Layang-layang: Perbedaan antara revisi

4 bita dihapus ,  5 tahun yang lalu
k
Bot: Perubahan kosmetika
k (Robot: Perubahan kosmetika)
k (Bot: Perubahan kosmetika)
[[Berkas:Kitesflying.jpg|right|thumb|250 px|]]
[[Berkas:Lachender Drachen in Sternform.JPG|thumb|250 px|]]
'''Layang-layang''', '''layangan''', atau '''wau''' (di sebagian wilayah [[Semenanjung Malaya]]) merupakan lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke [[udara]] dan terhubungkan dengan [[tali]] atau [[benang]] ke daratan atau pengendali. Layang-layang memanfaatkan kekuatan hembusan [[angin]] sebagai alat pengangkatnya. Dikenal luas di seluruh dunia sebagai alat [[permainan]]. Layang-layang diketahui juga memiliki fungsi [[ritual]], alat bantu [[memancing]] atau men[[jerat]], menjadi alat bantu penelitian ilmiah, serta media energi alternatif.
 
== Fungsi ==
Di [[Jawa Barat]], [[Lampung]], dan beberapa tempatlain di [[Indonesia], layang-layang digunakan sebagai alat bantu memancing. Layang-layang ini terbuat dari anyaman daun sejenis [[anggrek]] tertentu dan dihubungkan dengan [[mata]] [[kail]]. Di [[Pangandaran]] dan beberapa tempat lain misalnya, layang-layang dipasangi jerat untuk menangkap [[kalong]] atau [[kelelawar]].
 
Penggunaan layang-layang sebagai alat bantu penelitian [[cuaca]] telah dikenal sejak abad ke-18. Contoh yang paling terkenal adalah ketika [[Benjamin Franklin]] menggunakan layang-layang yang terhubung dengan [[kunci]] untuk menunjukkan bahwa [[petir]] membawa [[muatan listrik]].
 
Layang-layang raksasa dari bahan sintetis sekarang telah dicoba menjadi alat untuk menghemat penggunaan bahan bakar kapal pengangkut. Pada saat angin berhembus kencang, kapal akan membentangkan layar raksasa seperti layang-layang yang akan "menarik" kapal sehingga menghemat penggunaan bahan bakar.
|accessyear =
|quote =
}}</ref> Penemuan sebuah lukisan gua di [[Pulau Muna]], [[Sulawesi Tenggara]], pada awal abad ke-21 yang memberikan kesan orang bermain layang-layang menimbulkan spekulasi mengenai tradisi yang berumur lebih dari itu di kawasan [[Nusantara]]. Diduga terjadi perkembangan yang saling bebas antara tradisi di Cina dan di Nusantara karena di Nusantara banyak ditemukan bentuk-bentuk primitif layang-layang yang terbuat dari daun-daunan. Di kawasan Nusantara sendiri catatan pertama mengenai layang-layang adalah dari ''Sejarah Melayu ([[Sulalatus Salatin]])'' (abad ke-17) yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan.
 
Dari Cina, permainan layang-layang menyebar ke Barat hingga kemudian populer di [[Eropa]].
 
Layang-layang terkenal ketika dipakai oleh [[Benjamin Franklin]] ketika ia tengah mempelajari [[petir]].
1.110.784

suntingan