Buka menu utama

Perubahan

k
←Suntingan 125.163.59.233 (bicara) dibatalkan ke versi terakhir oleh Erik Fastman
[[Berkas:Hammer and sickle.svg|right|200px|thumb|Dalam pembantaian 1965-66, yang menjadi korban adalah orang-orang yang menjadi bagian dari [[PKI]] serta orang-orang yang dituduh sebagai komunis.]]
[[Berkas:P suharto.jpg|200px|right|thumb|[[Soeharto]] diduga kuat sebagai dalang di balik pembantaian 1965-1966.]]
'''Pembantaian di Indonesia 1965–1966''' (terkadang disebut sebagai '''Genosida di Indonesia'''<ref>Robert Cribb (2004). "[https://books.google.com/books?id=LoQo50YPzTUC&lpg=PP1&pg=PA133#v=onepage&q&f=false The Indonesian Genocide of 1965-1966]." Pada [[Samuel Totten]] (ed). ''Teaching about Genocide: Approaches, and Resources''. [[Information Age Publishing]], pp. 133-143. ISBN 1-59311-074-X</ref>) adalah peristiwa pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh [[komunis]] di [[Indonesia]] pada masa setelah terjadinya [[Gerakan 30 September]] di [[Indonesia]]. Diperkirakan lebih dari setengah juta orang dibantai dan lebih dari satu juta orang dipenjara dalam peristiwa tersebut. Pembersihan ini merupakan peristiwa penting dalam masa transisi ke [[Orde Baru]]: [[Partai Komunis Indonesia]] (PKI) dihancurkan, pergolakan mengakibatkan jatuhnya presiden [[Soekarno]], dan kekuasaan selanjutnya diserahkan kepada [[Soeharto]].
 
Tragedi kemanusiaan ini berawal dari konflik internal dalam tubuh Angkatan Darat yang muncul sebagai akibat kesenjangan perikehidupan antara tentara prajurit dengan tentara perwira. Konflik laten dalam tubuh Angkatan Darat yang sudah dimulai sejak 17 tahun sebelumnya, kemudian mendapatkan jalan manifestasinya ketika muncul isu tentang rencana Kudeta terhadap kekuasaan Soekarno yang akan dilancarkan oleh Dewan Jenderal. Perwira-perwira Angkatan Darat yang mendukung kebijakan Sosialisme Soekarno kemudian memutuskan untuk melakukan manuver (aksi) polisionil dengan menghadapkan tujuh orang Jendral yang diduga mengetahui tentang Dewan Jendral ini ke hadapan Soekarno. Target operasi adalah menghadapkan hidup-hidup ketujuh orang Jendral tersebut. Fakta yang terjadi kemudian adalah tiga dari tujuh orang Jendral yang dijemput paksa tersebut, sudah dalam keadaan anumerta.
== Pembersihan politik ==
{{Sejarah Indonesia}}
Pemimpin-pemimpin militer yang diduga sebagai simpatisan PKI dicabut jabatannya.<ref name="schwarz21"/> [[Majelis Permusyawaratan Rakyat]] Sementara dan Kabinet 100 Menteri dibersihkan dari pendukung-pendukung Soekarno. Pemimpin-pemimpin PKI segera ditangkap, bahkan beberapa dibunuh pada saat penangkapan, sisanya dihukum mati melalui proses persidangan pura-pura untuk konsumsi HAM Internasional.<ref name="Vicker_157"/> Petinggi angkatan bersenjata menyelenggarakan demonstrasi di Jakarta.<ref name="Vicker_157"/> Pada tanggal 8 Oktober, markas PKI Jakarta dibakar.<ref name="Vickers 2005, hlm. 157">Vickers (2005), hlm. 157</ref><ref name="Ricklefs 1991, hlm. 287">Ricklefs (1991), hlm. 287</ref> Kelompok pemuda anti-komunis dibentuk, contohnya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), dan Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI).<ref name="Ricklefs_287"/> Di [[Jakarta]] dan [[Jawa Barat]], lebih dari 10.000 aktivis dan petinggi PKI ditangkap, salah satunya [[Pramoedya Ananta Toer]].<ref name="Ricklefs_287"/>
 
== Pembantaian ==
Pembersihan dimulai pada Oktober 1965 di Jakarta, yang selanjutnya menyebar ke Jawa Tengah dan Timur, dan Bali. Pembantaian dalam skala kecil dilancarkan di sebagian daerah di pulau-pulau lainnya,<ref name="Cribb 1990, p. 3">Cribb (1990), hlm. 3.</ref> terutama [[Sumatera]]. Pembantaian terburuk meletus di Jawa Tengah dan Timur.<ref name="Schwarz 1994, p. 20"/><ref name="Ricklefs 1991, hlm. 287"/> Korban jiwa juga dilaporkan berjatuhan di Sumatera utara dan Bali.<ref name="Schwarz 1994, p. 20"/> Petinggi-petinggi PKI diburu dan ditangkap: petinggi PKI, [[Njoto]], ditembak pada tanggal 6 November, ketua PKI [[Dipa Nusantara Aidit]] pada 22 November, dan Wakil Ketua PKI [[M.H. Lukman]] segera sesudahnya.<ref name="Vickers 2005, hlm. 157"/><ref name="Ricklefs 1991, hlm. 288">Ricklefs (1991), hlm. 288</ref>
 
Kebencian terhadap komunis dikobarkan oleh angkatan darat, sehingga banyak penduduk Indonesia yang ikut serta dalam pembantaian ini.<ref>Taylor (2003), hlm. 357.</ref> Peran angkatan darat dalam peristiwa ini tidak pernah diterangkan secara jelas.<ref name="Schwarz 1994, p. 21">Schwarz (1994), hlm. 21.</ref> Di beberapa tempat, angkatan bersenjata melatih dan menyediakan senjata kepada milisi-milisi lokal.<ref name="Cribb 1990, p. 3"/> Di tempat lain, para ''vigilante'' mendahului angkatan bersenjata, meskipun pada umumnya pembantaian tidak berlangsung sebelum tentara mengenakan sanksi kekerasan.<ref>Vickers (2005), hlm. 158–159</ref><ref>Cribb (1990), hlm. 3,21.</ref>
Di beberapa tempat, angkatan bersenjata melatih dan menyediakan senjata kepada milisi-milisi lokal. Milisi tahu tempat bermukimnya komunis dan simpatisannya, sementara di tempat lain tentara meminta daftar tokoh komunis dari kepala desa.<ref>Taylor (2003), hlm.357.</ref> Keanggotaan PKI tidak disembunyikan dan mereka mudah ditemukan dalam masyarakat.<ref>McDonald (1980), hlm. 52</ref> Kedutaan Besar [[Amerika Serikat]] di Jakarta menyediakan daftar 5.000 orang yang diduga komunis kepada angkatan bersenjata Indonesia.<ref>Vickers (2003), hlm. 157</ref><ref>Friend (2003), hlm. 117.</ref>
 
Di beberapa tempat, angkatan bersenjata melatih dan menyediakan senjata kepada milisi-milisi lokal. Milisi tahu tempat bermukimnya komunis dan simpatisannya, sementara di tempat lain tentara meminta daftar tokoh komunis dari kepala desa.<ref>Taylor (2003), hlm.357.</ref> Keanggotaan PKI tidak disembunyikan dan mereka mudah ditemukan dalam masyarakat.<ref>McDonald (1980), hlm. 52</ref> Kedutaan Besar [[Amerika Serikat]] di Jakarta menyediakan daftar 5.000 orang yang diduga komunis kepada angkatan bersenjata Indonesia.<ref>Vickers (2003), hlm. 157</ref><ref>Friend (2003), hlm. 117.</ref>
 
Beberapa cabang PKI melancarkan perlawanan dan pembunuhan balasan, tetapi sebagian besar sama sekali tidak mampu melawan.<ref>McDonald (1980), hlm. 53</ref><ref name="Shadowplay"/> Tidak semua korban merupakan anggota PKI. Seringkali cap "PKI" diterapkan pada tokoh-tokoh [[Partai Nasional Indonesia]] (PNI) yang beraliran kiri.<ref name="Vickers_158">Vickers (2005), hlm. 158</ref> Dalam kasus-kasus lainnya, para korban merupakan orang-orang yang hanya dituduh atau diduga komunis.<ref name="Ricklefs_287"/>
 
Warga keturunan Tionghoa juga turut menjadi korban. Beberapa dari mereka dibunuh, dan harta benda mereka dijarah.<ref name="Vickers_158"/> Di [[Kalimantan Barat]], sekitar delapan belas bulan setelah pembantaian di Jawa, [[suku Dayak|orang-orang Dayak]] mengusir 45.000 warga keturunan Tionghoa dari wilayah pedesaan. Ratusan hingga ribuan di antara mereka tewas dibantai.<ref name="Schwarz 1994, p. 21">Schwarz (1994), hlm. 21.</ref>
 
Metode pembantaian meliputi penembakan atau pemenggalan dengan menggunakan [[Katana|pedang samurai]] Jepang. Mayat-mayat dilempar ke sungai, hingga pejabat-pejabat mengeluh karena sungai yang mengalir ke [[Surabaya]] tersumbat oleh jenazah. Di wilayah seperti [[Kediri]], [[Gerakan Pemuda Ansor]] [[Nahdlatul Ulama]] menyuruh orang-orang komunis berbaris. Mereka lalu menggorok leher orang-orang tersebut, lalu jenazah korban dibuang ke sungai.<ref name="Schwarz 1994, p. 21"/><ref name="Vickers_158"/> Pembantaian ini mengosongkan beberapa bagian desa, dan rumah-rumah korban dijarah atau diserahkan ke angkatan bersenjata.<ref name="Vickers_158"/>
 
== Jumlah korban ==
Meskipun garis besar peristiwa diketahui, namun tidak banyak yang diketahui mengenai pembantaiannya,<ref name="Cribb 1990, p. 3"/> dan jumlah pasti korban meninggal hampir tak mungkin diketahui.<ref>Cribb (1990), hlm. 14.</ref> Hanya ada sedikit wartawan dan akademisi Barat di Indonesia pada saat itu. Angkatan bersenjata merupakan satu dari sedikit sumber informasi, <!--perjalanannya sulit,--> sementara rezim yang melakukan pembantaian berkuasa sampai tiga dasawarsa.<ref>Cribb (1990), hlm. 3–4</ref> Media di Indonesia ketika itu dibatasi oleh larangan-larangan di bawah "Demokrasi Terpimpin" dan oleh "Orde Baru" yang mengambil alih pada Oktober 1966.<ref>Crouch, hlm. 65–66; Oey Hong Lee (1971).</ref> Karena pembantaian terjadi di puncak [[Perang Dingin]], hanya sedikit penyelidikan internasional yang dilakukan, karena berisiko memperkusut prarasa Barat terhadap Soeharto dan "Orde Baru" atas PKI dan "Orde Lama".<ref>Cribb (1990), hlm. 5.</ref>
 
Dalam waktu 20 tahun pertama setelah pembantaian, muncul tiga puluh sembilan perkiraan serius mengenai jumlah korban.<ref name="Friend 2003, p. 113"/> Sebelum pembantaian selesai, angkatan bersenjata memperkirakan sekitar 78.500 telah meninggal<ref>Crouch, ''Army and politics'', hlm. 155, dikutip dalam Cribb (1990). hlm. 7.</ref> sedangkan menurut orang-orang komunis yang trauma, perkiraan awalnya mencapai 2 juta korban jiwa.<ref name="Friend 2003, p. 113"/> Di kemudian hari, angkatan bersenjata memperkirakan jumlah yang dibantai dapat mencapai sekitar 1 juta orang.<ref name="Vickers 2005, p. 159"/> Pada 1966, [[Benedict Anderson]] memperkirakan jumlah korban meninggal sekitar 200.000 orang dan pada 1985 mengajukan perkiraan mulai dari 500,000 sampai 1 juta orang.<ref name="Friend 2003, p. 113"/> Sebagian besar sejarawan sepakat bahwa setidaknya setengah juta orang dibantai,<ref name="Ricklefs 1991, p. 288"/><ref name="Vickers 2005, hlm. 159"/><ref>Friend (2003), hlm. 113</ref><ref>{{cite journal |title=Unresolved Problems in the Indonesian Killings of 1965–1966 |author=Robert Cribb |journal=Asian Survey |volume=42 |issue=4 |year=2002 |pages=550–563 |doi=10.1525/as.2002.42.4.550}}</ref> lebih banyak dari peristiwa manapun dalam sejarah Indonesia.<ref name="Ricklefs 1991, p. 288"/> Suatu komando keamanan angkatan bersenjata memperkirakan antara 450.000 sampai 500.000 jiwa dibantai.<ref name="McDonald 1980, p. 53"/>
}}</ref>
 
Pada 2015, Presiden [[Joko Widodo]] dikabarkan berencana memberikan ucapan minta maaf terhadap [[PKI]] atas terjadinya pembantaian 1965.<ref>http://politik.rmol.co/read/2015/07/11/209699/Rencana-Jokowi-Minta-Maaf-ke-PKI-Sesuai-Janji-Kampanye-Pilpres- </ref> Kabar ini lantas ditentang oleh [[FPI]] dan lembaga Kristen.<ref>http://www.pribuminews.com/2015/08/13/fpi-dan-lembaga-kristen-bekerjasama-untuk-tolak-permohonan-maaf-presiden-kepada-pki/</ref> Jokowi kemudian menegaskan bahwa ia tidak berpikiran untuk meminta maaf kepada PKI melainkan untuk korban pelanggaran HAM.<ref>http://www.rappler.com/indonesia/107717-jokowi-tidak-minta-maaf-pki-tragedi-1965</ref>
 
== Lihat pula ==