Mahabali: Perbedaan revisi

4 bita dihapus ,  3 tahun yang lalu
k
Bot: Perubahan kosmetika
k (Bot: Migrasi 14 pranala interwiki, karena telah disediakan oleh Wikidata pada item d:Q59178)
k (Bot: Perubahan kosmetika)
Menurut kitab ''[[Purana]]'', Mahabali memerintah dunia dengan baik. Ia dibantu oleh dua menterinya yang utama bernama Kumbanda dan Kupakarna. Selain itu, ia merupakan seorang pemuja Dewa [[Wisnu]] yang taat. Wisnu-lah yang menamainya Mahabali, sebab ia "berjiwa besar." Namun ia mengusir para dewa dari surga, sehingga Wisnu harus turun tangan untuk membawanya kembali ke jalan yang benar.
 
Mahabali memiliki seratus putra. Semuanya kuat dan menyamai dirinya dari segi kemampuan. Putranya yang tertua bernama Bana, atau [[Banasura]].
 
== Kekuasaan ==
 
Menurut kitab ''[[Naradapurana]]'', Bali (Mahabali) memiliki angkatan perang yang besar, dengan kekuatan jutaan [[Gajah perang|gajah]], [[kereta perang|kereta]], [[kavaleri|kuda]], dan [[infanteri|prajurit]] dalam jumlah besar. Dengan angkatan perang tersebut, ia mengadakan ekspedisi untuk menaklukkan tiga dunia - [[bumi]], [[antariksa]], dan [[surga]]. Penyerbuannya ke surga telah membuat [[Indra]] dan para dewa terdesak. Akhirnya, Indra, raja para dewa mengumumkan peperangan melawan Bali. Setelah perang sengit terjadi selama seribu tahun (menurut ''[[Naradapurana]]''), para asura memperoleh kemenangan. Para dewa meninggalkan surga, lalu turun ke bumi dengan menyamar sebagai makhluk bumi.
 
== Bali dan Wamana ==
[[Berkas:Vamana1.jpg|right|240px|thumb|Wamana menginjak kepala Bali lalu mengirimnya ke [[Patala]] (alam bawah tanah).]]
[[Aditi]], ibu para [[dewa (Hindu)|dewa]], sedih melihat penderitaan anak-anaknya. Kemudian Aditi melakukan tapa, memuja Dewa [[Wisnu]]. Karena merasa berkenan dengan pemujaan yang dilakukan Aditi, Wisnu bersedia menampakkan diri di hadapannya. Aditi memohon agar Wisnu menjelma sebagai putranya untuk menyelesaikan perkara antara Bali dan para dewa. Wisnu bersedia mengabulkan permohonan Aditi, dan berjanji akan menghukum Bali dan mengembalikan kekuasaan [[Indra]]. Versi lain mengatakan bahwa Wisnu sendiri yang ingin menjelma sebagai putra Aditi, meskipun Aditi hanya memohon perlindungan, bukan memohon agar Wisnu menjelma sebagai putranya. Maka dari itu, [[awatara]] (penjelmaan) Wisnu pada zaman tersebut, terlahir sebagai putra Aditi dan [[Kasyapa]]. Anak penjelmaan Wisnu tersebut bernama [[Wamana]], berwujud [[brahmana]] [[kretinisme|katai]].
 
Bali menyelenggarakan suatu [[yadnya]] (upacara suci) dan mengundang seluruh [[brahmana]] ([[rohaniwan]]/[[paderi]]) di negerinya untuk menghadiri acara tersebut. Wamana turut serta dan berbaur dengan para brahmana yang telah diundang. Upacara tersebut dipimpin oleh [[Sukra]] (Sukracarya), guru para asura. Saat melihat Wamana, [[Sukra]] sadar bahwa Wisnu sendiri telah menjelma ke dunia dalam wujud brahmana katai dan turut menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Bali. Kemudian Sukracarya mengingatkan Mahabali agar tidak memenuhi permohonan Wamana, sebab petaka akan terjadi. Namun Bali tidak menghiraukan peringatan gurunya, sebab merupakan kewajibannya untuk melayani tamu undangannya sebaik mungkin, dan ia merasa sangat beruntung bila berhasil menyenangkan Wisnu yang datang pada saat itu dalam wujud brahmana katai.
 
Bali menyambut Wamana dengan takzim dan menanyakan apa yang dapat ia lakukan untuk memuaskan tamu istimewanya tersebut. Wamana mengajukan permintaan yang sederhana, yaitu sebidang tanah seluas tiga langkah kakinya. Bali yang merasa permintaan tersebut sangat mudah, segera menjawab bahwa ia bersedia memenuhinya, kemudian ia mempersilakan Wamana melangkah untuk mengukur luas tanah yang ia minta.
 
Wamana memperbesar ukuran tubuhnya, hingga langkahnya yang pertama menginjak bumi, langkahnya yang kedua berada di langit, dan langkahnya yang ketiga berada di surga. Dengan demikian, Wisnu dalam wujud Wamana melakukan ''[[triwikrama]]'', karena langkahnya mampu berada di tiga dunia sekaligus. Versi lain mengatakan bahwa langkah pertamanya menginjak bumi, langkah keduanya berada di surga, dan karena tidak ada lahan lagi untuk dipijak, Bali merelakan kepalanya sebagai tempat berpijak yang ketiga. Maka Wamana meletakkan langkahnya yang ketiga di kepala Bali sekaligus memberikannya keabadian atas kemurahan hatinya.