Soedharmono: Perbedaan revisi

1.357 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
 
=== Sebagai Wakil Presiden ===
==== Kontroversi pencalonan Wakil Presiden 1988 ====
Ketika sidang Umum MPR tahun 1988, banyak yang yakin Soeharto akan terpilih kembali untuk periode kelima dan terakhir sebagai presiden. Dengan begitu, Wakil Presiden menjadi posisi yang penting. Pada tahun 1988, Soeharto mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa ia ingin Sudharmono menjadi wakil presidennya. Meskipun tidak pernah menyebutkan Sudharmono, Soeharto mengatakan bahwa ia ingin Wapres-nya mempunyai dukungan dari kekuatan sosial politik yang besar.
 
Kemungkinan Sudharmono menjadi Wakil Presiden tidak disenangi banyak orang di [[ABRI]]. Meskipun Sudharmono sendiri seorang tentara dan telah mengakhiri kariernya dengan pangkat [[Letnan Jenderal]], ia telah menghabiskan sebagian besar kariernya di ''belakang meja'' bukannya memimpin pasukan. Hal ini membuat dirinya dipandang rendah oleh ABRI. Soeharto menyadari hal ini dan sebelum ABRI bisa melakukan apa saja, Panglima ABRI [[Benny Moerdani]] diganti dengan [[Try Sutrisno]]. Langkah ini menghalangi ABRI karena Moerdani lebih kuat saat tidak menyetujui presiden sementara Try akan lebih pasif.
 
Sudharmono sendiri dijagokan partai Golkar unsur sipil (jalur G) dan birokrat (jalur B). Sementara Jenderal TNI [[Try Sutrisno]] yang menjabat [[Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia]] (Pangab), dijagokan oleh Partai Golkar unsur militer (jalur A) yang dimotori [[Menkopolkam]]Pangkopkamtib LB [[Moerdani]]. Masing-masing kubu punya kepentingan dalam kancah politik nasional. Puncaknya adalah ketika Sudharmono dituduh terlibat [[Partai Komunis Indonesia]] (PKI). Tuduhan itu ditepis dengan adanya penunjukan Sudharmono untuk menjabat sebagai Wakil Presiden oleh Soeharto<ref name="profil.merdeka.com">http://profil.merdeka.com/indonesia/s/sudharmono/</ref>.
 
Pada Sidang Umum MPR 1-11 Maret 1988, kontroversi terus mewarnai nominasi Sudharmono sebagai Wakil Presiden yang baru dicalonkan pada tgl 4 Maret karena banyak Elite2 Golkar ANGKATAN 45 yang ingin bersaing menjadi Wapres . Ketua [[Partai Persatuan Pembangunan|Umum DPP [[Partai Persatuan Pembangunan]], [[Jaelani Naro|DR H Jaelani Naro]] mencalonkanSH diriDicalonkan sebagaiDPP WakilPPP Presiden.pada Kemudiantgl [[Brigadir29 Jenderal]]Februari [[Ibrahimyang Saleh]]diumumkan menginterupsioleh sidang.Ketua DiaFraksi mengucapkaPPP pidatoMPR yangDrs tidakH jelas.Darusamin Intinya,A tidakS setujudan calon wakilDidukung presidenMantan yangPimpinan sudahSementara diproses.MPR/DPR NaroHM baruHUSSEIN mundurNARO padasebagai detik-detikWakil akhirPresiden pemilihansehingga ada 2 Calon Wapres, setelahMantan dilobiPangab olehJenderal AwaloedinTNI Djamin.<ref>https://phoenixblood.wordpress.com/2007/06/25/moerdani-vs-sudharmono/</ref>Benny KemudianMoerdani [[Sarwodan Edhiemantan Wibowo]],Ketua seorangPartai jenderalABRI yang telahDicopot membantu3 SoehartoHari mendapatkanSebelum kekuasaanSI diMPR pertengahanoleh 60-anPresiden mengundurkanSoeharto, dirimasih darimenjabat MPRPangkopkamtib danmendukung [[DewanCawapres PerwakilanDR Rakyat]]HJ (DPR)NARO SH sebagai protes.
 
3 Hari sebelum Sidang Umum MPR dimulai pada tgl 27 Februari diadakan lobby oleh Pihak Ketua Umum DPP PPP DR HJ NARO SH dan HM HUSSEIN NARO menemui Ketua Umum DPP Golkar Sudharmono SH yang juga Mensesneg di Gedung Sekneg yang didampingi Ir Drs Ginanjar Kartasasmita, maksud Ketua Umum DPP PPP DR HJ NARO SH Adalah lobby supaya Ketua Umum DPP Golkar mendukung Pencalonan DR HJ NARO SH sebagai Wakil Presiden RI Periode 1989-1993,
Soeharto akhirnya turun tangan. Ia mencontohkan keputusan MPR yang dibuat pada tahun 1973 bahwa salah satu kriteria untuk Wakil Presiden adalah ia harus mampu bekerja dengan Presiden. Dengan pengunduran diri Naro, Sudharmono akhirnya terpilih sebagai Wakil Presiden.
 
Ketua Umum DPP Golkar Sudharmono SH sangat kaget dan mengatakan tidak dapat menentukan jawaban karena Dia sendiri Belum dapat dukungan jalur A dan B
 
Kemudian [[Brigadir Jenderal]] [[Ibrahim Saleh|TNI Ibrahim Saleh]] dari Fraksi ABRI MPR Menginterupsi sidang. Dia mengucapkan pidato yang tidak jelas. Intinya, tidak setuju calon wakil presiden yang sudah diproses. J Naro tidak mundur mundur sampai pada detik-detik akhir pemilihan secara Voting yang ditakuti Soeharto setelah dilobi oleh Mantan Kapolri Jend Pol Awaloedin Djamin, Kharis Suhud, Sudomo, Alamsyah, M Jusuf, Emil Salim, Surono dll
 
<ref>https://phoenixblood.wordpress.com/2007/06/25/moerdani-vs-sudharmono/</ref> Kemudian [[Sarwo Edhie Wibowo]], seorang jenderal yang telah membantu Soeharto mendapatkan kekuasaan di pertengahan 60-an mengundurkan diri dari MPR dan [[Dewan Perwakilan Rakyat]] (DPR) sebagai protes.
 
Soeharto akhirnya turun tangan. Ia mencontohkan keputusanTap MPR no 2 yang dibuat pada tahun 1973 bahwa salah satu kriteria untuk Wakil Presiden adalah ia harus mampu bekerja dengan Presiden. Dengan pengunduran diri J Naro karena Soeharto Menolak bekerja sama dg J Naro, Sudharmono akhirnya terpilihdisahkan sebagai Wakil Presiden.
 
==== Jabatan Wakil Presiden ====
Pengguna anonim