Buka menu utama

Perubahan

2 bita dihapus ,  2 tahun yang lalu
k
Bot: Perubahan kosmetika
Manai Sophiaan hidup dalam suasana penjajahan Belanda yang sangat menjadi . Ia menempuh pendidikan di Twede Inlandse School (1926) , Schakel School (1931) , dan [[MULO]] Makassar (1934) ia menjadi guru di [[Taman Siswa]] , [[Yogyakarta]] pada umur 21 tahun .
Ia adalah seorang Jurnalis ketika penjajahan Jepang tahun 1942 dalam harian pewarta celebes , dan ketika Indonesia merdeka ia menjadi Pemimpin Redaksi [[Suluh Indonesia]] dan [[Suluh Marhaen]] .
Pengalaman Politiknya dimulai dari Dewan Gementee (1933 – 1945) dan Badan Pekerja [[Komite Nasional Indonesia Pusat]] (BP – KNIP) pada masa [[Revolusi Nasional Indonesia|Revolusi Fisik (1946 – 1950)]] . Partai awalnya ketika masa pergerakan nasional adalah [[Parindra]] (Partai Indonesia Raya) dan ketika masa Revolusi ia berganti partai menjadi [[PNI]] (Partai Nasiona Indonesia) yang berideologikan [[Marhaenisme]] [[Bung Karno]] . Ia pernah menduduki Sekretaris Jenderal PNI . Ia pernah menjadi anggota [[parlemen]] dan mengusulkan [[mosi]]nya yang berisi Re – Organisasi Angkatan Bersenjata yang menyebabkan peristiwa 17 Oktober 1952 tersebut.
Karier Diplomatiknya mekar ketika pada [[1963]] Ia ditawari menjadi [[Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet]] dan Ia menerimanya , Apalagi hubungan [[Indonesia]] – [[Uni Soviet]] sedang mekar setelah [[Trikora]] yang sukses .
Ia menjadi pelindung Bung Karno saat maupun setelah jadi [[Presiden Republik Indonesia]] . Ia membela Bung Karno melalui buku “Kehormatan Bagi Yang Berhak : Bung Karno Tidak Terlibat G-30-S” . Ia menjadi penanda tangan [[Petisi 50]] .Ia pernah berseberangan dengan mantan [[Ketua MPR|Ketua MPRS]] [[Jenderal]] [[AH Nasution]] karena buku “Apa Yang Masih Teringat” yang menyerang Nasution saat ia menjadi Ketua MPRS yang menjungkalkan Bung Karno pada [[1967]] .