Sutomo: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Perbaikan kesalahan ketik
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan aplikasi seluler
k Dikembalikan ke revisi 12138069 oleh Achmadmaulanaibr (bicara).
Baris 1:
{{taknetral}}
{{Untuk|tokoh pendiri Budi Utomo|Bung TomoSoetomo}}
{{Untuk|kelompok sekolah di Kota Medan|Perguruan Sutomo}}
{{Infobox Officeholder
|honorific-prefix =
|name = {{PAGENAME|BUNG TOMO/SUTOMO}}
|image = Bung Tomo.jpg
|imagesize =
|caption ={{negara|Hindia BelandaIndonesia}}
|office = Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia|Menteri Tenaga Kerja
|order = 10
|term_start = [[27 Agustus]] [[1964]]
|term_end = [[26 Maret]] [[1966]]
|president = [[Soekarno]]
|predecessor = [[Ahem Erningpradja]]
|successor = [[Awaluddin Djamin]]
Baris 20 ⟶ 21:
|nationality = {{negara|Indonesia}} [[Indonesia]]
|party =
|spouse = [[Sulistina]]
|children =
|residence =
Baris 34 ⟶ 35:
 
== Masa muda ==
Sutomo dilahirkan di [[Kampung Blauran]], di pusat kota [[Surabaya]]. Ayahnya bernama [[Kartawan Tjiptowidjojo]], seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat [[Pangeran Diponegoro]] yang dikebumikan di [[Malang]].
 
Ibunya berdarah campuran [[Jawa Tengah]], [[Sunda]], dan [[Suku Madura|Madura]]. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota [[Sarekat Islam]], sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit [[Singer]].
 
Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di [[MULO]], Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan [[HBS]]-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.
 
Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan [[Jepang]] pada [[1942]], peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.
 
== Pemimpin Perjuangan Pertempuran Surabaya 10 November 1945 ==
Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada [[1944]] untuk menjadi anggota [[Gerakan Rakyat Baru]] yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia menjadi salah satu Pemimpin yang menggerakkan dan membangkitkan semangat rakyat Surabaya, yang pada waktu itu Surabaya diserang habis-habisan oleh pasukan Inggris yang mendarat untuk melucutkan senjata tentara pendudukan Jepang dan membebaskan tawanan Eropa. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi.
 
Meskipun Indonesia kalah dalam Pertempuran 10 November itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia.
 
== Setelah kemerdekaan ==
Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat terjun dalam dunia politik pada tahun 1950-an, namun ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada akhir masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan [[Suharto]] yang mula-mula didukungnya, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional.
=== Keluarga ===
Sutomo menikahi [[Sulistina]] pada [[19 Juni]] [[1947]] dan dikaruniai 4 anak.
 
=== Karier ===
[[Berkas:Bung Tomo Menteri.jpg|180px|thumb|Bung Tomo menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang era [[Kabinet Burhanuddin Harahap]] pada tahun [[1955]].]]
[[Berkas:Bung Tomo PRI.jpg|180px|thumb|[[Bung Tomo]] memberikan pidato untuk [[Partai Rakyat Indonesia]] di [[Bandung]], [[September]] [[1955]].]]
Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat terjun dalam dunia politik pada tahun 1950-an, namun ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada akhir masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan [[Suharto]] yang mula-mula didukungnya, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional.
 
Padahal, berbagai jabatan kenegaraan penting pernah disandang Bung Tomo. Ia pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 di era Kabinet Perdana Menteri [[Burhanuddin Harahap]]. Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili [[Partai Rakyat Indonesia]].
 
Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan [[Orde Baru]]. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Suharto sehingga pada [[11 April]] [[1978]] ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal.
[[Berkas:BungTomo1974.jpg|180px|thumb|Bung Tomo di Jakarta pada tahun [[1974]].]]
Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan [[Orde Baru]]. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Suharto sehingga pada [[11 April]] [[1978]] ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal.
 
Ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya.
 
[[Berkas:Bung Tomo 071081.jpg|200px|thumb|[[Bung Tomo]] wafat pada [[7 Oktober]] [[1981]]. Jenazah beliau dimakamkan di TPU Ngagel, [[Surabaya]].]]
Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada [[7 Oktober]] [[1981]] ia meninggal dunia di [[Padang Arafah]], ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.