Buka menu utama

Perubahan

3.884 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
Dibuat dengan menerjemahkan halaman "Tito–Stalin Split"
 
Peran utama Tito dalam membebaskan Yugoslavia tak hanya memperkuat posisinya dalam partai dan di antara rakyat Yugoslavia, tetapi juga menyebabkan dia menjadi lebih bersikeras bahwa Yugoslavia harus mendapat kebebasan lebih untuk mengurus kepentingannya sendiri dibanding pemimpin-pemimpin [[Blok Timur]] lainnya yang memiliki hutang budi pada Soviet karena telah membebaskan mereka dari pendudukan Poros. Hal ini telah menyebabkan terjadinya gesekan-gesekan antara kedua negara bahkan sebelum Perang Dunia II berakhir. Meskipun Tito secara resmi adalah sekutu Stalin setelah Perang Dunia II, Uni Soviet telah menyiapkan sebuah jaringa mata-mata dalam partai-partai Yugoslavia sesingkat-singkatnya pada awal 1945.<ref>Richard West, ''Tito'' (1994)</ref>
 
Segera setelah Perang Dunia II, terjadi beberapa insiden bersenjata antara Yugoslavia dan [[Blok Barat]]. Setelah perang, Yugoslavia berhasil menduduki wilayah [[Istria]], [[Zadar]] dan [[Rijeka]] yang sebelumnya menjadi bagian dari Italia sejak tahun 1920-an. Langkah ini menguntungkan populasi [[Slavia]] (terutama [[Bangsa Kroasia|Kroasia]] dan [[Slovenia]]) yang ada di wilayah-wilayah tersebut. Yugoslavia juga berniat untuk menggabungkan [[Teritori Bebas Trieste|Trieste]] ke negaranya, yang ditentang oleh Sekutu Barat dan Stalin. Hal ini menyebabkan beberapa insiden bersenjata, terutama pesawat tempur Yugoslavia yang menembak jatuh pesawat angkut Amerika dan mengundang amarah baik dari Sekutu ataupun Stalin. Antara tahun 1945 sampai 1948, setidaknya empat pesawat AS ditembak jatuh.<ref>[http://www.vojska.net/eng/armed-forces/yugoslavia/airforce/victories/ Air victories of Yugoslav Air Force]</ref> Stalin menentang provokasi ini, karena ia merasa bahwa Uni Soviet tidak siap untuk menghadapi Barat dalam perang terbuka setelah kerugian-kerugian yang dialaminya dalam Perang Dunia II.
 
Selain itu, Tito secara terbuka mendukung pihak komunis dalam [[Perang Saudara Yunani]], sementara Stalin menjaga jarak setelah bersepakat dengan [[Winston Churchill|Churchill]] untuk tidak mendukung komunisme di sana dalam Perjanjian Percentages. Tito berencana untuk menyerap Albania dan Yunani dalam kerjasama dengan [[Republik Rakyat Bulgaria|Bulgaria]], yang akan memunculkan blok Eropa Timur yang kuat di luar kontrol Moskow. Stalin tidak bisa mentolerir ancaman itu.<ref>Jeronim Perovic, "The Tito–Stalin Split: A Reassessment in Light of New Evidence." </ref>
 
== Cominform Pertama ==
Namun, dunia masih melihat dua negara sebagai sekutu yang dekat. Hal ini terbukti pada pertemuan pertama dari [[Kominform|Cominform]] pada tahun 1947, di mana perwakilan Yugoslavia mengkritik tajam partai-partai Komunis nasional yang dianggap kurang serius memperjuangkan gerakan Komunis, terutama partai-partai Italia dan Perancis yang terlibat dalam politik koalisi. Mereka pada dasarnya sejalan dengan posisi Soviet. Markas Cominform bahkan didirikan di [[Beograd]]. Namun, kesamaan itu tidak tercermin dalam hubungan kedua negara.
 
== Cominform Kedua ==
Tito tidak menghadiri pertemuan kedua Cominform, takut bahwa Yugoslavia akan diserang secara terbuka. Pada 28 Juni, negara-negara anggota lainnya mengusir Yugoslavia, menyebut bahwa "elemen nasionalis" "dalam lima atau enam bulan terakhir" telah "berhasil mencapai posisi dominan dalam kepemimpinan" [[Partai Komunis Yugoslavia|PKY]]. Resolusi tersebut memperingatkan Yugoslavia bahwa mereka sedang dalam jalan kembali ke kapitalisme borjuis karena posisi nasionalis dan pikiran-pikiran merdekanya.
 
== Hasil ==
Pengusiran tersebut secara efektif membuang Yugoslavia dari asosiasi negara sosialis internasional . Setelah pengusiran, Tito ditekan orang-orang yang mendukung resolusi, menyebut diri mereka "Cominformists".<ref>Paul Garde, ''Vie et mort de la Yougoslavie'', Fayard, Paris, 2000, p. 91</ref> Banyak yang dikirim ke [[gulag]]  di Goli otok ("Pulau Buangan").<ref>Serge Métais, ''Histoire des Albanais'', Fayard, Paris 2006, p. 322</ref> Antara tahun 1948 dan 1952, Uni Soviet mendorong sekutunya untuk membangun kembali kekuatan militer mereka—terutama [[Republik Rakyat Hongaria|Hungaria]], yang akan menjadi kekuatan utama apabila terjadi perang melawan Yugoslavia.
 
Tito menggunakan keterasingannya dari Uni Soviet untuk mendapatkan bantuan AS melalui [[Rencana Marshall|Marshall Plan]], serta untuk mendirikan [[Gerakan Non-Blok]], di mana Yugoslavia berperan sebagai kekuatan utama.<ref>{{Cite book|title=Yugoslav-American economic relations since World War II|last=John R. Lampe , Russell O. Prickett, Ljubisa S. Adamovic|publisher=Duke University Press Books|year=1990|isbn=0-8223-1061-9|page=47}}</ref>
 
== Referensi ==
251

suntingan