Maharani Kōgyoku: Perbedaan antara revisi

17 bita ditambahkan ,  5 tahun yang lalu
Tidak ada alasan menghapus gelar "kaisarina". Penjelasan lebih lanjut ada di laman "pembicaraan Maharani"
Tidak ada ringkasan suntingan
(Tidak ada alasan menghapus gelar "kaisarina". Penjelasan lebih lanjut ada di laman "pembicaraan Maharani")
| title =
| image = Empress Kogyoku-Saimei.jpg
| succession = [[MaharaniKaisarina Jepang]]<br />(Kōgyoku, periode pertama)
| reign = 25 Januari 642 – 14 Juni 645
| reign-type = Memerintah
|}}
 
'''Takara''' (宝) adalah seorang putri Jepang yang memerintah dua kali sebagai [[Maharanikaisarina]], yakni pada tahun 642-645 dengan nama '''MaharaniKaisarina Kōgyoku''' (皇極天皇, ''Kōgyoku-tennō'') dan pada tahun 655-651 dengan nama '''MaharaniKaisarina Saimei''' (斉明天皇, ''Saimei-tennō''), menjadikannya [[Kaisar Jepang]] ke-35<ref>Badan Rumah Tangga Kekaisaran (''Kunaichō''): [http://www.kunaicho.go.jp/ryobo/ 皇極(こうぎょく)天皇 (35)] dan [http://www.kunaicho.go.jp/ryobo/ 齊明(さいめい)天皇 (37)]</ref> dan ke-37<ref name="kunaicho">Kunaichō: [http://www.kunaicho.go.jp/ryobo/guide/037/index.html 斉明天皇 (37)]</ref> dalam catatan resmi sejarah Jepang. Dia adalah satu dari delapan wanita yang pernah menjadi MaharaniKaisarina Jepang.
 
== Latar belakang ==
Sebelum naik ke [[Takhta Krisantemum|Tahta Krisantemum]], nama pribadinya (''imina'') adalah Takara (宝)<ref>Ponsonby-Fane, p. 8.</ref>. Putri Takara adalah cicit dari [[Kaisar Bidatsu]]<ref>Brown, p. 265.</ref>. Dia menikah dengan pamannya, [[Kaisar Jomei]], dan menjadi permaisuri sepanjang pemerintahan suaminya. Saat suami sekaligus pamannya mangkat, Takara naik tahta dengan nama MaharaniKaisarina Kōgyoku.
== Masa pemerintahan ==
Meskipun dalam catatan resmi Jepang Kōgyoku menyandang gelar ''[[Kaisar Jepang|tennō]]'', banyak sejarawan percaya bahwa gelar ini belumlah dikenal sampai masa pemerintahan Kaisar Tenmu dan MaharaniKaisarina Jitō. Sangat mungkin gelar yang dipakai saat itu adalah ''Sumeramikoto'' atau ''Amenoshita Shiroshimesu Ōkimi'' (治天下大王), yang bermakna "ratu agung yang memerintah semua yang di bawah langit." Kalau tidak, Kōgyoku mungkin disapa dengan sebutan (ヤマト大王/大君, ''Yamatoōkimi''/''Taikun'') atau "Ratu Agung Yamato".
 
=== Peristiwa Isshi ===
MaharaniKaisarina Kōgyoku memerintah selama empat tahun setelah menggantikan suami sekaligus pamannya, Kaisar Jomei. Di masa pemerintahannya, keluarga [[Klan Soga|Soga]] masih menjadi keluarga terkuat di Jepang yang mengendalikan kekaisaran dari balik layar. Namun pada tahun 645, terjadi kejadian yang disebut Peristiwa Isshi (乙巳の変, ''Isshi no Hen''). Peristiwa ini adalah upaya untuk menyingkirkan keluarga Soga dari pemerintahan dengan langkah awalnya adalah melakukan pembunuhan terhadap Soga no Iruka oleh putra Kōgyoku sendiri, Pangeran Naka-no-Ōe.<ref name=PF>{{cite book|last=Ponsonby-Fane|first=Richard|title=The Imperial House of Japan|year=1959|publisher=Ponsonby Memorial Society|location=Kyoto|pages=49–50}}</ref> Pembunuhan ini lantaran dugaan keterlibatan Soga no Iruka terhadap kematian Pangeran Yamashiro.
 
Peristiwa ini terjadi pada upacara istana pada tanggal 10 Juli 645 (kalender Jepang kuno: hari kedua belas bulan keenam). Setelah bekerja sama dengan beberapa penjaga istana, empat orang bersenjata diperintahkan membunuh Iruka. Namun karena keempat orang tersebut terlalu takut untuk melakukan perintah tersebut, Naka-no-Ōe sendiri yang maju dan melukai Iruka. Iruka tidak langsung dibunuh saat itu juga dan dia menyatakan ketidakbersalahannya dan meminta penyelidikan.
 
Naka-no-Ōe memohon di depan ibunya, sang Maharanikaisarina, terkait masalah ini. Namun ketika Kōgyoku tidak meninjau masalah itu, pada akhirnya empat penjaga membunuh Iruka. Ayah Iruka, Soga no Emishi, langsung bunuh diri dengan membakar kediamannya sesaat setelah mengetahui kematian putranya. Peristiwa ini mengakhiri pengaruh keluarga Soga yang telah berurat akar sejak sekitar tahun 530.
 
[[Berkas:irukaansatsuzu.jpg|190px|thumb|left|Penggambaran terbunuhnya Soga no Iruka dari Gulungan Tōnomine Engi, dilukis pada [[Zaman Edo]] (abad 17-19).]]
 
Kejadian ini membuat sang Maharanikaisarina merasa sangat tertekan. Masyarakat Jepang di Zaman Asuka sangat sensitif terhadap masalah "penodaan", baik secara spiritual maupun pribadi. Kematian, terlebih pembunuhan bengis yang terjadi tepat di dekat kaisar dipandang sebagai tindakan penodaan yang mungkin terburuk. Menanggapi peristiwa ini, Kōgyoku menyatakan turun tahta. Meskipun awalnya Kōgyoku hendak menyerahkan kedudukan kaisar kepada putranya, Naka-no-Ōe, tetapi Nakatomi no Kamatari, orang yang turut serta membantu Pangeran Naka-no-Ōe dalam Peristiwa Isshin, menasihati agar tahta sebaiknya diserahkan kepada kakak tiri dari Naka-no-Ōe (anak tiri Kōgyoku), Pangeran Furuhito-no-Ōe, atau kepada pamannya (sekaligus saudara Kōgyoku), Pangeran Karu<ref>Aston, William. (2005). [https://books.google.com/books?id=_oEfAAAAYAAJ&printsec=titlepage&client=firefox-a#PPA195,M1 ''Nihongi'', p. 195]-196; Brown, Delmer ''et al.'' (1979). ''Gukanshō'', p. 266; Varley, H. Paul. ''Jinnō Shōtōki''. p. 44.</ref>. Furuhito-no-Ōe menolak gagasan itu dan kemudian menggundul kepalanya untuk menjadi biksu Buddha. Pada akhirnya, tahta diserahkan kepada Pangeran Karu. Dia naik tahta sebagai Kaisar Kōtoku dan memerintah pada 645-654<ref>Titsingh, Isaac. (1834). [https://books.google.com/books?id=18oNAAAAIAAJ&pg=PP9&dq=nipon+o+dai+itsi+ran#PRA1-PA47,M1 ''Annales des empereurs du japon'', pp. 47]-48.</ref>.
 
=== MaharaniKaisarina Saimei ===
Setelah mangkatnya Kaisar Kōtoku, Takara kembali naik tahta, kali ini dengan nama '''MaharaniKaisarina Saimei''' (斉明天皇, ''Saimei-tennō''). Pangeran Naka-no-Ōe sendiri dinobatkan sebagai putra mahkota.
 
Pada tahun 660, Kerajaan [[Baekje]] di Korea hancur. Sebagai sekutu Baekje, Saimei keluar ibukota dan memimpin pasukan gabungan Jepang dan Baekje untuk berperang melawan Kerajaan [[Silla]] pada tahun 661. Namun rencana itu gagal karena Saimei mangkat di Istana Asakura, [[Kyushu]], sebelum pasukan Jepang diberangkatkan ke semenanjung Korea. Pada bulan Oktober, jenazahnya dibawa dari Pulau Kyushu melalui laut menuju Pelabuhan Naniwa-zu (sekarang [[Osaka]]). Upacara pemakaman resminya dilakukan pada awal bulan November. Sepeninggalnya, kepemimpinan Jepang diwariskan kepada putranya, Naka-no-Ōe, yang naik tahta sebagai Kaisar Tenji.
 
== Keluarga ==
[[Berkas:Silsilah Kaisar Jepang 1.png|jmpl|274x274px|Silsilah MaharaniKaisarina Kōgyoku / Saimei]]
 
=== Orangtua ===
 
== Lihat juga ==
* [[MaharaniKaisarina]]
* [[Kaisar Jepang]]
* [[MaharaniKaisarina Jepang]]
* [[Penguasa monarki]]
 
{{s-reg}}
{{s-bef|before=[[Kaisar Jomei|Jomei (Tamura)]]}}
{{s-ttl|title=[[Daftar Kaisar Jepang|MaharaniKaisarina Jepang]]:<br>Kōgyoku|years=25 Januari 642 – 14 Juni 645}}
{{s-aft|after=[[Kaisar Kōtoku|Kōtoku (Karu)]]}}
 
{{s-bef|before=[[Kaisar Kōtoku|Kōtoku (Karu)]]}}
{{s-ttl|title=[[Daftar Kaisar Jepang|MaharaniKaisarina Jepang]]:<br>Saimei|years=3 Januari 655 – 24 Juli 661}}
{{s-aft|after=[[Kaisar Tenji|Tenji (Kazuraki)]]}}
{{s-end}}