lahir di [[Lingga]], [[Kepulauan Riau]].
 
Sejak Kecil, Sulung dididik dengan ajaran [[Islam]] yang ketatkuat. Pemahamannya tentang Agamaagama Islam membuatnya tidak suka dengan [[Belanda]]. Bahkan Diadia tidak mau bekerjasama dengan Belanda dalam bentuk apapun.
Pada masa ramajaremaja, Tengku Sulung pernah pergi ke [[Kalimantan]] dan dilatih mengarungi laut. Bahkan di Kruang Kalimantan, dia pernah tertembak sehingga mengenai bagian mukannya yang membekas sampai masa tuanya. Tengku Sulung bersama seorang sahabatnya, [[Encik Montel]] menjadi pemimpin bajak laut yang tersohor dan menetap di Kalimantan. Setelah tertangkap dan kemudian diberikan pengampunan oleh Komisaris [[Du Bus De Giusignies]] Tengku Sulung diperkenankan tinggal di sepanjang Sungai Reteh dengan syarat yang diajukan bahwa ia harus melepaskan pekerjaan membajak. Hal ini memang ditaatinya sungguh-sungguh.
 
Tengku Sulung memperoleh kedudukan sebagai Panglima Besar Reteh setelah [[Sultan Muhammad]], [[Sultan Lingga]] yang berkuasa di Reteh. Waktu itu Sulung tidak mau tunduk pada [[Sultan Sulaiman]] yang diangkat oleh Belanda untuk kawasan yang sama, menggantikan Sultan Mahammad. Semula Tengku berkedudukan di Kotabaru Hulu [[Pulau Kijang]] sekitar 16 mil dari Pulau Kijang. Di Desa ini Tengku Sulung membangun Benteng yang kelak ditandai dengan adanya Desa [[Benteng, Sungai Batang, Indragiri Hilir]] di Hulu Sungai Batang. Benteng ini dibangun di kawasan seluas 2 hektare. Sekitar 3 Km dari benteng ini terdapat rumah Tengku Sulung berupa benteng kecil yang ditumbuhi pohon dedap. Dibenteng itulah pertahanan Tengku Sulung dan pasukannya dalam melawan Belanda yang datang dari pusat keresidenan di [[Tanjung Pinang]]. Tengku Sulung sangat didukung oleh pasukannya baik yang berdiam di Hilir maupun di Hulu Kotabaru.
56

suntingan