Buka menu utama

Perubahan

4 bita ditambahkan ,  11 tahun yang lalu
k
Robot: Cosmetic changes
Seorang nyai berada dalam posisi yang tinggi secara ekonomis, tapi rendah secara moral. Secara ekonomis, mereka berada di atas rata-rata perempuan [[pribumi]] yang bukan bangsawan. Para nyai mengenakan kain [[songket]] bersulam benang emas dan perak, mengenakan tusuk konde roos, peniti intan, dan giwang yang terbuat dari berlian.
 
== Nyai dalam sastra ==
Di sejumlah karya [[sastra]] yang terbit pada masa kolonialisme, seorang nyai selalu digambarkan sebagai sosok perempuan yang suka serong, bodoh, dan suka mencuri harta tuannya. Cerita ''[[Nyai Dasima]]'' yang dikarang G. Francis misalnya. Dasima, perempuan dari Kampung Koeripan menjadi nyai Tuan Edward W. Ia sangat dicintai dan dimanjakan layaknya istri yang sah. Namun, Dasima yang rupanya elok ternyata bukan perempuan yang bisa dipercaya. Ia serong dengan Baba Samioen dari Kampung Pedjambon.
 
Cerita tentang seorang nyai diangkat juga dalam ''[[Cerita Nyai Sarikem]]'' ([[1900]]), ''[[Nyai Isah]]'' ([[1903]]), ''[[Nyai Permana]]'' ([[1912]]).
 
== Pranala luar ==
*{{id}} [http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/04/swara/2480639.htm ''Nyai yang Sejati''], Kompas
259.487

suntingan