Orang Arab Indonesia: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 92:
== Tokoh dan peranan ==
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Moskee in de Arabische wijk van Semarang TMnr 60026226.jpg|thumb|250px|left|Masjid bercorak Jawa di kawasan Arab di Semarang di sekitar tahun 1930]]
Di Indonesia, sejak zaman dahulu telah banyak kaum keturunan Arab yang menjadi pejuang, ulama dan dai. Di antara para penyebar agama yang menonjol ialah [[Walisongo]], yang diduga kuat ([[Van Den Berg]], 1886) merupakan keturunan [[Hadhrami|Arab Hadramaut]] dan atau merupakan murid-murid mereka. Kaum Arab Hadramaut yang datang sekitar abad 15 dan sebelumnya mempunyai perbedaan mendasar dengan mereka yang datang pada gelombang berikutnya (abad 18 dan sesudahnya). Sebagaimana disebutkan oleh [[Van Den Berg]], kaum pendahulu ini banyak berasimilasi dengan penduduk asli, terutama dari keluarga kerajaan Hindu. Hal ini dilakukan dalam rangka mempercepat penyebaran agama Islam, sehingga keturunan mereka sudah hampir tak bisa dikenali sebagai keturunan Arab Hadramaut.
:''Lihat pula: [[Marga Arab Hadramaut]]''
Di Indonesia, sejak zaman dahulu telah banyak kaum keturunan Arab yang menjadi pejuang, ulama dan dai. Di antara para penyebar agama yang menonjol ialah [[Walisongo]], yang diduga kuat ([[Van Den Berg]], 1886) merupakan keturunan Arab Hadramaut dan atau merupakan murid-murid mereka. Kaum Arab Hadramaut yang datang sekitar abad 15 dan sebelumnya mempunyai perbedaan mendasar dengan mereka yang datang pada gelombang berikutnya (abad 18 dan sesudahnya). Sebagaimana disebutkan oleh [[Van Den Berg]], kaum pendahulu ini banyak berasimilasi dengan penduduk asli, terutama dari keluarga kerajaan Hindu. Hal ini dilakukan dalam rangka mempercepat penyebaran agama Islam, sehingga keturunan mereka sudah hampir tak bisa dikenali sebagai keturunan Arab Hadramaut.
 
Di antara marga-marga Hadramaut yang pertama-tama ke Indonesia adalah keluarga [[Basyaiban]], yaitu ''Sayyid Abdurrahman bin Abu Hafs Umar Basyaiban BaAlawi'' pada abad ke-17 Masehi.
 
Pada zaman kejayaan kesultanankerajaan-kesultanankerajaan Islam di Indonesia, beberapa keturunan Arab dirajakan oleh masyarakat setempat, antara lain di Jawa ([[Kesultanan Demak|Demak]], [[Kesultanan Cirebon|Cirebon]], dan [[Kesultanan Banten|Banten]], dan [[Kerajaan Sumedang Larang|Sumedang Larang]]), Sumatera ([[Kesultanan Peureulak|Peureulak]], [[Kesultanan Aceh|Aceh]], [[Kesultanan Siak|Siak]], [[Kesultanan Pelalawan|Pelalawan]], dan [[Kesultanan Riau-Lingga|Riau-Lingga]]), danhingga Kalimantan ([[Kesultanan Sambas|Sambas]], [[Kesultanan Pontianak|Pontianak]], [[Kerajaan Mempawah|Mempawah]], [[Kerajaan Kubu|Kubu]], [[Sabamban]], dan [[Kesultanan Pasir|Pasir]]). Selain itu, sejak lama pula banyak sekali keturunan Arab yang menjadi pedagang, dan mereka tersebar di berbagai penjuru kepulauan Indonesia.
 
Kaum Arab Hadramaut yang datang pada abad ke-18 dan sesudahnya, tidak banyak melakukan pernikahan dengan penduduk asli sebagaimana gelombang kedatangan yang sebelumnya. Mereka datang sudah membawa nama marga-marga yang terbentuk belakangan (sekitar abad 16-17). Keturunan kaum Arab Hadramaut yang datang belakangan ini, masih mudah dikenali melalui nama-nama khas marga mereka. Warga Arab-Indonesia sampai saat ini turut berperan aktif dalam bidang keagamaan Islam dan berbagai bidang kehidupan lainnya di Indonesia.<ref name=":5">{{Cite news|url=http://antimateri.com/kaum-arab-hadrami-di-indonesia-sejarah-dan-dimanika-diasporanya-2/|title=Kaum Arab Hadrami di Indonesia: Sejarah dan Dinamika Diasporanya #2|last=Saefullah|first=Hikmawan|date=2013-08-11|newspaper=antimateri.com|language=en-US|access-date=2017-04-18}}</ref>
Baris 161 ⟶ 160:
 
Pernikahan antara Putri Adjie Meter dengan seorang Arab keturunan [[Alawiyyin|Ba' Alawi]] dari Mempawah dikaruniai dua orang anak, '''Imam Mustafa''' dan '''Putri Ratna Berana'''. Putri Ratna Berana kemudian dinikahkan dengan '''Adjie Anum bin Adjie Patih Indra'''. Keturunan dari pernikahan antara Putri Ratna Berana dan Adjie Anum inilah yang nantinya akan menurunkan raja-raja di [[Kerajaan Pasir]].<ref>{{Cite web|url=http://melayuonline.com/ind/history/dig/496/kesultanan-pasir|title=Kesultanan Pasir (Sadurangas) {{!}} Melayu Online|website=melayuonline.com|access-date=2017-04-26}}</ref>
 
=== Kerajaan Sumedang Larang ===
{{main|Kerajaan Sumedang Larang}}[[Pangeran Santri]] memerintah [[Kerajaan Sumedang Larang]] dari tahun [[1530]] - [[1579]], setelah sebelumnya ia menikah dengan Ratu Pucuk Umun, keturunan raja-raja Sumedang Larang kuno yang telah memeluk [[Islam]]. [[Pangeran Santri]] adalah putra [[Pangeran Pamelekaran]] bin [[Pangeran Panjunan]] bin [[Datuk Kahfi|Syekh Datuk Kahfi]] yang masih keturunan [[Muhammad Sohib Mirbath|Sayyid Muhammad Sohib Mirbath]], [[Hadramaut]]. Setelah Pangeran Santri wafat pada tahun [[1579]], putranya yang bernama [[Prabu Geusan Ulun|Pangeran Angkawijaya]] naik takhta (berkuasa dari tahun [[1579]] - [[1601]]) dan mendeklarasikan kedaulatan [[Kerajaan Sumedang Larang]] dari [[Kesultanan Cirebon]] pasca peristiwa Harisbaya pada tahun [[1585]]. Dengan begitu, [[Prabu Geusan Ulun|Pangeran Angkawijaya]] merupakan raja pertama [[Kerajaan Sumedang Larang|Sumedang Larang]] berdaulat (dengan gelar [[Prabu Geusan Ulun]]) pasca melepaskan diri dari [[Kesultanan Cirebon]].
 
== Galeri ==