Buka menu utama

Perubahan

590 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
Pada tahun 60an, transportasi di Jakarta berada di titik nadir. [[Soekarno]] memerintahkan Gubernur [[Soediro|Sudiro]] untuk menghapus trem listrik karena dianggap menyebabkan kemacetan. Akhirnya pada tahun 1960, trem sepenuhnya berhenti beroperasi di Jakarta. <ref>{{Cite news|url=http://nasional.kompas.com/read/2009/03/30/10371970/merindu.trem.di.jakarta|title=Merindu Trem di Jakarta|last=Media|first=Kompas Cyber|newspaper=KOMPAS.com|language=en|access-date=2017-03-24}}</ref> Kereta listrik pun ikut dihentikan operasinya akhir 1965. Selanjutnya pada November 1966, seluruh pengangkutan kereta api jurusan [[Manggarai]] - [[Stasiun Jakarta Kota|Jakarta Kota]] dibatasi.<ref name=":0">{{Cite news|url=http://megapolitan.kompas.com/read/2016/10/03/18000051/putaran.roda.krl.bonbon.hingga.kfw|title=Putaran Roda KRL, Bonbon, hingga KfW|last=Media|first=Kompas Cyber|newspaper=KOMPAS.com|language=en|access-date=2017-03-24}}</ref> Hal ini berkaitan dengan merosot tajamnya jumlah penumpang dan kondisi umum kota Jakarta yang tidak kondusif. Biro Pusat Statistik mencatat, jumlah penumpang lokal yang dilayani PN Kereta Api (PNKA) tahun 1965 merosot 47 persen dibandingkan 1963. Tahun 1965, hanya 16.092 penumpang per hari yang memakai kereta lokal.<ref name=":0" />
 
Baru pada tahun 1972, kereta listrik mulai muncul kembali. Harian ''[[Kompas (surat kabar)|Kompas]]'' tanggal 16 Mei 1972 memberitakan bahwa PNKA memesan 10 set kereta listrik dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan Jakarta. Langkah ini untuk meningkatkan penggunaan angkutan umum dan mengurangi kemacetan yang mulai terasa saat itu.<ref name=":0" />
 
KRL dan kereta rel diesel (KRD) dari Jepang tiba di Jakarta empat tahun kemudian, 1976. KRL-KRL ini akan menggantikan lokomotif listrik lama peninggalan Belanda yang sudah dianggap tidak layak. Tiap rangkaian KRL terdiri atas empat kereta dengan kapasitas angkut 134 penumpang per kereta.<ref name=":0" /> KRL generasi pertama ini kemudian dikenal sebagai ''[[Kereta rel listrik Rheostatik|KRL Rheostatik]]'' dan akan terus melayani masyarakat Jakarta hingga akhir pengoperasian KRL Ekonomi pada tahun 2013.
 
== Rute ==
Pada awal perkenalan pola loopline di tahun 2011, KRL Jabodetabek memiliki 6 jalur dan 8 relasi. Saat ini jumlah tersebut bertambah menjadi 6 jalur dan 13 relasi yang melayani seluruh wilayah [[Jabodetabek]] dan [[Kabupaten Lebak|Lebak]].
Saat ini KA Commuter Jabodetabek memiliki 6 jalur dan 11 relasi:
{| class="wikitable" cellspacing="0" cellpadding="3" border="1"
! style="border-bottom" |Jalur
| rowspan="3" |{{rint|jakarta|yellow}} [[KA Commuter Loopline|Jatinegara-Bogor]]
|[[Stasiun Jatinegara|Jatinegara]] - Depok
|26^
|47.2&nbsp;km
|1987
|-
|Jatinegara - Bogor
|30^
|69.4&nbsp;km
|1987
|2017<ref name="Tempo">https://m.tempo.co/read/news/2016/12/19/090829016/kai-januari-2017-krl-beroperasi-sampai-rangkasbitung</ref>
|-
| rowspan="2" |{{rint|jakarta|blue}} [[KA Commuter Line Jakarta Kota–Bekasi|Jakarta - Bekasi]]
|Jakarta Kota - [[Stasiun Bekasi|Bekasi]] <small>via [[Stasiun Manggarai|Manggarai]]</small>
|15<sup>†</sup> (via MRI)<br/>14 (via PSE)
|2627.9&nbsp;4 km
|1992
|-
|Jakarta Kota - [[Stasiun Bekasi|Bekasi]] <small>via [[Stasiun Pasar Senen|Pasar Senen]]</small>
|15^
|26.5 km
|2017
|-
|{{rint|jakarta|brown}} [[KA Commuter Line Duri–Tangerang|Duri - Tangerang]]
|2015
|-
| colspan="5" |<sup>''† Tidak termasuk [[Stasiun Gambir]] (tidak melayani Commuterline)''</sup><sup>''^ Termasuk [[Stasiun Pasar Senen]]. Stasiun ini hanya melayani perjalanan ke arah utara (menuju [[Stasiun Kampung Bandan|Kampung Bandan]]). Perjalanan ke arah selatan (menuju [[Stasiun Jatinegara|Jatinegara]]) tidak berhenti di stasiun ini.''</sup>
|}
 
251

suntingan