Buka menu utama

Perubahan

811 bita ditambahkan, 2 tahun yang lalu
suntingan kecil
Pada prasasti Sekar disebutkan Cetbang diproduksi di Rajekwesi, Bojonegoro, sedangkan mesiu utamanya diproduksi di Swatantra Biluluk.<ref>Dr. J.L.A. Brandes, T.B.G., LII (1910)</ref>
 
== Penggunaan di masa Majapahit ==
Cetbang digunakan pada armada maritim Majapahit. dimana ukurannya bervariasi antara 1 hingga 3 meter.
Cetbang digunakan pada armada maritim Majapahit. dimana ukurannya bervariasi antara 1 hingga 3 meter. Cetbang yang berukuran 3 meter bisasanya ditempatkan di kapal-kapal perang Majapahit. Panglima angkatan laut Majapahit yang terkenal menggunakan meriam Cetbang pada armada Majapahit adalah Mpu Nala. Kesohoran Mpu Nala pada masa Majapahit diketahui melalui Prasasti Sekar, Prasasti Manah I Manuk (Bendosari), Prasasti Batur, Prasasti Tribhuwana dan Kakawin Negarakeragama yang menyebutnya sebagai Tumenggung (panglima perang).
 
Dalam Kakawin Negarakertagama, Mpu Nala mendapat gelar "Wiramandalika". Gelar ini disematkan karena jasanya kepada perluasa wilayah Majapahit. Dalam wirama 72 bait 2-3 menyebutnya sebagai keturunan orang cerdik yang mampu menghancurkan musuh di Dompo (Nusa tengggara Barat).
 
== Penggunaan setelah masa Majapahit ==
Pada masa setelah Majapahit, meriam di nusantara dibagi berdasarkan dua tipe, yaitu :
* [[Lela]]
* [[Rentaka]]
 
== Cetbang Majapahit saat ini ==
 
== Sumber ==
44

suntingan