Maharani Kōgyoku: Perbedaan antara revisi

3.691 bita ditambahkan ,  5 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
|}}
 
'''Takara''' (宝) adalah seorang putri Jepang yang memerintah dua kali sebagai [[kaisarina]], yakni pada tahun 642-645 dengan nama '''Kaisarina''' '''Kōgyoku''' (皇極天皇, ''Kōgyoku-tennō'') dan pada tahun 655-651 dengan nama '''Kaisarina Saimei''' (斉明天皇, ''Saimei-tennō''), menjadikannya pemimpin ke-35 dan ke-37 dalam catatan resmi sejarah Jepang. Dia adalah satu dari delapan wanita yang pernah menjadi Kaisarina Jepang.
{{Nihongo|'''Kaisarina Kōgyoku'''|皇極天皇|Kōgyoku-[[tennō]]|594–661}}&#x20;(<span class="t_nihongo_kanji" lang="ja">皇極天皇</span><span class="t_nihongo_comma" style="display:none">,</span>&#x20;''Kōgyoku-[[tennō]]''<span class="t_nihongo_help noprint"><sup>[[Bantuan:Bahasa Jepang|<span class="t_nihongo_icon" style="color: #00e; font: bold 80% sans-serif; text-decoration: none; padding: 0 .1em;">?</span>]]</sup></span>, 594–661), juga dikenal sebagai {{Nihongo|'''Kaisarina Saimei'''|斉明天皇|Saimei-tennō}}&#x20;(<span class="t_nihongo_kanji" lang="ja">斉明天皇</span><span class="t_nihongo_comma" style="display:none">,</span>&#x20;''Saimei-tennō''<span class="t_nihongo_help noprint"><sup>[[Bantuan:Bahasa Jepang|<span class="t_nihongo_icon" style="color: #00e; font: bold 80% sans-serif; text-decoration: none; padding: 0 .1em;">?</span>]]</sup></span>), adalah Kaisar Jepang ke-35 dan ke-37 menurut tradisional [[Daftar Kaisar Jepang|urutan suksesi]].
 
== Latar belakang ==
Sebelum naik ke [[Takhta Krisantemum|Tahta Krisantemum]], nama pribadinya (''imina'') adalah Takara (宝). Putri Takara adalah cicit dari Kaisar Bidatsu. Dia menikah dengan pamannya, Kaisar Jomei, dan menjadi permaisuri sepanjang pemerintahan suaminya. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini memiliki tiga orang anak:
* Pangeran Kazuraki, Pangeran Naka-no-Ōe (葛城皇子, 中大兄皇子; ''Kazuraki-no-miko'', ''Nakanoōe-no-ōji'')
* Pangeran Ōama (大海人皇子, ''Ōama-no-ōji'')
* Putri Hashihito (間人皇女, ''Hashihito-no-ōjo'')
 
== Masa pemerintahan ==
Meskipun dalam catatan resmi Jepang Kōgyoku menyandang gelar ''[[Kaisar Jepang|tennō]]'', banyak sejarawan percaya bahwa gelar ini belumlah dikenal sampai masa pemerintahan Kaisar Tenmu dan Kaisarina Jitō. Sangat mungkin gelar yang dipakai saat itu adalah ''Sumeramikoto'' atau ''Amenoshita Shiroshimesu Ōkimi'' (治天下大王), yang bermakna "ratu agung yang memerintah semua yang di bawah langit." Kalau tidak, Kōgyoku mungkin disapa dengan sebutan (ヤマト大王/大君, ''Yamatoōkimi''/''Taikun'') atau "Ratu Agung Yamato".
 
=== Peristiwa Isshi ===
Kaisarina Kōgyoku memerintah selama empat tahun setelah menggantikan suami sekaligus pamannya, Kaisar Jomei. Di masa pemerintahannya, keluarga [[Klan Soga|Soga]] menjadi keluarga terkuat di Jepang yang mengendalikan kekaisaran dari balik layar. Namun pada tahun 645, terjadi kejadian yang disebut Peristiwa Isshi (乙巳の変, ''Isshi no Hen''). Peristiwa ini adalah upaya untuk menyingkirkan keluarga Soga dari pemerintahan dengan langkah awalnya adalah melakukan pembunuhan terhadap Soga no Iruka oleh putra Kōgyoku sendiri, Pangeran Naka-no-Ōe. Pembunuhan ini lantaran dugaan keterlibatan Soga no Iruka terhadap kematian Pangeran Yamashiro.
 
Peristiwa ini terjadi pada upacara istana pada tanggal 10 Juli 645 (kalender Jepang kuno: hari kedua belas bulan keenam). Setelah bekerja sama dengan beberapa penjaga istana, empat orang bersenjata diperintahkan membunuh Iruka. Namun karena keempat orang tersebut terlalu takut untuk melakukan perintah tersebut, Naka-no-Ōe sendiri yang maju dan melukai Iruka. Iruka tidak langsung dibunuh saat itu juga dan dia menyatakan ketidakbersalahannya dan meminta penyelidikan.
 
Naka-no-Ōe memohon di depan ibunya, sang kaisarina, terkait masalah ini. Namun ketika Kōgyoku tidak meninjau masalah itu, pada akhirnya empat penjaga membunuh Iruka. Ayah Iruka, Soga no Emishi, langsung bunuh diri dengan membakar kediamannya sesaat setelah mengetahui kematian putranya.
 
Kejadian ini membuat sang kaisarina merasa sangat tertekan. Masyarakat Jepang di Zaman Asuka sangat sensitif terhadap masalah "penodaan", baik secara spiritual maupun pribadi. Kematian, terlebih pembunuhan bengis yang terjadi tepat di dekat kaisar dipandang sebagai tindakan penodaan yang mungkin terburuk. Menanggapi peristiwa ini, Kōgyoku menyatakan turun tahta. Meskipun awalnya Kōgyoku hendak menyerahkan kedudukan kaisar kepada putranya, Naka-no-Ōe, tetapi Nakatomi no Kamatari, orang yang turut serta membantu Pangeran Naka-no-Ōe dalam Peristiwa Isshin,menasihati agar tahta sebaiknya diserahkan kepada kakak tiri dari Naka-no-Ōe, Pangeran Furuhito-no-Ōe, atau kepada pamannya (sekaligus saudara Kōgyoku), Pangeran Karu. Furuhito-no-Ōe menolak gagasan itu dan kemudian menggundul kepalanya untuk menjadi biksu Buddha. Pada akhirnya, tahta diserahkan kepada Pangeran Karu. Dia naik tahta sebagai Kaisar Kōtoku dan memerintah pada 645-654.
 
=== Kaisarina Saimei ===
Setelah mangkatnya Kaisar Kōtoku, Takara kembali naik tahta, kali ini dengan nama '''Kaisarina Saimei''' (斉明天皇, ''Saimei-tennō''). Pangeran Naka-no-Ōe sendiri dinobatkan sebagai putra mahkota.
 
Pada tahun 660, Bakjae di Korea dikalahkan. Sebagai sekutu Bakjae, Saimei keluar ibukota dan memimpin pasukan gabungan Jepang dan Bakjae untuk berperang melawan Kerajaan Silla. Namun rencana itu gagal karena Saimei mangkat di Istana Asakura, Kyushu, sebelum pasukan Jepang diberangkatkan ke semenanjung Korea. Pada bulan Oktober, jenazahnya dibawa dari Pulau Kyushu melalui laut menuju Pelabuhan Naniwa-zu (sekarang Osaka). Upacara pemakaman resminya dilakukan pada awal bulan November.
 
== Catatan ==