Emma Poeradiredja: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
k Merapihkan
k Merapihkan
Baris 16:
|organization=* Dameskring, pendiri organisasi perempuan, [[1923]].
* [[Bond Inlandsche Studeerenden]].
* [[Jong Islamieten Bond]] sebagai Ketua Cabang Bandung, 1925.
* Perintis Palang Merah Indonesia.
* Ketua Pengurus Panti Asuhan Bandung.
* Anggota [[Jong Java]].
* [[Pasundan Istri]], Ketua Umum, [[1930]]-[[1970]].
* [[Asian Women Conference]], Ketua Panitia Pengiriman Utusan Wanita, di Lahore, India, [[1930]].
* Gerakan Puteri dan Fuzinkai sebagai wakil ketua di Jawa dan Wakil Ketua Fuzinkai di kota Bandung, 1945.
* [[Kongres Perempuan Indonesia]] II, [[1935]].
* [[Kongres Perempuan Indonesia]] III, Ketua, [[1938]]. {{refn|group=note|name=kpi3|Kongres Perempuan Indonesia, Bandung, Juli 1938. Kongres dikuti berbagai perkumpulan perempuan, di antaranya Poetri Indonesia, Poetri Boedi Sedjati, Wanito Tomo, Aisjiah, Wanita Katolik dan Wanita Taman Siswa. Kongres diketuai oleh Ny. Emma Poeradiredja. Isu yang dibahas dalam Kongres antara lain, partisipasi perempuan dalam politik, khususnya mengenai hak dipilih. Saat itu pemerintah kolonial telah memberikan hak dipilih bagi perempuan untuk duduk dalam Badan Perwakilan. Mereka di antaranya adalah Ny. Emma Puradiredja, Ny. Sri Umiyati, Ny. Soenarjo Mangunpuspito dan Ny. Sitti Soendari yang menjadi anggota Dewan Kota (Gementeraad) di berbagai daerah. Akan tetapi karena perempuan belum mempunyai hak pilih maka perempuan menuntut supaya mereka pun diberikan hak memilih. Kongres memutuskan tanggal 22 Desember diperingati sebagai “Hari Ibu” dengan arti seperti yang dimaksud dalam keputusan Kongres tahun 1935; membangun Komisi Perkawinan untuk merancang peraturan perkawinan yang seadil-adilnya tanpa menyinggung pihak yang beragama Islam.}}
* [[Kongres Perempuan Indonesia]] III, Ketua, [[1938]].
* [[Kongres Perempuan Indonesia]] IV di Semarang, Jawa Tengah, [[1941]].{{refn|group=note|name=kpi|Selanjutnya Emma Poeradiredja terus menerus aktif dan boleh dikatakan tidak pernah absen dalam [[Kongres Perempuan Indonesia]] ini yang kemudian menjadi [[Kowani|Kongres Wanita Indonesia (Kowani)]].}}
* Anggota [[Gemeenteraad]], perempuan pertama terpilih dua kali, dari 1938-1942.
Baris 27 ⟶ 31:
* Ketua Pengurus Pusat Yayasan Beribu s/d 1964.
* Wakil Ketua Dewan Pimpinan Yayasan Badan Sosial Pusat (BSP).
* Direktur Stichting Ongevallenfonds Spoorwegpersoneel (SOS) atau Yayasan Fonds Kecelakaan Pegawai Kereta Api (YFKPKA).
* Direktur dan Kepala Bagian Guna Raharja, Yayasan Bina Kerta Raharja Karyawan Kereta Api (YBKRKA).
* Sekretaris Panitia MPRS Propinsi Jawa Barat.
* Penasehat Ikatan Wanita Kereta Api (IWKA) seluruh Indonesia.
Baris 52 ⟶ 58:
*[[Raden Adil Poeradiredja]]
*[[Raden Haley Koesna Poeradiredja]]
|awards=Bintang Mahaputera Pratama Keppres No.064/TK/TH.1975; Tanggal, 9-8- Agustus 1975.
|education=* [[HIS|Hollandsche Inlandsche School]], Tasikmalaya, [[1917]].
* [[MULO|Meer Uitgebreid Lager Onderwijs]]
Baris 61 ⟶ 67:
 
== Latar belakang ==
=== Keluarga ===
Nama sebenarnya Emma Poeradiredja ialah Nyi Raden Rachmat’ulhadiah Poeradiredja, akan tetapi nama ini tidak pernah dipakai dan tidak begitu populer. Emma Poeradiredja lahir dari pasangan Raden Kardata Poeradiredja (9 Maret 1880 – 28 Februari 1968) dan Nyi Raden Siti Djariah binti SastrasuwegaSastrasoewega (16 Juni 1885 – 30 Mei 1975) yang menikah pada tanggal 12 April 1901. Dari perkawinan ini lahir Emma Poeradiredja, Raden Iman Kurnaeni Ontario Poeradiredja (Kamis 6 Oktober 1904 jam 10.30 BBWI), Raden Adil Poeradiredja (Senin tanggal 22 Juli 1907), Raden Haley Koesna Poeradiredja (Kamis, 16 Desember 1909 jam 05.40 BBWI).
 
=== Pendidikan ===
Emma tamat dari HIS (Hollandsche Inlandsche School) Tasikmalaya pada tahun [[1917]]. Setelah itu melanjutkan sekolah ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Pada waktu itu belum begitu banyak kaum pribumi yang dapat memperoleh pendidikan apalagi melanjutkan ke sekolah lanjutan yang lebih tinggi dengan bahasa [[Belanda]]. Emma termasuk wanita pertama melanjutkan ke MULO. Kemudian Emma pindah ke MULO Salemba di [[Batavia]], tamat tahun [[1921]]. Pada [[1957]] dia memperoleh Certificate of Achievement di bidang Cooperative Administration dari School for Workers, University of Wisconsin, [[Amerika Serikat]].<ref>{{cite web|url=http://www.kompasiana.com/jurnalgemini/bandung-1957-1-ketegangan-politik-pusat-daerah-dan-pergantian-pimpinan-politik-dan-militer-di-jawa-barat_54f41cb0745513982b6c87a5 |title=Emma Poeradiredja aktif berorganisasi sedari remaja hingga akhir hayat pada masa Republik masih dalam gagasan untuk menjadi Indonesia |date=17 Oktober 2014|accessdate=June 29, 2015|last=Sjafari|first=Irvan|publisher=Kompasiana.com/jurnalgemini}}</ref>
=== Zaman Hindia Belanda ===
Di zaman [[Hindia Belanda]] pada waktu masih duduk di kelas satu MULO Emma sudah masuk menjadi anggota [[Bond Inlandsche Studeerenden]] {{refn|group=note|name=bis|BIS yang didirikan tahun 1917, diketuai oleh Wiwoho, beranggotakan pemuda–pemudi pelajar dari pelbagai Sekolah Lanjutan seperti HBS ([[Hogere Burger School]]), [[Mulo]] ([[Mulo|Middelbare Uitgebreid Lager Onderwijs]]), [[Kweekschool]] (Sekolah Guru), [[Mosvia]] (Sekolah Pamongpraja), dan lain-lainnya)}}. Tahun 1918, Emma menjadi anggota [[Jong Java]], dan setelah tamat tahun [[1921]] dia diterima bekerja pada StaatspoorwegenStaatspoor en tramwegen (SS), sekarang PT. [[Kereta Api Indonesia]]. Sambil bekerja, Emma tetap aktif dalam pergerakan yaitu [[Kongres Pemuda Indonesia I]]. dan organisasi [[Jong Islamieten Bond]] sebagai Ketua Cabang Bandung, 1925.
 
Tahun 1927, Emma bersama Artini Djojopuspito, Sumardjo, Ayati, Emma Sumanegara, Suhara, Kasiah, Kartimi, dan Rusiah mendirikan [[Dameskring]]. Anggota-anggota Dameskring ini adalah perempuan muda terpelajar berasal dari perbagai suku bangsa di Bandung. Organisasi ini bertujuan menyiapkan para anggotanya melatih dan mengembangkan diri agar dapat menyebarluaskan cita-cita persatuan [[Indonesia]] dengan bermacam-macam usaha, misalnya masuk menjadi organisasi wanita yang sudah ada atau mendirikan organisasi wanita. {{refn|group=note|name=dameskring|Anggotanya terdiri dari orang yakni Ny. Emma Poeradiredja, Ny. Artini Djojopuspito, Ny. Sumardjo, Nona Ayati, Ny. Emma Sumanegara, Nona Suhara, Nona Kasiah, Nona Kartimi, Nona Rusiah. Ketuanya secara bergiliran adalah Ny. Artini Djojopoespito, Ny. Emma Poeradiredja, Ny. Emma Sumanegara, Nona Rusiah (yang kemudian menjadi Ny. Mr. [[Assaat]], mantan Presiden Republik Indonesia Yogya), Nona Ayati (kemudian menjadi Ny. Siditho), Nona Mimi Kartimi (kemudian menjadi Ny. Kridoharsojo), Ny. Soemardjo dan lain-lainnya.}} Kemudian Emma ikut pula aktif dalam [[Kongres Pemuda Indonesia II]] yang diadakan di Batavia pada tahun [[1928]].<ref>{{cite web|url=http://sundanet.com/article/content/45 |title=Dalam Kongres Paguyuban Pasundan 27 Juni 1931 di Bandung, ditetapkan bahwa Pasundan Bagian Istri yang dideklarasikan 30 April 1930 diganti menjadi "Pasundan Isteri" (PASI), yang rengrengan sesepuhnya diketuai Emma Poeradiredja |date=30 Aug 2001|accessdate=June 29, 2015|authors=Ki Sunda|publisher=SundaNet.com}}</ref>
 
Pada tanggal 30 April 1930 didirikanlah [[Pasundan Istri]] (PASI) untuk menampung aspirasi kaum perempuan. Sejak berdirinya, 1930-1970, Emma memimpin PASI sebagai Ketua Umum dan Penasihat Organisasi sampai akhir hayat. Emma terpilih sebagai Ketua Umum PASI kurang lebih 40 tahun karena keteguhan, dedikasi, dan perjuangan. Pengaruh besarnya kepercayaan masyarakat dan kaum perempuan Pasundan atau Jawa Barat kepada Emma salah satunya dengan berkembangnya Cabang PASI di setiap wilayah Tanah Priangan. Di kemudian hari Emma terpilih sebagai anggota [[Dewan Perwakilan Rakyat]]/[[Majelis Permusyawaratan Rakyat]] [[Republik Indonesia]] (DPR/MPR-RI).
Baris 76 ⟶ 83:
 
Selain giat dalam gerakan politik, Emma dikenal sebagai pekerja sosial yang membimbing dan mendidik masyarakat. Emma mendirikan dan menjadi Ketua Pengurus Panti Asuhan Bandung, mendirikan rumah untuk para perempuan tua atau panti jompo, ikut dalam gerakan rintisan [[Palang Merah Indonesia]] dengan menjadi perawat sekaligus pengurus, pemberantasan pelacuran, dan mencari solusi meringankan beban rakyat yang ditimpa bencana.
 
=== Jaman Jepang ===
Aktifitas organisasi dan politik dibatasi. Semua partai politik yang pada masa penjajahan Belanda masih diperbolehkan mengadakan kegiatan meski dalam pengawasan yang ketat dan keras, pada jaman pendudukan Jepang dilarang sama sekali dan hanya diijinkan aktif di organisasi yang diperkenankan Jepang. Emma aktif dalam gerakan Puteri dan Fuzinkai sebagai wakil ketua di Jawa dan Wakil Ketua Fuzinkai di kota Bandung
 
=== Pasca Kemerdekaan ===
Baris 83 ⟶ 93:
 
Setelah menduduki Yogyakarta, maka pada awal tahun 1949 banyaklah pejabat pemimpin Balai Besar Jawatan Kereta Api Republik Indonesia serta pegawai-pegawai yang lainnya yang diangkut kembali oleh Belanda ke Bandung untuk dipekerjakan pada [[Hoofaburean Staats Spoorwegen]] (SS) yang sekarang menjadi Balai Besar Perusahaan Jawatan Kereta Api Bandung. Emma termasuk orang-orang yang menolak kerjasama dan ditahan oleh Belanda. Pada masa Revolusi fisik, di kalangan kaum buruh kereta api, terutama di bagian lintas, banyak jatuh korban, untuk memberi pertolongan kepada mereka dan keluarga mereka, maka pada bulan Mei 1949, oleh Pengurus Besar Kereta Api didirikan sebuah “[[Stichting]]” atau yayasan yang disebut “[[Stichting Ongevallenfonds Spoorwegpersoneel]]” (SOS) atau Yayasan Fonds Kecelakaan Pegawai Kereta Api (YFKPKA) dan ditunjuk sebagai Direktur atau Pemimpin Yayasan ini ialah Emma. Kegiatan yayasan ini berlaku sampai tanggal 1 Januari 1949 dan sangat terbatas ruang geraknya. Yayasan ini hanya dapat memberikan uang sumbangan kematian atau uang sumbangan untuk orang yang cacat-tetap akibat terjadinya kecelakaan yang bukan karena kesalahan atau perbuatan orang itu sendiri.
 
Emma dikenakan tahanan rumah (huis arrest) oleh Belanda di Bandung. Pada saat itu Emma Poeradiredja ditawan Belanda setelah diciduk di kediaman Ir. Djuanda di Yogyakarta pada waktu Clash II (Agresi Belanda II) tahun 1948. 18 Pebruari 1949 ia bersama pejuang lainnya dibawa ke Jakarta dan dikenakan status sebagai tahanan kota (stadsarrest), baru dibebaskan pada bulan Mei 1949.
 
Setelah kedaulatan Republik Indonesia diakui oleh dunia pada akhir tahun [[1949]], maka kegiatan dan usaha SOS atau YFKPKA tidak sesuai lagi dengan keadaan dan suasana pada waktu itu. Pada bulan Juli 1950 nama yayasan itu diubah menjadi [[Yayasan Kematian Warga Kereta Api]] (YKWKA) Kegiatan yayasan yang baru ini ialah melanjutkan kegiatan SOS atau YFKPKA yang lama ditambah dan diperluas lagi dengan kegiatan-kegiatan antara lain berupa : Memberikan uang sumbangan dalam hal kematian biasa pegawai atau anggota, memberikan uang sumbangan dalam hal kematian isteri pegawai atau anggota, memberikan uang sumbangan dalam hal kematian anak pegawai atau anggota. Pada masa transisi ini jabatan Direktur atau Pemimpin YKWKA yang baru, dipilih dan ditunjuk Emma sendiri.