Ahmad Syafii Maarif: Perbedaan revisi

513 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
k
Bot: Memperbaiki pengalihan
(→‎Kontroversi: mistype)
k (Bot: Memperbaiki pengalihan)
|birth_name =
|birth_date = {{Birth date|1935|05|31|mf=y}}
|birth_place = {{flagicon|Belanda}} [[Sumpur Kudus, Sijunjung|Sumpurkudus]], [[Kabupaten Sijunjung|Sijunjung]], [[Sumatra Barat|Sumatera Barat]]
|death_date =
|death_place =
|president =
|predecessor = [[Amien Rais|Prof. Dr. H. Amien Rais]]
|successor = [[SirajuddinDin Syamsuddin|Prof. Dr. KH. Din Syamsuddin]]
|party =
|boards = Maarif Institute for Culture and Humanity
|partner =
|children =
|alma_mater = [[Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta|Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta]] (1956)<br /> [[Universitas Cokroaminoto Surakarta]] (1964)<br /> [[Universitas Negeri Yogyakarta|IKIP Yogyakarta]] (1968)<br /> [[Universitas Negeri Ohio|Ohio State University]]<br /> [[Chicago University]] (1993)
|relations =
|website =
}}
 
'''Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif''' ({{lahirmati|[[Sumpur Kudus, Sijunjung|Sumpurkudus]], [[Kabupaten Sijunjung|Sijunjung]], [[Sumatra Barat|Sumatera Barat]]|31|5|1935}}) adalah seorang ulama, ilmuwan dan pendidik [[Indonesia]]. Ia pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat [[Muhammadiyah]], Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan pendiri Maarif Institute, dan juga dikenal sebagai seorang tokoh yang mempunyai komitmen kebangsaan yang tinggi.<ref>[http://maarifinstitute.org/id/tentang-kami/profil#.UXOWKKI0yyo Situs Resmi Maarif Institute]</ref> Sikapnya yang plural, kritis, dan bersahaja telah memposisikannya sebagai "Bapak Bangsa". Ia tidak segan-segan mengkritik sebuah kekeliruan, meskipun yang dikritik itu adalah temannya sendiri.
 
== Kehidupan ==
=== Kehidupan awal ===
Ahmad Syafii Maarif lahir di Nagari Calau, [[Sumpur Kudus, Sijunjung|Sumpur Kudus]], [[Orang Minangkabau|Minangkabau]] pada 31 Mei 1935.{{sfn|Maarif|2009|pp=1–30}} Ia lahir dari pasangan Ma'rifah Rauf Datuk Rajo Malayu, dan Fathiyah.{{efn|Ayahnya beberapa kali menikah, dan Fathiyah merupakan istri pertama dari tiga istri ayahnya. Setahun setelah ibunya meninggal, ayahnya kembali menikah dengan dua orang perempuan, yakni Maran dan Lamsiah.{{sfn|Maarif|2009|pp=71–80}}}} Ia bungsu dari 4 bersaudara seibu seayah, dan seluruhnya 15 orang bersaudara seayah berlainan ibu.{{sfn|Maarif|2009|pp=71–80}} Ayahnya adalah saudagar gambir, yang belakangan diangkat sebagai kepala suku di kaumnya.{{sfn|Maarif|2009|pp=31–70}} Sewaktu Syafii berusia satu setengah tahun, ibunya meninggal. Syafii kemudian dititipkan ke rumah adik ayahnya yang bernama Bainah, yang menikah dengan adik seibu ibunya yang bernama A. Wahid.{{sfn|Maarif|2009|pp=31–70}}
 
Pada tahun 1942, ia dimasukkan ke sekolah rakyat (SR, setingkat SD) di [[Sumpur Kudus, Sijunjung|Sumpur Kudus]].{{sfn|Maarif|2009|pp=1–30}} Sepulang sekolah, Pi'i, panggilan akrabnya semasa kecil,{{sfn|Maarif|2009|pp=101–110}} belajar agama ke sebuah [[Madrasah ibtidaiyah|Madrasah Ibtidaiyah]] (MI) [[Muhammadiyah]] pada sore hari dan malamnya belajar [[mengaji]] di [[surau]] yang berada di sekitar tempat ia tinggal, sebagaimana umumnya anak laki-laki di [[Orang Minangkabau|Minangkabau]] pada masa itu.{{sfn|Maarif|2009|pp=31–70}} Pendidikannya di SR, yang harusnya ia tempuh selama enam tahun, dapat ia selesaikan selama lima tahun. Ia tamat dari SR pada tahun 1947, tetapi tidak memperoleh [[ijazah]] karena pada masa itu terjadi perang [[Sejarah Indonesia (1945–1949)|revolusi kemerdekaan]].{{sfn|Maarif|2009|pp=81–100}} Namun, setelah tamat, karena beban ekonomi yang ditanggung ayahnya, ia tidak dapat meneruskan sekolahnya selama beberapa tahun.{{sfn|Maarif|2009|pp=1–30}} Baru pada tahun 1950, ia masuk ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah di [[Balai Tangah, Lintau Buo Utara, Tanah Datar|Balai Tangah]], [[Lintau Buo Utara, Tanah Datar|Lintau]] sampai duduk di bangku kelas tiga.{{sfn|Maarif|2009|pp=71–80}}
 
=== Merantau ke Jawa ===
Pada tahun 1953, dalam usia 18 tahun, ia meninggalkan kampung halamannya untuk [[merantau]] ke [[Jawa]]. Bersama dua adik sepupunya, yakni Azra'i dan Suward, ia diajak belajar ke [[Daerah Istimewa Yogyakarta|Yogyakarta]] oleh M. Sanusi Latief.{{sfn|Maarif|2009|pp=81–100}} Namun, sesampai di Yogyakarta, niatnya semula untuk meneruskan sekolahnya ke Madrasah [[Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta|Muallimin]] di kota itu tidak terwujud, karena pihak sekolah menolak menerimanya di kelas empat dengan alasan kelas sudah penuh.{{sfn|Maarif|2009|pp=81–100}} Tidak lama setelah itu, ia justru diangkat menjadi guru [[bahasa Inggris]] dan [[bahasa Indonesia]] di sekolah tersebut tetapi tidak lama. Pada saat bersamaan, ia bersama Azra'i mengikuti sekolah montir sampai akhirnya lulus setelah beberapa bulan belajar.{{sfn|Maarif|2009|pp=81–100}} Setelah itu, ia kembali mendaftar ke Muallimin dan akhirnya ia diterima tetapi ia harus mengulang kuartal terakhir kelas tiga. Selama belajar di sekolah tersebut, ia aktif dalam organiasi kepanduan [[Hizbul Wathan]] dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah ''Sinar'' (Kini Dibawahi oleh [[Lembaga Pers Mu'allimin]]), sebuah majalah pelajar [[Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta|Muallimin]] di Yogyakarta.
 
Setelah ayahnya meninggal pada 5 Oktober 1955, kemudian ia tamat dari [[Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta|Muallimin]] pada 12 Juli 1956, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya, terutama karena masalah biaya.{{sfn|Maarif|2009|pp=101–110}} Dalam usia 21 tahun, tidak lama setelah tamat, ia berangkat ke [[Pulau Lombok|Lombok]] memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah dari Lombok untuk menjadi guru. Sesampai di [[Kabupaten Lombok Timur|Lombok Timur]], ia disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat, lalu menuju sebuah kampung di [[Pohgading, Pringgabaya, Lombok Timur|Pohgading]] tempat ia ditugaskan sebagai guru.{{sfn|Maarif|2009|pp=101–110}} Setelah setahun lamanya mengajar di sebuah sekolah Muhammadiyah di Pohgading, sekitar bulan Maret 1957, dalam usia 22 tahun, ia mengunjungi kampung halamannya,{{sfn|Maarif|2009|pp=111–140}} kemudian kembali lagi ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di [[Kota Surakarta|Surakarta]].{{sfn|Maarif|2009|pp=111–140}} Sesampai di Surakarta, ia masuk ke [[Universitas Cokroaminoto Yogyakarta|Universitas Cokroaminoto]] dan memperoleh gelar sarjana muda pada tahun 1964.{{sfn|Maarif|2009|pp=141–160}} Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya untuk tingkat [[doktoraldoktor]]al pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP (sekarang [[Universitas Negeri Yogyakarta]]) dan tamat pada tahun 1968.{{sfn|Maarif|2009|pp=161–171}} Selama kuliah, ia sempat menggeluti beberapa pekerjaan untuk melangsungkan hidupnya. Ia pernah menjadi guru mengaji dan buruh sebelum diterima sebagai pelayan toko kain pada 1958.{{sfn|Maarif|2009|pp=111–140}} Setelah kurang lebih setahun bekerja sebagai pelayan toko, ia membuka dagang kecil-kecilan bersama temannya, kemudian sempat menjadi guru honorer di [[Baturetno, Wonogiri|Baturetno]] dan [[Kota Surakarta|Solo]].{{sfn|Maarif|2009|pp=111–140}}{{sfn|Maarif|2009|pp=141–160}} Selain itu, ia juga sempat menjadi redaktur ''[[Suara Muhammadiyah]]'' dan anggota [[Persatuan Wartawan Indonesia]].{{sfn|Maarif|2009|pp=161–171}}
 
=== Karier ===
Selanjutnya bekas aktivis [[Himpunan Mahasiswa Islam]] ini, terus meneruskan menekuni [[sejarah|ilmu sejarah]] dengan mengikuti Program Master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, AS. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, [[Universitas Chicago]], AS, dengan disertasi : ''Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia''.
 
Selama di [[Chicago]] inilah, anak bungsu dari empat bersaudara ini, terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap [[Al-Qur'an|Al-Quran]], dengan bimbingan dari seorang tokoh pembaharu pemikiran [[Islam]], [[Fazlur Rahman]]. Di sana pula, ia kerap terlibat diskusi intensif dengan [[Nurcholish Madjid]] dan [[Amien Rais]] yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.
 
Penulis Damiem Demantra membuat sebuah novel tentang masa kecil Ahmad Syafi'i Maarif, yang berjudul 'Si Anak Kampung'.{{sfn|Ismail|2010}} Novel ini telah difilmkan dan meraih penghargaan pada [[America International Film Festival]] (AIFF).{{sfn|Kusumadewi & Rachmawati|2011}}
 
=== Aktivitas ===
Setelah meninggalkan posisnya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, kini ia aktif dalam komunitas Maarif Institute. Di samping itu, [[profesor|guru besar]] IKIP Yogyakarta ini, juga rajin menulis, di samping menjadi pembicara dalam sejumlah seminar. Sebagian besar tulisannya adalah masalah-masalah Islam, dan dipublikasikan di sejumlah media cetak. Selain itu ia juga menuangkan pikirannya dalam bentuk buku. Bukunya yang sudah terbit antara lain berjudul : ''Dinamika Islam'' dan ''Islam, Mengapa Tidak?'', kedua-duanya diterbitkan oleh Shalahuddin Press, [[1984]]. Kemudian ''Islam dan Masalah Kenegaraan'', yang diterbitkan oleh [[LP3ES]], [[1985]]. Atas karya-karyanya, pada tahun 2008 Syafii mendapatkan penghargaan [[Ramon Magsaysay Award|Ramon Magsaysay]] dari pemerintah [[Filipina]].{{sfn|Fauzi|2008}}
 
== Kontroversi ==
== Karya tulis ==
 
* ''Mengapa Vietnam Jatuh Seluruhnya ke Tangan Komunis'', Yayasan FKIS-IKIP, [[Daerah Istimewa Yogyakarta|Yogyakarta]], [[1975]]
* ''Dinamika Islam'', Shalahuddin Press, [[1984]]
* ''Islam, Mengapa Tidak?'', Shalahuddin Press, [[1984]]
|title = "Si Anak Kampoeng", Dilema Buya Syafii Cilik
|date = 2011-04-21
|work = [[VIVA.co.id|VIVAnews]]
|ref = {{sfnRef|Kusumadewi & Rachmawati|2011}}
}}
|title = Peluncuran "Si Anak Kampung" Syafii Maarif Dihadiri Para Tokoh
|date = 11 Februari 2010
|work = [[DetikCom|Detik.com]]
|ref = {{sfnRef|Ismail|2010}}
}}
 
{{kotak mulai}}
{{kotak suksesi|jabatan= [[Muhammadiyah#Daftar Ketua Umum|Ketua Umum Muhammadiyah]] |tahun=2000—2005|pendahulu=[[Amien Rais]] |pengganti=[[Muhammad Sirajuddin Syamsuddin|Din Syamsuddin]]}}
{{kotak selesai}}