Buka menu utama

Perubahan

1.024 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
== Sejarah ==
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Eerste electrische trein van Weltevreden naar Tandjoengpriok TMnr 10014006.jpg|thumb|left|200px|Kereta listrik pertama (1925), melayani jalur Tanjoeng Priok - Meester Cornelis]]
Wacana elektrifikasi jalur kereta api sudah didengungkan sejak 1917 oleh perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda [[Staats Spoorwegen]] (SS). Saat itu, elektrifikasi jalur kereta api diprediksi akan menguntungkan secara ekonomi. Elektrifikasi jalur kereta api kemudian dilakukan dari [[Stasiun Tanjung Priok|Tanjung Priuk]] sampai dengan [[Meester Cornelis]] ([[Stasiun Jatinegara|Jatinegara]]) dimulai pada tahun 1923. Pembangunan ini selesai pada 24 Desember 1924.<ref name=":1">{{Cite news|url=https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150928130906-269-81365/hikayat-jalur-kereta-api-listrik-di-indonesia/|title=Hikayat Jalur Kereta Api Listrik di Indonesia|newspaper=CNN Indonesia|access-date=2017-07-13}}</ref>
Staats Spoorwegen, sebagai operator kereta api milik [[Hindia Belanda|Pemerintah Kolonial Belanda]], memulai proyek elektrifikasi jalur kereta [[Tanjung Priok, Jakarta Utara|Tanjoeng Priok]] - [[Jatinegara, Jakarta Timur|Meester Cornelis (Jatinegara)]] pada tahun 1923 dan diresmikan pada 1925. Proyek elektrifikasi terus berlanjut pada lingkar Jakarta, hingga Bogor dan Bekasi. Kereta yang digunakan ialah [[lokomotif]] listrik seri 3000 buatan pabrik SLM–BBC ([[Swiss]] Locomotive & Machine works - Brown Baverie Cie), lokomotif listrik seri 3100 buatan pabrik AEG (Allgemaine Electricitat Geselischaft) [[Jerman]], lokomotif listrik seri 3200 buatan pabrik Werkspoor [[Belanda]] serta kereta listrik buatan pabrik Westinghouse dan kereta listrik buatan pabrik [[General Electric]].
 
StaatsProyek Spoorwegen,elektrifikasi sebagaiterus operatorberlanjut. keretaJalur apilingkar milikJakarta [[Hindiaselesai Belanda|Pemerintahdielektrifikasi Kolonialpada Belanda]],1 memulaiMei proyek1927 dan pada 1930, elektrifikasi jalur kereta [[Tanjung Priok,Stasiun Jakarta UtaraKota|Tanjoeng PriokJakarta]] - [[Jatinegara,Stasiun Jakarta TimurBogor|Meester Cornelis (Jatinegara)Bogor]] padasudah tahun 1923 dan diresmikan pada 1925. Proyek elektrifikasi terus berlanjut pada lingkar Jakarta, hingga Bogor danmulai Bekasidioperasikan. Kereta yang digunakan ialah [[lokomotif]] listrik seri 3000 buatan pabrik SLM–BBC ([[Swiss]] Locomotive & Machine works - Brown Baverie Cie), lokomotif listrik seri 3100 buatan pabrik AEG (Allgemaine Electricitat Geselischaft) [[Jerman]], lokomotif listrik seri 3200 buatan pabrik Werkspoor [[Belanda]] serta kereta listrik buatan pabrik Westinghouse dan kereta listrik buatan pabrik [[General Electric]].<ref name=":1" />
 
Jalur kereta yang terelektrifikasi tersebut terus digunakan dan diperluas wilayah operasionalnya sejak kemerdekaan Indonesia. Pengoperasian jalur kereta api di Indonesia dilaksanakan oleh ''Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia'' (kini sebagai PTKA).
KRL dan kereta rel diesel (KRD) dari Jepang tiba di Jakarta empat tahun kemudian, 1976. KRL-KRL ini akan menggantikan lokomotif listrik lama peninggalan Belanda yang sudah dianggap tidak layak. Tiap rangkaian KRL terdiri atas empat kereta dengan kapasitas angkut 134 penumpang per kereta.<ref name=":0" /> KRL generasi pertama ini kemudian dikenal sebagai ''[[Kereta rel listrik Rheostatik|KRL Rheostatik]]'' dan akan terus melayani masyarakat Jakarta hingga akhir pengoperasian KRL Ekonomi pada tahun 2013.
 
Pada Mei 2000, pemerintah [[Jepang]] melalui [[Badan Kerjasama Internasional Jepang|JICA]] dan Pemerintah Kota [[Tokyo]] menghibahkan [[Kereta rel listrik Toei seri 6000|72 unit]] KRL bekas yang sebelumnya dioperasikan oleh [[Biro Transportasi Metropolitan Tokyo]]. Kereta ini diresmikan pada tanggal 25 Agustus 2000 dan menjadi KRL berpendingin udara (AC) pertama di Indonesia.<ref>{{Cite news|url=https://www.kaorinusantara.or.id/newsline/37443/perjalanan-krl-seri-6000-hibah-eks-toei-setelah-15-tahun|title=Perjalanan KRL Seri 6000 Hibah eks-Toei, Setelah 15 Tahun - KAORI Nusantara|last=Fadhli|first=Faris|date=2016-01-17|newspaper=KAORI Nusantara|language=en-GB|access-date=2017-07-13}}</ref> Sejak saat itu, Indonesia rutin mendatangkan KRL bekas Jepang untuk memperkuat armada KRL di Jakarta.
Sejak tahun 2000, [[Pemerintah Indonesia]] rutin mendapatkan hibah rangkaian maupun pembelian kereta listrik dari Jepang, yang kemudian digunakan untuk menambah armada kereta listrik Jakarta.
 
Pada tahun 2008 dibentuk anak perusahaan PT KA, yakni PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ), yang fokus pada pengoperasian jalur kereta listrik di wilayah Daerah Operasional (DAOP) 1 Jabotabek, yang saat itu memiliki 37 rute kereta yang melayani wilayah Jakarta Raya. PT KCJ memulai proyek modernisasi angkutan KRL pada tahun 2011, dengan menyederhanakan rute yang ada menjadi 5 rute utama, penghapusan KRL ekspress, penerapan gerbong khusus wanita, dan mengubah nama KRL ekonomi-AC menjadi Kereta Commuter. Proyek ini dilanjutkan dengan renovasi, penataan ulang, dan sterilisasi sarana dan prasarana termasuk jalur kereta dan stasiun kereta, serta penempatan satuan keamanan pada tiap gerbong. Saat [[Stasiun Tanjung Priok]] diresmikan kembali setelah dilakukan renovasi total pada tahun 2009, jalur kereta listrik bertambah menjadi 6, walaupun belum sepenuhnya beroperasi. Pada Juli 2013, PT KCJ mulai menerapkan sistem tiket elektronik COMMET (''Commuter Electronic Ticketing'') dan perubahan sistem tarif kereta.<ref>{{cite web|url=http://www.krl.co.id/sekilas-krl.html|title=Sejarah Kereta Rel Listrik|publisher=PT KAI Commuter Jabodetabek|accessdate=20 September 2015}}</ref>
* [[Stasiun Kranji|Kranji]]
* '''[[Stasiun Bekasi|Bekasi]]'''
* [[Stasiun Bekasi Timur|Ampera]]
* [[Stasiun Tambun|Tambun]]
* [[Stasiun Cibitung|Cibitung]]
* [[Stasiun Telaga Murni|Telaga Murni]]
* '''[[Stasiun Cikarang|Cikarang]]'''
<sub>† Beberapa kereta mengakhiri dan memulai perjalanan dari stasiun ini</sub>
 
251

suntingan