Buka menu utama

Perubahan

12 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
 
Terminologi Biaju tidaklah berasal dari orang Dayak Ngaju tetapi berasal dari bahasa orang Bakumpai yang secara ontologis merupakan bentuk kolokial dari '''bi''' dan '''aju''' yang artinya ”dari hulu” atau ”dari udik”. Karena itu, di wilayah aliran sungai Barito, dimana banyak orang Bakumpai, orang Dayak Ngaju
disebut dengan Biaju (lihat Schärer 1963: 1), yang artinya orang yang berdiam di dan dari bagian hulu sungai (Riwut 1958: 208). Di kemudian hari, istilah ini dipungut begitu saja oleh orang Melayu Banjar untuk menyebut semua orang pedalaman hulu sungai yang tidak beragama Islam. Istilah ini kemudian diperkenalkan kepada para pedagang dari Cina, Inggris, Portugis yang berlabuh di pelabuhan Banjarmasin. Karena itu dalam catatan pelayaran para pedagang Cina, Portugis dan Inggris dapat ditemukan kata Biaju yang merujuk pada suku di pedalaman yang bukan orang Banjar dan tidak beragama Islam (Groeneveldt 1880, Beckman 1718).<ref>[http://markomahin.blogspot.com/2013/03/biaju-ngaju-dan-dayak-ngaju-orang-dayak.html Biaju, Ngaju dan Dayak Ngaju], Marko Mahin</ref>
 
Menurut '''Afdeeling Dajaklandeen''' (Afdeling Tanah-tanah Dayak 1898-1902)<ref>{{en}} (2009){{cite web|url=http://www.indonesianhistory.info/map/borneo1902.html?zoomview=1|title=Administrative divisions in Dutch Borneo, 1902|publisher=Robert Cribb|date= |work= Digital Atlas of Indonesian History|accessdate=1 August 2011}}</ref><ref>{{en}} (2007){{cite web|url=http://www.indonesianhistory.info/map/borneosubdist1902.html?zoomview=1|title=Administrative divisions in Dutch and British Borneo, 1902|publisher=Robert Cribb|date= |work= Digital Atlas of Indonesian History|accessdate=1 August 2011}}</ref> atau '''Tanah Biaju''' (sebelum 1826) adalah bekas sebuah afdeling dalam Karesidenan Selatan dan Timur Borneo yang ditetapkan dalam Staatblad tahun 1898 no.178.
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van een getatoeëerde Ot Danum Dajak man uit het Kahajan gebied van Midden-Borneo. TMnr 60046429.jpg|thumb|200px|right|Oloh Ngaju-OtDanum bertutang dari daerah Kahayan 1898]]
Berdasarkan daerah aliran sungai, Biaju terbagi menjadi:
* [[Batang Biaju Besar|Batang Biaju Basar]] - Sungai Biaju besar
* [[Batang Biaju Kecil]] - Sungai Biaju kecil
 
* [[Suku Dayak Bakumpai]] (Kalimantan Selatan)
* [[Suku Dayak Mengkatip]] (Kalimantan Tengah)
* [[Suku Dayak Berangas]] (Kalimantan Selatan), tahun 2010 dinyatakan punah beserta bahasanya karena melebur ke dalam ''mainstream'' [[suku Banjar|orangOrang Banjar Kuala]]
* [[Suku Dayak Beraki (Bara-ki)]] (sudah punah)<ref>{{id icon}} {{cite book|url=http://books.google.co.id/books?id=sU4OAQAAMAAJ&q=DAYAK+BERAKI&dq=DAYAK+BERAKI&hl=id&ei=kiy5TZm1BsmrrAeAuuncBA&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CDoQ6AEwAA|title=Ensiklopedi suku bangsa di Indonesia|volume= 1|publisher=Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI|year= 1995|first=M. J.|last=Melalatoa}}</ref>
 
 
==Kepercayaan & Kebudayaan<ref><span class="reference-text"><span style="font-size:11.0pt;line-height: 115%;font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-theme-font:minor-fareast;mso-ansi-language:#0021;mso-fareast-language: IN;mso-bidi-language:AR-SA" lang="id">Nila Riwut. 2003 Tjilik Riwut. Manaser Panatau Tatu </span></span>Hiang.</ref>==
'''Kaharingan''' adalah [[kepercayaan]] tradisional [[suku Dayak]] di [[Kalimantan Tengah]], ketika agama lain belum memasuki Kalimantan.<ref name="Politik dan postkolonialitas di Indonesia">{{en}}{{cite book|first=A. Budi|last=Susanto|coauthors=|title=''[http://books.google.co.id/books?id=hl-5ZE620VIC&lpg=PA264&dq=kayu%20tangi&pg=PA262#v=onepage&q=kayu%20tangi&f=false Politik dan postkolonialitas di Indonesia]''|last=Susanto|first=A. Budi|publisher=Kanisius|year=2003|isbn=9789792108507|coauthors=}}ISBN 979-21-0850-5</ref> <ref>[http://books.google.co.id/books?id=kFqf1tqosvAC&lpg=PR37&dq=kaharingan&pg=PR37#v=onepage&q=kaharingan&f=true {{id}} Fr. Wahono Nitiprawiro, Moh. Sholeh Isre, Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS), Teologi pembebasan: sejarah, metode, praksis, dan isinya, PT LKiS Pelangi Aksara, 2000 ISBN 979-8966-85-6, 9789798966859]</ref> Istilah Kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah ''danum kaharingan'' (air kehidupan),<ref>[http://books.google.co.id/books?id=rTiifZ-SlaEC&lpg=PA139&dq=kaharingan&pg=PA139#v=onepage&q=kaharingan&f=true {{id}} Fridolin Ukur, Tuaiannya sungguh banyak: sejarah Gereja Kalimantan Evanggelis sejak tahun 1835, BPK Gunung Mulia, 2000 ISBN 979-9290-58-9, 9789799290588]</ref> maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap [[Tuhan Yang Maha Esa]] (''Ranying''), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Pemerintah [[Indonesia]] mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu [[agama]] yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh sebab itu, kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti [[Tollotang]] (Hindu Tollotang) pada [[suku Bugis]], dimasukkan dalam kategori [[agama]] [[Hindu]] sejak 20 April 1980,<ref>[http://books.google.co.id/books?id=QyXg_GDYCdMC&lpg=PA244&dq=kaharingan&pg=PA244#v=onepage&q=kaharingan&f=true {{id}} A. Budi Susanto, Masihkah Indonesia, Kanisius, 2007 ISBN 979-21-1657-5, 9789792116571]</ref>, mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut ''[[Yadnya]]''. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai [[Tuhan Yang Maha Esa]], hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut ''Ranying''.
 
Kaharingan ini pertama kali diperkenalkan oleh [[Tjilik Riwut]] tahun 1944, saat ia menjabat Residen [[Sampit]] yang berkedudukan di [[Banjarmasin]]. Tahun 1945, pendudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai penyebutan agama Dayak. Sementara pada masa Orde Baru, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan. Pemilihan integrasi ke Hindu ini bukan karena kesamaan ritualnya. Tapi dikarenakan Hindu adalah agama tertua di Kalimantan.
Lambat laun, Kaharingan mempunyai tempat ibadah yang dinamakan ''[[Balai Basarah]]'' atau ''Balai Kaharingan''. Kitab suci agama mereka adalah ''[[Panaturan]]'' dan buku-buku agama lain, seperti ''Talatah Basarah'' (Kumpulan Doa), ''Tawar'' (petunjuk tatacara meminta pertolongan Tuhan dengan upacara menabur beras), dan sebagainya.
 
Tetapi di [[Malaysia Timur]] ([[Sarawak]] dan [[Sabah]]), nampaknya kepercayaan Dayak ini tidak diakui sebagai bagian umat beragama [[Hindu]], jadi dianggap sebagai masyarakat yang belum menganut suatu agama apapun. Pada tanggal 20 April 1980 Kaharingan dimasukan ke dalam agama Hindu Kaharingan.<ref name="Masihkah Indonesia">{{id}}{{cite book|first=A. Budi|last=Susanto|url=http://books.google.com/books?id=QyXg_GDYCdMC&lpg=PA224&dq=kahayan&hl=id&pg=PA244#v=onepage&q=kahayan&f=false|title=Masihkah Indonesia|last=Susanto|first=A. Budi|publisher=Kanisius|year=2007|isbn=9792116575}}ISBN 978-979-21-1657-1</ref> Organisasi alim ulama Hindu Kaharingan adalah [[Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan]] (MBAHK) yang pusatnya di [[Kota Palangka Raya]], [[Kalimantan Tengah]].
 
Orang Dayak Ngaju terkenal dengan kemampuan spiritualnya yang luar biasa. Salah satu kemampuan spiritual itu adalah apa yang mereka sebut Manajah Antang (burung Elang), yaitu memanggil burung Elang agar dapat memberi petunjuk untuk berperang atau ingin mengetahui keadaan seseorang. Mereka meyakini burung yang datang adalah suruhan leluhur mereka, dan mereka meyakini petunjuk apapun yang diberikan oleh burung Elang adalah benar.
Pengguna anonim