Gichin Funakoshi: Perbedaan revisi

2 bita dihapus ,  4 tahun yang lalu
k
Bot: Perubahan kosmetika
k (Robot: Perubahan kosmetika)
k (Bot: Perubahan kosmetika)
== Monumen peringatan ==
[[Berkas:Funakoshi Makiwara.jpg|thumb|right|Gichin Funakoshi sedang latihan dengan ''[[makiwara]]'', tahun 1924.]]
Monumen untuk Gichin Funakoshi didirikan oleh [[Shotokai]] di sebuah kuil di Kamakura bernama [[Engaku-ji]] pada 1 Desember 1968. Batu ini dirancang oleh Kenji Ogata dan bertuliskan kaligrafi karya Funakoshi dan biksu kepala bernama [[Sōgen Asahina]] (1891-1979). Pada batu monumen ini bertuliskan prinsip kedua dari 20 Prinsip Karate, "''Karate ni sente nashi''" ("Tidak ada serangan pertama dalam karate"). Di sebelah kanannya terdapat batu bertuliskan puisi yang ditulisnya ketika dalam perjalanan ke Jepang pada tahun 1922.
 
Batu kedua berisi tulisan yang dibuat oleh Nobuhide Ohama, dan diterjemahkan sebagai:<ref>{{cite book|last = Cook|first = Harry|title = Shotokan Karate: A Precise History|publisher = Cook|date = 2001|location = England }}</ref>
 
{{cquote |Sensei karate-do Funakoshi Gichin dilahirkan di Shuri Okinawa pada 10 Juni 1870. Sejak sekitar usia sebelas tahun, ia mulai belajar ''tō-te jutsu'' dari [[Azato Anko]] dan [[Itosu Anko]]. Ia berlatih dengan rajin dan pada tahun 1912 diangkat sebagai ketua Shobukai Okinawa. Pada Mei 1922, ia pindah ke Tokyo dan menjadi sensei profesional karate-do. Ia mengabdikan seluruh hidupnya bagi pengembangan karate-do. Ia hidup hingga usia delapan puluh delapan tahun, dan meninggalkan dunia ini pada 26 April 1957. Sambil melakukan reinterpretasi ''to-te jutsu'', Sensei menyebarluaskan karate-do tanpa menghilangkan filsafat aslinya. Seperti halnya ''bugei'' (seni bela diri klasik), puncak dari "mu" (pencerahan) adalah: untuk memurnikan dan membuat seorang menjadi kosong melalui transformasi dari ''jutsu'' ke ''do''. Melalui kata-kata terkenalnya, "''Karate ni sente nashi''" ("Tidak ada serangan pertama dalam karate") dan "Karate wa kunshi no bugei" ("Karate adalah seni bela diri orang bijaksana), Sensei membantu kami untuk mengerti makna ''[[jutsu]]'' secara lebuh baik lagi. Kami, para murid setia, dengan maksud memperingati jasa dan kontribusinya sebagai perintis karate-do modern, membentuk Shotokai dan mendirikan monumen ini di Enkakuji. "Kenzen ichi" ("Kepalan dan Zen adalah satu"). |cquote}}