Gauang, Kubung, Solok: Perbedaan revisi

2.701 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
(←Membuat halaman berisi '{{nagari |nama=Gauang |provinsi=Sumatera Barat |dati2=Kabupaten |nama dati2=Solok |kecamatan=Kubung |kode pos=- |nama pemimpin= - |luas=- |penduduk=- }} '''Gauang'...')
 
}}
'''Gauang''' adalah sebuah [[nagari]] di [[Kubung, Solok|Kecamatan Kubung]], [[Kabupaten Solok]], [[Sumatera Barat]]. Nagari ini terletak pada dataran yang agak tinggi dengan topografi daerah yang agak berbukit.
 
Dimulai dari awal penyebaran atau titik tolak dari perkembangan masyarakat Minangkabau yaitunya Pariangan di Padang Panjang yang diyakini juga berasal dari Parahyangan yang artinya surga serta ada juga yang menyatakan asal katanya adalah "tampek bariang-riangan". Nenek moyang pada masa itu berkembang dan memperluas wilayah hunian. Mereka berpindah-pindah tempat dan berkelompok-kelompok. Hal itu terus berlangsung dalam waktu yang lama, dari generasi ke generasi. Pada umumnya mereka tinggal dan menelusuri aliran sungai, ada kelompok yang membuat tempat tinggal dan ada yang tinggal di sekitar "jaruang" atau "gauang" yang artinya gua.
 
Nenek moyang orang Gauang diyakini berasal dari kelompok yang menempati gua atau Gauang. Pada masa itu orang belum mengenal agama, yang ada adalah kebudayaan. Setelah kelompok mereka banyak dan seiring perkembangan budaya masyarakat maka terbentuklah taratak (hunian kelompok), selanjutnya menjadi koto dan akhirnya nagari.
 
Sebelum Islam masuk, adat lebih dahulu berperan dalam menata kehidupan bermasyarakat orang minangkabau. Peran dan fungsi dari pemuka adat seperti panghulu, manti, dubalang lebih dominan dalam masyarakat. Sedangkan untuk kepercayaan dipimpin oleh "Rabi" yang kemudian beruba menjadi "pandito" dan pada masa perkembangan Islam peran ini disebut "malin".
 
Selanjutnya seiring perkembangan masyarakat, urang Gauang berpindah ke sebuah Gauang "mancancang balatiah ka bukik siasok", yang kini bernama Simarasok Kec. Baso di Kabupaten Agam.
 
Setelah berkembang banyak di sebagian masyarakat berpindah dari Gauang bukik siasok ke Gauang Padang ribu-ribu (di daerah utara kota Solok tepatnya disekitar Lalang atau Kuncir), atau disebut juga Gauang Batu Tagak atau Gauang Batu Kambiang. Di daerah ini mereka mencari sumber air dan mendapatkan sebuah telaga. Lama menetap di daearh ini tersebutlah datangnya musibah atau kutukan yang disebabkan ada yang melanggar aturan. Musibah dimaksud adalah telaga sebagai sumber air utama mereka mengeluarkan lumpur dan belut yang sangat banyak sehingga masyarakat pada waktu itu tidak lagi nyaman. Mereka berpencar berkelompok mencari tempat yang baru.
 
Sekelompok berpindah ke arah utara, mereka "manapak" di daerah tapak kudo (taruang-taruang Kec. sungai Lasi), mereka meneruskan perjalanan ke Sungai Jambua, sebagian tinggal disana sedangkan yang lain meneruskan perjalanan ke arah hulu sungai. Mereka menemukan alur atau alue sampai ke sebuah tempat yang terdapat Gauang yang ditudungi oleh sebuah batu dan dinamai tempat tersebut "Gauang Batu Batuduang". Disanalah para nenek moyang orang Gauang ini "manapak" dan mulai membuat taratak yang kemudian disebut taratak Gauang atau Taratak Sungai Jambua.
 
== Rujukan ==
2

suntingan