Allah Bapa: Perbedaan revisi

9 bita dihapus ,  2 tahun yang lalu
k
Bot: Perubahan kosmetika
Tag: suntingan perangkat seluler suntingan web seluler
k (Bot: Perubahan kosmetika)
Dalam banyak agama, '''[[Allah]]''' yang Mahatinggi diberi gelar dan '''''[[Bapa]]'''''. Dalam berbagai bentuk [[politeisme]], tuhan yang tertinggi dipahami sebagai "bapa dari semua tuhan dan manusia". Dalam agama [[Israel]] dan [[Yudaisme]] modern, [[Tetragrammaton|YHWH]] disebut Bapa karena Ia adalah Pencipta, Pemberi hukum, dan Pelindung. Demikian pula di dalam Kekristenan, Allah disebut Bapa dengan alasan yang sama, tetapi terutama sekali karena misteri dari hubungan Bapa-Anak yang diungkapkan oleh Yesus Kristus. Pada umumnya, nama ''Bapa'' yang diberikan kepada Tuhan menunjukkan bahwa Ia adalah asal usul dari segala sesuatu yang tunduk kepada-Nya. Dialah Kewibawaan yang tertinggi dan yang Mahakuasa, Patriarkh, dan Pelindung.
 
== Allah Bapa dalam agama-agama politeistik ==
 
== Allah Bapa dalam monoteisme ==
Dalam dua dari tiga bentuk utama dari [[monoteisme]], [[Yudaisme]] dan [[Kekristenan]], Allah disebut Bapa sebagian karena Ia dianggap secara aktif mempunyai perhatian dalam urusan manusia, dalam cara yang sama seorang ayah menaruh minat terhadap anak-anaknya. Jadi, banyak pemeluk monoteis yang percaya bahwa mereka dapat berkomunikasi dengan-Nya melalui [[doa]], baik untuk memuji-Nya ataupun memengaruhi tindakan-Nya. Mereka mengharapkan bahwa sebagai Bapa, Ia akan menjawab kepada umat manusia, anak-anak-Nya, bertindak demi kepentingan mereka, bahkan menghukum orang-orang yang berperilaku buruk, seperti seorang ayah yang menghukum anak-anaknya, dan memulihkan mereka yang percaya akan kasih-Nya.
 
:"Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang." (Ibrani 12:8).
 
=== Konsep Allah Bapa di dalam agama Islam ===
 
=== Allah Bapa bagi umat Israel ===
Dalam agama monoteistik [[Israel]], Allah disebut "Bapa" dengan pemahaman yang unik. Allah dianggap sebagai "Bapa" karena Ia menciptakan dunia. Ia pun berperan seperti seorang Patriarkh yang memberikan hukum, dan melalui suatu perjanjian Ia memelihara suatu hubungan khusus bagaikan ayah-anak dengan manusia. Ia memberikan mereka [[Sabat]], mempercayakan kata-kata-Nya, dan warisan-Nya yang unik dalam hal-hal yang berkaitan dengan Allah, dan menyebut Israel sebagai "anak-Nya yang sulung". Allah yang dipahami umat Yahudi juga diatribusikan peranan Pelindung yang dimiliki seorang ayah. Ia disebut Bapa dari mereka yang miskin, dari kaum yatim dan para janda, Pelindung dan Penjamin keadilan. Ia juga disebut Bapa dari para raja, Guru, dan Penolong bagi hakim umat Israel.
 
{{Christianity}}
== Allah Bapa dalam Kekristenan ==
Dalam [[Kekristenan]], Allah disebut "Bapa" dalam pengertian yang tidak pernah dikenal sebelumnya, selain sebagai Pencipta dan Pemelihara ciptaan, dan Pelindung bagi anak-anak-Nya, umat-Nya. Bapa dikatakan mempunyai hubungan yang kekal dengan Anak Tunggal-Nya, [[Yesus]]. Hal ini menunjukkan bahwa, [[Kristus]] adalah Anak [[Allah]] yang lahir dari Dia. Hal ini menyiratkan suatu hubungan yang eksklusif dan akrab yang menjadi hakikat-Nya yang khas: "...tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya" ([[Matius]] 11:27). Dalam teologi Kristen, ini adalah ungkapan dari pengertian tentang Bapa yang menjadi hakikat sifat Allah, suatu hubungan yang kekal. Bentuk dominan dari teologi ini menyatakan bahwa hubungan ini merupakan [[misteri]] Kristen yang disebut [[Tritunggal]].
 
Roma 8 : 14 - 17, "Semua orang, yang dipimpin oleh Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah."
Bagi orang Kristen, hubungan Allah Bapa dengan manusia adalah bagaikan seorang ayah dengan anak-anaknya. Jadi, orang-orang yang terpilih oleh kasih karunia Allah disebut sebagai ''anak-anak Allah'' (Bandingkan dengan 1Petrus2:9). Bagi orang Kristen, hubungan Allah Bapa dengan umat manusia adalah laksana hubungan antara Pencipta dengan ciptaan-Nya, dan dalam hubungan itu, Ia adalah Bapa dari semuanya. Dalam pengertian ini, Perjanjian Baru mengatakan bahwa gagasan tentang keluarga berasal dari Allah Bapa ([[Efesus]] 3:15). Jadi, hubungan Allah dengan anak-anakNya adalah panutan dan model untuk membina keluarga Kristen agar senantiasa bertumbuh di dalam iman perbuatan dan pengenalan takut akan Allah.
 
Orang Kristen percaya bahwa mereka dijadikan partisipan di dalam hubungan rohani yang kekal antara Bapa dan Anak, melalui [[Tuhan]] Yesus Kristus. Orang Kristen menyebut diri mereka anak-anak Allah ''melalui pengangkatan'':
:''Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.'' (Galatia 4:4-7)
 
 
=== Trinitarianisme dan konsep-konsep Kristen lainnya ===
Bagi orang Kristen [[Trinitarianisme|trinitarian]] (yang selama berabad-abad merupakan mayoritas umat Kristen), Allah Bapa bukanlah Allah yang terpisah dari Sang Anak (dalam hal ini, [[Yesus]] adalah penjelmaan-Nya) dan dari [[Roh Kudus]], yang ketiganya merupakan Allah yang esa. Orang Kristen trinitarian menggambarkan ketiga pribadi ini sebagai [[Tritunggal]] atau [[Trinitas]]. Ini berarti mereka selalu hadir sebagai tiga "pribadi" (Yunani: ''hypostases'') yang berbeda, tetapi ketiganya adalah satu Allah, masing-masing mempunyai identitas yang penuh sebagai Allah sendiri ("substansi" yang esa), "kepribadian ilahi" dan kuasa yang esa, dan "kehendak ilahi" yang esa pula.
 
Namun sebagian orang Kristen lainnya ada yang menganut gagasan alternatif yang sangat berbeda. Sebagian kecil menggambarkan Sang Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus masing-masing sebagai Keberadaan yang berbeda, dan yang telah ada secara kekal ([[triteisme]]), atau sebagai "manifestasi" yang berbeda dari Keberadaan yang tunggal ([[modalisme]]). Sebagian orang mencetuskan teori bahwa hubungan antara Sang Bapa dan Sang Anak dimulai pada suatu titik yang mungkin berada di luar "sejarah" yang biasa ([[Arianisme]]). Yang lainnya percaya bahwa Allah menjadi Bapa ketika Ia mengucapkan Λογος ("logos" atau "firman")-Nya yang menciptakan. Logos atau firman ini adalah tatanan yang pertama dan makhluk yang dengan-Nya Allah membina hubungan sebagai Bapa (pandangan sebagian [[gnostisisme|gnostik]]). Yang lainnya menemukan hubungan yang kuat dengan gagasan [[paganisme|kafir]] tentang seorang penyelamat atau pahlawan yang dilahirkan oleh dewata, sebuah gagasan tentang Bapa yang mirip dengan [[Mithraisme]] atau penyembahan terhadap kaisar Romawi.
 
Bagi kebanyakan orang Kristen, pribadi Allah Bapa adalah yang paling tinggi, dan sesekali merupakan alamat doa yang eksklusif, yang seringkali diucapkan ''dalam nama'' Yesus Kristus. [[Doa Bapa Kami]], misalnya, dimulai dengan kata-kata, "Bapa kami yang ada di surga..."
 
Dalam Perjanjian Baru, Allah Bapa mempunyai peranan khusus dalam hubungannya dengan Sang Anak. Dalam hal ini Yesus diyakini sebagai Sang Anak dan warisnya (Ibrani 1:2-5). Menurut [[Pengakuan Iman Nicea]], Sang Anak (Yesus Kristus) "lahir dari Bapa sebelum segala abad". Hal ini menunjukkan bahwa hubungan Bapa-Anak mereka yang ''ilahi'' tidaklah terikat pada suatu peristiwa di dalam waktu atau sejarah manusia. ''Lihat'' [[Kristologi]].