Madonna (seni rupa): Perbedaan revisi

5 bita dihapus ,  2 tahun yang lalu
Sebutan-sebutan ini adalah tanda dari semakin berkembangnya devosi dan seni rupa yang digunakan sebagai sarana devosi kepada Sang Perawan pada penghujung Abad Pertengahan. Teristimewa pada abad ke-13, seiring bertambah besarnya pengaruh dari budaya bersikap kesatria dan keningrat-ningratan terhadap syair, lagu, dan seni rupa, Madonna pun ditampilkan sebagai Ratu Surga, seringkali dalam posisi duduk di atas singgasana. Tujuan utama pembuatan citra Madonna adalah untuk mengingatkan orang akan konsep teologi yang sangat mengagung-agungkan kemurnian atau keperawanan. Hal ini juga tampak pada warna pakaian Madonna. Warna biru melambangkan kemurnian, keperawanan, dan kebangsawanan.
 
Istilah ''Madonna'' digunakan dalam seni rupa sebagai sebutan khusus bagi citra-citra Maria buatan [[Renaisans Italia|Italia pada Abad Pembaharuan]]. Dalam lingkup makna ini, istilah "Madonna", atau "Madonna dan Anak" digunakan pula sebagai sebutan bagi karyacitra-karyacitra karya seniMaria tertentu, yang sebagian besar dalam sejarah adalah buatan Italia. Sebuah "Madonna" dapat pula disebut "Sang Perawan" atau "Bunda Maria", tetapi istilah "Madonna" tidak lazim digunakan bagi karya-karya serupa yang dihasilkan oleh Gereja Timur; sebagai contoh, ''[[Teotokos dari Vladimir]]'' yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi "Bunda Maria dari Vladimir", kadang-kadang disebut pula "Madonna dari Vladimir", meskipun tidak lazim.<ref>"Madonna of Vladimir" misalnya dalam
Hans Belting, Edmund Jephcott; Edmund Jephcott (terj.) ''Likeness and Presence: A History of the Image Before the Era of Art'', University of Chicago Press, 1996, hlm. 289.</ref>
 
21.282

suntingan