Buka menu utama

Perubahan

k
Pada bulan Mei 2009, pada waktu yang berdekatan dengan Konferensi Singapura, penerbit di [[Britania Raya]], Spokesman Books, menerbitkan buku yang ditulis oleh Nathaniel Mehr, berjudul ''Pertumpahan Darah Konstruktif di Indonesia: Amerika Serikat, Britania Raya dan Pembunuhan Massal di Indonesia 1965-1966'', sebuah survei tingkat-pengantar mengenai pembantaian dan dukungan Barat untuk Soeharto.
 
Pada 23 Juli 2012, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia ([[Komnas HAM]]) menyatakan pembantaian orang-orang yang dituduh komunis itu merupakan pelanggaran HAM yang berat. Setelah melakukan penyelidikan selama empat tahun, bukti dan hasil pemeriksaan saksi menunjukkan adanya sembilan kejahatan yang masuk kategori kejahatan terhadap kemanusiaan. Kesembilan pelanggaran HAM itu adalah pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa, perampasan kemerdekaan atau kebebasan fisik lainnya secara sewenang-wenang, penyiksaan, pemerkosaan dan kejahatan seksual lainnya, penganiayaan, dan penghilangan orang secara paksa.<ref>{{cite web
| url = http://stopimpunity.org/content/stopimpunity/eksekutif_summary_peristiwa_1965_4.pdf
| title = Pernyataan Komnas HAM tentang Hasil Penyelidikan Pelanggaran HAM yang Berat Peristiwa 1965-1966
| first =
| last = Komnas HAM
| author =
| authorlink =
| coauthors =
| date = 23
| month = July
| year = 2012
| work = Komnas HAM RI
| publisher =
| location = Jakarta
| page =
| pages =
| at =
| language = Bahasa Indonesia
| trans_title =
| format = PDF
| doi =
| archiveurl =
| archivedate =
| accessdate = 16-12-2016
| quote =
| ref =
| separator =
| postscript =
}}</ref>
 
Hasil penyelidikan Komnas HAM ini diserahkan ke [[Kejaksaan Agung]] dan [[Dewan Perwakilan Rakyat]]. Kewenangan untuk membuka pengadilan adhoc untuk pelanggaran HAM berat pada masa lalu ada di tangan Dewan Perwakilan Rakyat.<ref>{{cite web
18

suntingan