Maharani Kōgyoku: Perbedaan antara revisi

54 bita ditambahkan ,  5 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
k (Bot: Perubahan kosmetika)
Tidak ada ringkasan suntingan
Naka-no-Ōe memohon di depan ibunya, sang kaisarina, terkait masalah ini. Namun ketika Kōgyoku tidak meninjau masalah itu, pada akhirnya empat penjaga membunuh Iruka. Ayah Iruka, Soga no Emishi, langsung bunuh diri dengan membakar kediamannya sesaat setelah mengetahui kematian putranya.
 
Kejadian ini membuat sang kaisarina merasa sangat tertekan. Masyarakat Jepang di Zaman Asuka sangat sensitif terhadap masalah "penodaan", baik secara spiritual maupun pribadi. Kematian, terlebih pembunuhan bengis yang terjadi tepat di dekat kaisar dipandang sebagai tindakan penodaan yang mungkin terburuk. Menanggapi peristiwa ini, Kōgyoku menyatakan turun tahta. Meskipun awalnya Kōgyoku hendak menyerahkan kedudukan kaisar kepada putranya, Naka-no-Ōe, tetapi Nakatomi no Kamatari, orang yang turut serta membantu Pangeran Naka-no-Ōe dalam Peristiwa Isshin, menasihati agar tahta sebaiknya diserahkan kepada kakak tiri dari Naka-no-Ōe (Sekaligus anak tiri Kōgyoku), Pangeran Furuhito-no-Ōe, atau kepada pamannya (sekaligus saudara Kōgyoku), Pangeran Karu<ref>Aston, William. (2005). [https://books.google.com/books?id=_oEfAAAAYAAJ&printsec=titlepage&client=firefox-a#PPA195,M1 ''Nihongi'', p. 195]-196; Brown, Delmer ''et al.'' (1979). ''Gukanshō'', p. 266; Varley, H. Paul. ''Jinnō Shōtōki''. p. 44.</ref>. Furuhito-no-Ōe menolak gagasan itu dan kemudian menggundul kepalanya untuk menjadi biksu Buddha. Pada akhirnya, tahta diserahkan kepada Pangeran Karu. Dia naik tahta sebagai Kaisar Kōtoku dan memerintah pada 645-654<ref>Titsingh, Isaac. (1834). [https://books.google.com/books?id=18oNAAAAIAAJ&pg=PP9&dq=nipon+o+dai+itsi+ran#PRA1-PA47,M1 ''Annales des empereurs du japon'', pp. 47]-48.</ref>.
 
=== Kaisarina Saimei ===
Setelah mangkatnya Kaisar Kōtoku, Takara kembali naik tahta, kali ini dengan nama '''Kaisarina Saimei''' (斉明天皇, ''Saimei-tennō''). Pangeran Naka-no-Ōe sendiri dinobatkan sebagai putra mahkota.
 
Pada tahun 660, Kerajaan [[Baekje]] di Korea dikalahkanhancur. Sebagai sekutu Baekje, Saimei keluar ibukota dan memimpin pasukan gabungan Jepang dan BakjaeBaekje untuk berperang melawan Kerajaan [[Silla]] pada tahun 661. Namun rencana itu gagal karena Saimei mangkat di Istana Asakura, [[Kyushu]], sebelum pasukan Jepang diberangkatkan ke semenanjung Korea. Pada bulan Oktober, jenazahnya dibawa dari Pulau Kyushu melalui laut menuju Pelabuhan Naniwa-zu (sekarang [[Osaka]]). Upacara pemakaman resminya dilakukan pada awal bulan November.
 
== Lihat juga ==
{{s-reg}}
{{s-bef|before=[[Kaisar Jomei]]}}
{{s-ttl|title=[[Daftar Kaisar Jepang|Kaisarina JapanJepang]]:<br>Kōgyoku|years=25 Januari 642 – 14 Juni 645}}
{{s-aft|after=[[Kaisar Kōtoku]]}}
 
{{s-bef|before=[[Kaisar Kōtoku]]}}
{{s-ttl|title=[[Daftar Kaisar Jepang|Kaisarina JapanJepang]]:<br>Saimei|years=3 Januari 655 - 24 Juli 661}}
{{s-aft|after=[[Kaisar Tenji]]}}
{{s-end}}