Penyebaran Islam di Nusantara: Perbedaan revisi

k (→‎Awal sejarah: minor cosmetic change)
 
{{Sejarah Indonesia}}
 
Kapan orang-orang di pantai utara Jawa memeluk Islam tidaklah jelas. Muslim Tionghoa, [[Ma Huan]], utusan [[Kaisar Yongle]],<ref name="RAW"/> mengunjungi pantai Jawa pada [[1416]] dan melaporkan dalam bukunya, ''Ying-yai Sheng-lan: survei umum pantai samudra'' (1433), bahwa hanya ada tiga jenis orang di Jawa: Muslim dari wilayah barat Nusantara, Tionghoa (beberapa adalah Muslim) dan Jawa yang bukan Muslim.<ref>Ma Huan’s, ''Ying-yai Sheng-lan: The overall survey of the ocean's shores' (1433).'' Ed. and transl. J.V.G. Mills. Cambridge: University Press, 1970</ref> Karena batu-batu nisan Jawa Timur adalah dari Muslim Jawa lima puluh tahun sebelumnya, laporan Ma Huan menunjukkan bahwa Islam mungkin memang telah diadopsi oleh sebagian abdi dalem istana Jawa sebelum orang Jawa pesisir.
 
Sebuah nisan Muslim bertanggal 822 H (1419 M) ditemukan di [[Gresik]], pelabuhan di Jawa Timur dan menandai makam [[Maulana Malik Ibrahim]]. Namun bagaimanapun, dia adalah orang asing non-Jawa, dan batu nisannya tidak memberikan bukti konversi pesisir Jawa. Namun Malik Ibrahim, menurut tradisi Jawa adalah salah satu dari sembilan rasulpenyebar Islam di Jawa (disebut ''[[Wali Sanga]]'') meskipun tidak ada bukti tertulis ditemukan tentang tradisi ini. Pada abad ke-15-an, [[Kerajaan Majapahit]] yang kuat di Jawa beradamengalami di penurunankemunduran. Setelah dikalahkan dalam beberapa pertempuran, kerajaan [[Hindu]] terakhir di Jawa jatuh di bawah meningkatnya kekuatan [[Kesultanan Demak]] pada tahun 1520.
 
=== Jawa Barat ===
''[[Suma Oriental]]'' ("Dunia Timur") yang ditulis [[Tome Pires]] melaporkan juga bahwa [[Suku Sunda]] di [[Jawa Barat]] bukanlah Muslim di zamannya, dan memang memusuhi Islam.<ref name="RICKLEFS"/> Sebuah penaklukan oleh Muslim di daerah ini terjadi pada abad ke-16. Dalam studinya tentang [[Kesultanan Banten]], [[Martin van Bruinessen]] berfokus pada hubungan antara mistik dan keluarga kerajaan, mengkontraskanmenjadi pembeda bahwa proses Islamisasi dengan yang yang berlaku di tempat lain di Pulau Jawa:
"Dalam kasus Banten, sumber-sumber pribumi mengasosiasikan "[[tarekat]]" tidak dengan perdagangan dan pedagang, tetapi dengan raja, kekuatan magis dan legitimasi politik."<ref>{{cite journal|title=Shari`a court, tarekat and pesantren: religious institutions in the sultanate of Banten|author=Martin van Bruinessen|journal=Archipel|volume=50|pages=165&ndash;200|url=http://www.let.uu.nl/~martin.vanbruinessen/personal/publications/Banten_religious_institutions.htm|year=1995|doi=10.3406/arch.1995.3069}}</ref> Ia menyajikan bukti bahwa [[Sunan Gunungjati]] diinisiasi ke dalam aliran "[[Najmuddin Kubra|Kubra]]", "[[Shattari]]", dan "[[Tarekat Naqsyabandiyah|Naqsyabandiyah]]" dari [[sufisme]].