Buka menu utama

Perubahan

Sementara Westerling memimpin penyerangan di Bandung, sejumlah anggota pasukan RST dipimpin oleh Sersan Meijer menuju [[Jakarta]] dengan maksud untuk menangkap Presiden [[Soekarno]] dan menduduki gedung-gedung pemerintahan. Namun dukungan dari pasukan KNIL lain dan [[Tentara Islam Indonesia]] (TII) yang diharapkan Westerling tidak muncul, sehingga serangan ke Jakarta gagal dilakukan.
 
Setelah puas melakukan pembantaian di Bandung, seluruh pasukan RST dan satuan-satuan yang mendukungnya kembali ke tangsi masing-masing. Westerling sendiri berangkat ke Jakarta, dan pada [[24 Januari]] 1950 bertemu lagi dengan Sultan Hamid II di [[Hotel Des Indes]]. Hamid yang didampingi oleh sekretarisnya, [[dr. J. Kiers]], melancarkan kritik pedas terhadap Westerling atas kegagalannya dan menyalahkan Westerling telah membuat kesalahan besar di Bandung. Tak ada perdebatan, dan sesaat kemudian Westerling pergi meninggalkan hotel.
 
Setelah itu terdengar berita bahwa Westerling merencanakan untuk mengulang tindakannya. Pada [[25 Januari]], Hatta menyampaikan kepada Hirschfeld, bahwa Westerling, didukung oleh RST dan [[Darul Islam]], akan menyerbu Jakarta. Engles juga menerima laporan, bahwa Westerling melakukan konsolidasi para pengikutnya di [[Garut]], salah satu basis [[Darul Islam]] waktu itu.
Pengguna anonim