Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur: Perbedaan revisi

k
Bot: Perubahan kosmetika
k (Bot: Perubahan kosmetika)
Pemasarannya diangkut melalui [[kereta api barang]] ditarik dengan [[Lokomotif D301]] yang ditarik sampai tahun [[1987]] dan [[Lokomotif BB301]] sampai tahun [[1994]] serta [[Lokomotif CC201]] sampai ditutup akibat dari [[Krisis finansial Asia 1997|Krisis 1997]] dengan rute ke [[Stasiun Kalimas]], [[Surabaya]] melalui Jembatan [[Jalan tol Jagorawi]], lalu bercabang ke [[Stasiun Cibubur]], lalu melewati [[Stasiun Wanaherang]], [[Stasiun Nambo]], [[Stasiun Citayam]], [[Stasiun Depok]], [[Stasiun Manggarai]], [[Stasiun Tanahabang]], [[Stasiun Pasarsenen]], [[Stasiun Jatinegara]], [[Stasiun Cikampek]], [[Stasiun Cirebon]], [[Stasiun Semarang Poncol]], [[Stasiun Semarang Tawang]], [[Stasiun Cepu]], [[Stasiun Bojonegoro]] dan [[Stasiun Surabaya Pasarturi]]. Dalam lagunya, adalah: "''Penambang batu kali di Pondok Ranggon''", yang diciptakan oleh [[Iwan Fals]] pada tahun [[1979]] dan "''Tambang batu kali Pondok Ranggon''", yang diciptakan oleh [[Ebiet G Ade]] pada tahun [[1982]].
 
Usaha penambang batu kali beserta jalur dan keretanya ini dibuka di Desa Pondok Ranggon sejak tahun [[1955]]-[[1956]]. Sejak dibuka, Produksi batu kali masih hanya 2.500 ton. Pada tahun [[1961]], Produksi batu kali meningkat menjadi 4.000 ton. Pada tahun [[1965]], saat terjadi [[Gerakan 30 September]], Produksi batu kali menurun menjadi 3.500 ton.
 
Pada tahun [[1971]], Produksi batu kali meningkat menjadi 4.580 ton. Kemudian, akibat dari perubahan batas wilayah [[Daerah Khusus Ibukota Jakarta]] menjadi 661,7 km<sup>2</sup> pada tahun [[1976]] (berdasarkan PPRI nomor 45/1974) Produksi batu kali meningkat menjadi 6.000 ton. Kemudian, akibat dari perubahan status menjadi [[kelurahan]] pada tahun [[1978]] (berdasarkan PPRI nomor 25/1978), Produksi batu kali menurun menjadi 5.000 ton. Kemudian, Pada tahun [[1980]], Produksi batu kali meningkat menjadi 6.500 ton. Kemudian, akibat dari kecelakaan KMP Tampomas pada awal tahun [[1981]], Produksi batu kali menurun menjadi 6.000 ton.
 
Kemudian, akibat dari [[Tragedi Bintaro]] pada tanggal [[19 Oktober]] [[1987]], Produksi batu kali menurun menjadi 5.000 ton. Kemudian, akibat dari pembentukan [[Cipayung, Jakarta Timur|Kecamatan Cipayung]] pada tahun [[1990]] (berdasarkan PPRI nomor 60/1990), Produksi batu kali meningkat menjadi 7.200 ton.
 
==== Jembatan kereta api ====
Pada tahun [[1934]], Jembatan [[kereta api]] di [[Kali Cipinang]], [[Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur|Desa Cibubur]] [[Cimanggis, Depok|Kecamatan Cimanggis]] [[Kabupaten Bogor]] ini sudah diresmikan oleh Gubjen [[Hindia-Belanda]] yang saat itu setelah dibangun dengan biaya 5.000 gulden.
 
Dengan dibangunnya [[Jalan tol Jagorawi]] pada tahun [[1973]], maka jalur [[kereta api]] yang bermuatan tambang batu kali dari [[Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur|Pondok Ranggon]] yang ditarik [[Lokomotif D301]] yang saat itu, melewati jalur baru yang berupa [[jembatan]] ini.
 
== Yang berada di kelurahan ini ==
Di kelurahan ini terdapat rumah makan [[Kota Padang|Padang]], rumah makan Taman Arwana Cibubur, bioskop untuk menonton sejarah pertambangan batu kali di Pondok Ranggon, mall, sarana hiburan, beberapa perumahan dan sekolah-sekolah.
 
Salah satunya adalah Rumah makan Taman Arwana Cibubur, yang letaknya hampir 1,5 km dari bekas bangunan [[Stasiun Cibubur]], adalah tempat pemberhentian [[kereta api barang]] yang mengangkut hasil pertambangan, sampah, gula, garam, semen, pupuk [[PUSRI]], minyak [[Pertamina]], bahan kimia dan bahan peledak di era [[Orde baru]] sampai ditutup akibat dari [[Kerusuhan Mei 1998|Kerusuhan]] dan [[Krisis finansial Asia 1997|Krisis moneter]] pada tahun [[1998]]. Luasnya adalah 6,2 ha. Rumah makan ini dibangun pada tahun [[2005]] di lahan eks tambang batu kali. Bangunan parkiran, rumah makan, toilet dan musholla ini dibangun di eks lahan tambang batu kali seluas 4 ha, area permainan ini dibangun di eks lahan tambang batu kali seluas 2 ha dan [[danau]] ini dibangun di eks galian batu kali seluas 1,2 ha.
Berdirinya [[Kelurahan]] '''Pondok Ranggon''' tak lepas dari ditemukan tambang [[batu]] kali di [[Kali Sunter]] pada tahun [[1918]] dan pembangunan [[Pabrik gula]] di daerah ini pada tahun [[1899]].
 
Desa '''Pondok Ranggon''' merupakan pemekaran dari Desa [[Sukatani, Tapos, Depok|Sukatani]] pada tahun [[1969]] yang dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur [[gubernur|Kepala Daerah Tingkat I]] [[Jawa Barat]] nomor: 18/[[1969]] tanggal [[4 April]] [[1969]] tentang pembentukan [[desa]]-[[desa]] masing-masing di [[Kabupaten]] [[Daerah Tingkat II]] [[Kabupaten Tangerang|Tangerang]], [[Kabupaten Bekasi|Bekasi]], [[Kabupaten Bogor|Bogor]], [[Kabupaten Karawang|Karawang]], [[Kabupaten Cirebon|Cirebon]], [[Kabupaten Bandung|Bandung]], [[Kabupaten Majalengka|Majalengka]], [[Kabupaten Cianjur|Cianjur]], [[Kabupaten Garut|Garut]] dan [[Kabupaten Sumedang|Sumedang]] dalam [[provinsi|Propinsi Daerah Tingkat I]] [[Jawa Barat]].
 
Dulunya Desa '''Pondok Ranggon''' masuk ke dalam wilayah [[Cimanggis, Depok|Kecamatan Cimanggis]], [[Kabupaten Bogor|Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor]]. Namun sejak awal tahun [[1975]], berdasarkan Peraturan Pemerintah [[Republik]] [[Indonesia]] nomor: 45/[[1974]] tentang Perubahan batas wilayah [[Daerah Khusus Ibukota Jakarta]], beserta 3 [[desa]] lainnya, [[Desa]] ini masuk ke dalam wilayah Kecamatan [[Pasar Rebo, Jakarta Timur|Pasar Rebo]], Kotamadya [[Jakarta Timur]] dengan [[kode pos]] 16960.