Buka menu utama

Perubahan

93 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
[[Berkas:Cet-bang Majapahit.jpg|jmpl|435x435px|Meriam cetbang Majapahit yang tersimpan di ''The'' ''Metropolitan Museum'' ''of Art'' di New York, Amerika Serikat]]
Cetbang (Cet-Bang) merupakan senjata sejenis [[Meriammeriam]] yang diproduksi dan digunakan pada masa [[Majapahit|kerajaan Majapahit]] (1296–1520 M) dan kerajaan-kerajaan di [[Nusantara]] setelahnya. Berbeda dengan meriam eropa dan timur tengah pada umumnya, cetbang terbuat dari perunggu dan memiliki kamar dan tabung peluru di bagian belakang.
 
Cetbang diperkirakan masuk ke Majapahit pada saat invasi tentara [[Kubilai Khan]] dari [[Tiongkok]] di bawah pimpinan [[Ike Mese]] yang bekerjasama dengan [[Raden Wijaya]] saat menggulingkan [[Kertanagara]] pada tahun 1293. Pada prasasti Sekar disebutkan Cetbang diproduksi di Rajekwesi, Bojonegoro, sedangkan mesiu utamanya diproduksi di Swatantra Biluluk.<ref>Dr. J.L.A. Brandes, T.B.G., LII (1910)</ref>
Berbeda dengan meriam eropa dan timur tengah pada umumnya, cetbang terbuat dari perunggu dan memiliki kamar dan tabung peluru di bagian belakang.
 
Cetbang diperkirakan masuk ke Majapahit pada saat invasi tentara [[Kubilai Khan]] dari [[Tiongkok]] di bawah pimpinan [[Ike Mese]] yang bekerjasama dengan [[Raden Wijaya]] saat menggulingkan [[Kertanagara]] pada tahun 1293.
 
Pada prasasti Sekar disebutkan Cetbang diproduksi di Rajekwesi, Bojonegoro, sedangkan mesiu utamanya diproduksi di Swatantra Biluluk.<ref>Dr. J.L.A. Brandes, T.B.G., LII (1910)</ref>
 
== Penggunaan di masa Majapahit ==
 
== Penggunaan setelah masa Majapahit ==
Pada masa memudarnya kekuasaan Majapahit, banyak dari ahli meriam perunggu yang tidak puas dengan kondisi di kerajaan di Jawa yang lari ke Sumatra, Semenanjung Malaya dan kepulauan Filipina. Hal ini berakibat meluasnya penggunaan meriam Cetbang. Terutama pada kapal dagang untuk perlindungan dari bajak laut, terutama di Selat Makassar. Menurut catatan Portugis yang datang ke Malaka pada abad ke-16, telah terdapat perkampungan besar dari pedagang Jawa yang diketuai oleh seorang Kepala Kampung. Orang-orang Jawa di Malaka juga membuat meriam sendiri secara swadaya, dimana meriam pada saat itu sama bergunanya dengan layar pada kapal dagang.<ref>Furnivall, J.S. Netherlands India: A Study of Plural Economy. h.9.Cambridge University Press (2010)."when Portuguese first came to Malacca they noticed a large colony of Javanese merchants under its own headman; the Javanese even founded their own cannon, which then, and for long after, were as necessary to merchant ships as sails."</ref> Meriam Cetbang Majapahit tetap digunakan dan dilakukan improvisasi pada zaman [[Kesultanan Demak]], terutama pada [[Invasiinvasi Kerajaan Demak ke Malaka]]. Bahan baku besi untuk pembuatan meriam jawa tersebut diimpor dari daerah Khurasan di Persia utara, terkenal dengan sebutan ''wesi kurasani''.
 
Pada masa setelah Majapahit, meriam turunan cetbang di nusantara (terutama di daerah Sumatra dan Malaya) umumnya terbagi dalam dua tipe, yaitu :
 
== Lihat Pula ==
* [[Lantaka]], campuranmeriam antaraputar Lela dan Rentaka,yang digunakan secara umum di Malaysia, Indonesia, dan Filipina pada abad ke-16 dan abad selanjutnya.
 
== Sumber ==
[[Kategori:Senjata Indonesia]]
[[Kategori:Senjata Abad Pertengahan]]
[[Kategori:Meriam]]