Buka menu utama

Perubahan

8.958 bita ditambahkan, 2 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
|relations =
[[Abu al-Ma'ali Ahmad dari Banten|Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad]] (Ayah)<br>Ratu Martakusuma (Ibu)
|children = [[Haji dari Banten|Sultan Haji]] (Abu Nashar Abdulqahar)<br>[[Pangeran Purbaya]]<br>Dan [[Ageng Tirtayasa dari Banten#Keluarga|1516 Putera Lainnya]]
|parents =
|residence =
|twitter =
}}
'''Sultan Ageng Tirtayasa''' atau '''Pangeran Surya''' (Lahir di [[Kesultanan Banten]], [[1631]] – meninggal di [[Batavia]], [[Hindia Belanda]], [[1695]] pada umur 63 - 64 tahun) adalah [[Daftar Sultan Banten|Sultan Banten]] ke-6. SultanIa Agengnaik Tirtayasatakhta adalahpada putrausia dari20 tahun menggantikan kakeknya, [[AbuAbdul al-Ma'ali AhmadMafakhir dari Banten|Sultan AbuAbdul al-Ma'ali AhmadMafakhir]] (Sultanyang Bantenwafat periodepada tanggal [[164010 Maret]]- [[16501651]]), dansetelah Ratu Martakusuma. Sejak kecilsebelumnya ia bergelardiangkat menjadi '''PangeranSultan SuryaMuda''', kemudiandengan ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadigelar ''Sultan'Pangeran MudaAdipat'''i yang bergelaratau '''Pangeran Dipati,'''. Setelahmenggantikan kakeknyaayahnya<ref>Pada meninggaltahun dunia1636 padaSyarif tanggalMekah [[10dengan Maret]]otorisasi [[1651]],Kesultanan iaUtsmaniyah diangkatmemberikan sebagaipengesahan [[Daftargelar Sultan Banten|Sultankepada Banten]]Abdul ke-6Mafakhir denganbeserta gelarsang '''Sultanputra mahkota, Abu al-Fath Abdulfattah'Ma''.ali NamaAhmad, Sultanpenggelaran Agengtersebut Tirtayasasecara berasaladministratif ketikamembagi iapembagian mendirikantugas keratonsang baruputra diMahkota dusunsebagai [[Tirtayasa,Sultan Serang|Tirtayasa]]Wakil (terletakSultan diMuda) yang membantu mengurus urusan dalam negeri Banten. Sedangkan Sultan Penuh lebih mengurus urusan luar negeri Banten.</ref> yang wafat lebih dulu pada tahun [[Kabupaten Serang1650]]).<ref>{{Cite news|url=http://www.kesultananbanten.id/sample-page/|title=SEJARAH KESULTANAN BANTEN DARI MASA KE MASA|date=2016-12-06|newspaper=Website Resmi Kesultanan Banten|language=en-US|access-date=2017-04-15}}</ref>
 
== Biografi ==
Sultan Ageng Tirtayasa adalah putra dari [[Abu al-Ma'ali Ahmad dari Banten|Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad]] (Sultan Banten periode [[1640]]-[[1650]]) dan Ratu Martakusuma. Sejak kecil ia bergelar '''Pangeran Surya''', kemudian ketika ayahnya wafat, ia diangkat menjadi ''Sultan Muda'' yang bergelar '''Pangeran Dipati'''. Setelah kakeknya meninggal dunia pada tanggal [[10 Maret]] [[1651]], ia diangkat sebagai [[Daftar Sultan Banten|Sultan Banten]] ke-6 dengan gelar '''Sultan Abu al-Fath Abdulfattah'''.
 
Nama Sultan Ageng Tirtayasa berasal ketika ia mendirikan keraton baru di dusun [[Tirtayasa, Serang|Tirtayasa]] (terletak di [[Kabupaten Serang]]).<ref>{{Cite web|url=http://untirta.ac.id/berita/232|title=SPIRIT KARAKTER DAN LEADERSHIP SULTAN AGENG TIRTAYASA|last=MAI|first=PUSDAINFO {{!}}|website=untirta.ac.id|language=en|access-date=2017-04-15}}</ref>
 
== Perjuangan ==
'''Sultan Ageng Tirtayasa''' berkuasa di [[Kesultanan Banten]] pada periode [[1651]] - [[1683]]. Ia memimpin banyak perlawanan terhadap Belanda. Masa itu, [[VOC]] menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang merugikan Kesultanan Banten. Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka. Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar.
 
Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar. Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi. Di bidang keagamaan, ia mengangkat [[Syekh Yusuf]] sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan.
 
Ketika terjadi sengketa antara kedua putranya, [[Sultan Haji]] dan [[Pangeran Purbaya]], Belanda ikut campur dengan bersekutu dengan Sultan Haji untuk menyingkirkan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh [[François Tack|Kapten Tack]] dan [[Saint-Martin]].
 
== Hubungan Diplomatik ==
Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, [[Kesultanan Banten]] aktif membina hubungan baik dan kerjasama dengan berbagai kesultanan di sekitarnya, bahkan dengan negara lain di luar [[Nusantara]]. Banten menjalin hubungan dengan [[Kesultanan Utsmaniyah|Turki]], [[Inggris]], [[Kesultanan Aceh|Aceh]], [[Kesultanan Makassar|Makassar]], [[Arab]], dan kerajaan lain.<ref name=":0">Titik Pudjiastuti, (2007), ''Perang, dagang, persahabatan: surat-surat Sultan Banten'', Yayasan Obor Indonesia, ISBN 979-461-650-8.</ref><ref name=":02">Anthony Reid, (1993), ''Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450 - 1680 jilid 2: Jaringan Perdagangan Global'', Yayasan Obor, [https://id.wikipedia.org/wiki/Istimewa:Sumber_buku?isbn=9789794613306 ISBN 978-979-461-330-6]</ref>
 
=== Banten dan Kerajaan Nusantara lain ===
Sekitar tahun [[1677]], Banten mengadakan kerjasama dengan [[Trunojoyo]] yang sedang memberontak terhadap [[Kesultanan Mataram|Mataram]]. Tidak hanya itu, Banten juga menjalin hubungan baik dengan [[Kesultanan Makassar|Makassar]], [[Bangka]], [[Kesultanan Cirebon|Cirebon]] dan [[Kerajaan Inderapura|Inderapura]].<ref>{{Cite news|url=https://profil.merdeka.com/indonesia/s/sultan-ageng-titajasa/|title=Sultan Ageng Tirtayasa - Profil {{!}} merdeka.com|newspaper=merdeka.com|language=en|access-date=2017-04-15}}</ref>
 
=== Banten dan Perancis ===
Sultan Ageng Tirtayasa berhasil menjalin hubungan dagang dan kerja sama dengan pedagang-pedagang [[Eropa]] selain [[Belanda]], seperti [[Inggris]], [[Denmark]], dan [[Perancis]].
 
Pada tahun 1671, [[Raja Perancis]] [[Louis XIV dari Perancis|Louis XIV]] mengutus [[François Caron]], pimpinan Kongsi Dagang Prancis di Asia sekaligus pemimpin armada pelayaran ke [[Nusantara]]. Setelah mendarat di pelabuhan Banten, ia diterima oleh Syahbandar Kaytsu, seorang Tionghoa muslim. Pada [[16 Juli]] [[1671]], raja didampingi oleh beberapa pembesar kerajaan mendatangi kediaman orang-orang Perancis di kawasan [[Pecinan]]. [[François Caron|Caron]] meminta izin untuk membuka kantor perwakilan di Banten. Hal itu berangkat dari pengalaman Caron yang pernah bekerja pada [[VOC]] dan berambisi membuat kongsi dagang Prancis sebesar [[VOC]]<ref>{{Cite web|url=http://historia.id/persona/jejak-orang-prancis-di-kesultanan-banten|title=Jejak Orang Prancis di Kesultanan Banten|website=historia.id|language=id|access-date=2017-04-15}}</ref>. Raja kemudian menanyakan tujuan kongsi dagang mereka, ke mana tujuan kapal-kapal mereka, barang dagangan yang diinginkan, dan jumlah uang tunai yang mereka miliki. Sesudah itu pihak Perancis berusaha menjual barang muatan mereka. Barang-barang dagangan apa saja dapat dijual, kecuali candu yang dilarang keras beredar di Banten.
 
[[François Caron|Caron]] kembali mengunjungi raja dan menghadiahkan getah damar, dua meja besar (yang dibawa dari [[Surat, India]]), dua belas pucuk senapan, dua jenis mortir, beberapa granat, dan hadiah lain.
 
[[François Caron|Caron]] dan Gubernur Banten kemudian menyetujui perjanjian yang berisi sepuluh kesepakatan mengenai pemberian kemudahan dan hak-hak khusus kepada pihak Prancis, sama dengan yang diberikan kepada pihak Inggris.<ref>{{Cite web|url=http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/295-pahlawan/921-melawan-monopoli-belanda|title=Biografi Sultan Ageng Tirtayasa - Foto, Video, Riwayat Hidup - Melawan Monopoli Belanda - Pahlawan - Biografi Tokoh Indonesia|last=TokohIndonesia.com|website=www.tokohindonesia.com|language=en-gb|access-date=2017-04-15}}</ref>
 
=== Banten dan Inggris ===
Hubungan baik antara [[Inggris]] dan [[Banten]] sudah terjalin sejak lama, salah satunya adalah ketika [[Abdul Mafakhir dari Banten|Sultan Abdul Mafakhir]] mengirimkan surat ucapan selamat pada tahun [[1602]] kepada [[Kerajaan Inggris]] atas dinobatkannya [[Charles I]] sebagai [[Raja Inggris]]. [[Abdul Mafakhir dari Banten|Sultan Abdul Mafakhir]] juga memberikan izin kepada Inggris untuk membuka kantor dagang. Bahkan, Banten menjadi pusat kegiatan dagang Inggris sampai akhir masa penerintahan Sultan Ageng Tirtayasa tahun [[1682]], karena saat itu terjadi perang saudara antara Sultan dengan putranya, [[Sultan Haji]]. Sultan Haji meminta bantuan [[Belanda]], sedangkan Sultan Ageng Tirtayasa diketahui meminta bantuan dari [[Kerajaan Inggris]] untuk melawan kekuatan anaknya itu. <ref>{{Cite web|url=http://forum.viva.co.id/indeks/threads/sejarah-islam-di-inggris-yang-terlupakan.2259581/|title=Sejarah Islam di Inggris yang Terlupakan {{!}} VivaForum|website=forum.viva.co.id|language=en-US|access-date=2017-04-15}}</ref> <ref>{{Cite web|url=http://www.bantenhits.com/babad-banten/2788|title=Sultan Ageng Tirtayasa "Curhat" ke Raja Inggris saat "Galau" Berperang dengan Anaknya - Situs Berita Banten|last=Hits|first=Banten Hits {{!}} Tangerang|website=www.bantenhits.com|language=id-id|access-date=2017-04-15}}</ref>
 
Pada 1681, [[Haji dari Banten|Sultan Haji]] mengirim surat kepada Raja [[Charles II dari Inggris|Charles II]]. Dalam suratnya, dia berminat membeli senapan sebanyak 4000 pucuk dan peluru sebanyak 5000 butir dari Inggris. Sebagai tanda persahabatan, Sultan Haji menghadiahkan permata sebanyak 1757 butir. Surat ini juga merupakan pengantar untuk dua utusan Banten bernama [[Naya Wipraya|Kiai Ngabehi Naya Wipraya]] dan [[Jaya Sedana|Kiai Ngabehi Jaya Sedana]]. Tidak lama kemudian, Sultan Ageng Tirtayasa mengirim surat kepada Raja [[Charles II dari Inggris|Charles II]] meminta bantuan berupa senjata dan mesiu untuk berperang melawan putranya yang dibantu [[VOC]].<ref>{{Cite news|url=http://merahputih.com/post/read/kilas-balik-hubungan-diplomatik-kesultanan-banten-dan-inggris|title=Kilas Balik Hubungan Diplomatik Kesultanan Banten dan Inggris|newspaper=MerahPutih|access-date=2017-04-15}}</ref><ref>{{Cite web|url=http://historia.id/agama/sejarah-islam-di-inggris-yang-terlupakan/2|title=Sejarah Islam di Inggris yang Terlupakan (halaman 2)|website=historia.id|language=id|access-date=2017-04-15}}</ref>
 
== Keluarga ==
Sultan Ageng Tirtayasa memiliki 18 orang putera<ref>{{Cite news|url=http://ranji.sarkub.com/silsilah-pangeran-jakfaruddin-tubagus-jakfaruddin-berdasarkan-ranji-silsilah-kesultanan-banten/|title=Silsilah Pangeran Jakfaruddin / Tubagus Jakfaruddin berdasarkan Ranji Silsilah Kesultanan Banten {{!}} Ranji Sarkub|date=2016-05-01|newspaper=Ranji Sarkub|language=id-ID|access-date=2017-04-15}}</ref><ref>{{Cite web|url=https://www.geni.com/people/Sultan-Agung-Tirtajasa/6000000015406977662|title=Sultan Agung Tirtajasa|website=geni_family_tree|language=en-US|access-date=2017-04-15}}</ref>:
# [[Sultan Haji|Sultan Abu Nashar Abdulqahar]]
# [[Pangeran Purbaya]]
# Tubagus Abdul
# Tubagus Rajaputra
# Tubagus Husaen
# Tubagus Ingayudadipura
# Raden Mandaraka
# Raden Saleh
# Raden Rum
# Raden Sugiri
# Raden Muhammad
# Tubagus Rajasuta
# Raden Muhsin
# Arya Abdulalim
# Tubagus Muhammad Athif
# Tubagus Wetan
# Tubagus Kulon
# Raden Mesir
 
== Kematian dan Penghargaan ==
Pada tahun [[1683]], Sultan Ageng tertangkap dan dipenjarakan di [[Batavia]]. Ia meninggal dunia dalam penjara dan dimakamkan di Komplek Pemakaman Raja-raja Banten, di sebelah utara [[Masjid Agung Banten]], [[Banten Lama]].
 
Atas jasa-jasanya pada negara, Sultan Ageng Tirtayasa diberi gelar [[pahlawan Nasional]] berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 045/TK/Tahun 1970, tanggal 1 Agustus 1970.
 
Nama Sultan Ageng Tirtayasa juga kemudian diabadikan menjadi nama salah satu perguruan tinggi negeri di [[Banten]], [[Universitas Sultan Ageng Tirtayasa]].
 
== Referensi ==
{{Reflist}}
 
== Pranala Luar ==
* {{Id}} [http://www.kesultananbanten.id Website resmi] [[Kesultanan Banten]]
* {{Id}} [http://www.tokohindonesia.com Website resmi] [[Tokoh Indonesia]]
* {{Id}} [http://www.untirta.ac.id Website resmi] [[Universitas Sultan Ageng Tirtayasa]]
{{S-start}}
{{Succession box
 
{{Pahlawan Indonesia}}
{{indo-bio-stub}}
{{DEFAULTSORT:Ageng Tirtayasa, Sultan}}
{{lifetime|1631|1683|}}
 
[[Kategori:Sultan Banten]]
128

suntingan