Pangeran: Perbedaan revisi

83 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
 
== Anggota dinasti ==
{{Main article|Gelar kebangsawanan Jawa}}
Dalam bahasa Indonesia, gelar pangeran lebih identik dengan gelar bagi keturunan laki-laki dari penguasa monarki. Dalam penggunaan resminya di [[Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat|Kesultanan Yogyakarta]], gelar untuk anak laki-laki dengan permaisuri adalah '''Gusti Bendara Pangeran Harya (GBPH)''', sedangkan untuk anak laki-laki dengan istri-selir bergelar '''Bendara Pangeran Harya''' '''(BPH)'''. Menantu pria sultan juga mendapat gelar pangeran, seperti suami [[GKR Mangkubumi]] yang bergelar [[Wironegoro|'''Kanjeng Pangeran Harya''']]. Sedangkan di [[Kasunanan Surakarta]], gelar untuk anak laki-laki sunan dengan permaisuri adalah '''Kanjeng Gusti Pangeran Harya (KGPH)''', sedangkan anak laki-laki dari istri-selir bergelar '''Bendara Kanjeng Pangeran (BKP)'''. Gelar ini diberikan saat sudah dewasa.
 
=== Brunei ===
{{Main article|Gelar kehormatan Melayu}}
Dalam bahasa Melayu, pelafalan kata pangeran adalah ''pengiran.'' Di Brunei, gelar ''pengiran'' disandang oleh orang yang telah menikah yang memiliki hubungan darah dan pernikahan dengan kerajaan, tidak hanya terbatas pada keturunan sultan. Berbeda dengan bahasa Indonesia yang hanya mengkhususkan pangeran (''pengiran'') hanya untuk laki-laki, di Brunei, gelar ini dapat disandang oleh laki-laki dan perempuan. Hal ini menjadikan gelar ''pengiran'' dapat disejajarkan dengan '''putri''' dalam bahasa Indonesia.