Buka menu utama

Perubahan

3 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
Pada Sidang Umum MPR Maret 1988, kontroversi terus mewarnai nominasi Sudharmono sebagai Wakil Presiden. Ketua [[Partai Persatuan Pembangunan|Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan]], [[Jaelani Naro|DR H Jaelani Naro]] SH Dicalonkan DPP PPP sebagai Wakil Presiden sehingga ada 2 Cawapres, Kemudian [[Brigadir Jenderal]] [[Ibrahim Saleh]] dari Fraksi ABRI MPR Menginterupsi sidang. Dia mengucapka pidato yang tidak jelas. Intinya, tidak setuju calon wakil presiden yang sudah diproses. J Naro baru mundur pada detik-detik akhir pemilihan, setelah dilobi oleh Mantan Kapolri Jend Pol Awaloedin Djamin.<ref>https://phoenixblood.wordpress.com/2007/06/25/moerdani-vs-sudharmono/</ref> Kemudian [[Sarwo Edhie Wibowo]], seorang jenderal yang telah membantu Soeharto mendapatkan kekuasaan di pertengahan 60-an mengundurkan diri dari MPR dan [[Dewan Perwakilan Rakyat]] (DPR) sebagai protes.
 
Soeharto akhirnya turun tangan. Ia mencontohkan Tap MPR no 2 yang dibuat pada tahun 1973 bahwa salah satu kriteria untuk Wakil Presiden adalah ia harus mampu bekerja dengan Presiden. Dengan pengunduran diri J Naro karena Soeharto Menolak bekerja sama dg J Naro, Sudharmono akhirnya terpilih sebagai Wakil Presiden.
 
==== Jabatan Wakil Presiden ====
Pengguna anonim