Antasari Azhar: Perbedaan revisi

361 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
k
Bot: Memperbaiki pengalihan
(menambah jabatan kepala kejari jaksel)
k (Bot: Memperbaiki pengalihan)
|term_start = 2007
|term_end = 2009
|vicepresident =[[Muhammad Jusuf Kalla|Jusuf Kalla]]
|viceprimeminister =
|deputy =
|majority =
|birth_date = {{Birth date and age|1953|3|18}}
|birth_place = {{Negara|Indonesia}} [[Kota Pangkal Pinang|Pangkal Pinang]], [[Kepulauan Bangka Belitung|Bangka Belitung]]
|death_date =
|death_place =
|facebookpage =
|twitter =
|office2=Kepala [[Kejaksaan negeri|Kejaksaan Negeri]] [[Kota Administrasi Jakarta Selatan|Jakarta Selatan]]|term_end2=2007|term_start2=2000}}
'''Antasari Azhar''' ({{lahirmati|[[Kota Pangkal Pinang|Pangkal Pinang]], [[Kepulauan Bangka Belitung]]|18|3|1953}}) adalah mantan Ketua [[Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia|Komisi Pemberantasan Korupsi]] (KPK). Dia diberhentikan secara tetap dari jabatannya pada tanggal [[11 Oktober]] [[2009]] oleh Presiden [[Susilo Bambang Yudhoyono]], setelah diberhentikan sementara pada tanggal 6 Mei 2009. Pada 11 Februari 2010 Antasari divonis hukuman penjara 18 tahun karena terbukti bersalah turut serta melakukan pembujukan untuk membunuh Nasrudin Zulkarnaen,namun kasus ini menjadi kontroversi karena masyarakat Indonesia meyakini adanya kriminalisasi KPK,dimana Antasari sangat gigih berjuang untuk membersihkan Indonesia dari praktik KKN [[Korupsi Kolusi dan Nepotisme]] melalui KPK .<ref>{{cite web |last=detikNews |first = |authorlink = |coauthors = |year=2010 |url=http://www.detiknews.com/read/2010/02/11/003025/1297125/10/lika-liku-10-bulan-penantian-antasari |title=Lika-liku 10 Bulan Penantian Antasari |format = |work = |publisher = |accessdate=12 Februari |accessyear=2010 |archiveurl = |archivedate = |quote = }}</ref>
 
== Keluarga ==
Antasari Azhar adalah anak ke-4 dari 15 bersaudara, anak dari pasangan H. Azhar Hamid, S.H. dan Hj. Asnani (alm.). Ayah dari Antasari Azhar pernah menjabat sebagai kepala kantor pajak di [[Kepulauan Bangka Belitung|Bangka Belitung]].
 
== Pendidikan ==
Antasari menghabiskan masa kecilnya di [[Pulau Belitung|Belitung]]. Baru setelah menamatkan pendidikan SD-nya pada tahun 1965, dia melanjutkan pendidikan SMP dan SMA di [[Daerah Khusus Ibukota Jakarta|Jakarta]] sampai lulus pada tahun 1971. Dia melanjutkan pendidikannya dengan masuk Fakultas Hukum [[Universitas Sriwijaya]], Jurusan Tata Negara dan menamatkannya pada tahun 1981. Pada saat kuliah Antasari sangat aktif berorganisasi. Ia menjadi Ketua Senat Mahasiswa dan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa. Bahkan dia dengan bangga mengakui bahwa dirinya adalah bekas demonstran pada tahun 1978. Selain pendidikan formal tersebut, selama dalam karier kejaksaannya, Antasari juga mengikuti sejumlah kursus di antaranya: Commercial Law di New South Wales University Sydney dan Investigation for environment law, EPA, Melbourne.
 
== Karier kejaksaan ==
Antasari memulai kariernya dengan bekerja di BPHN Departemen Kehakiman (1981-1985). Keinginannya menjadi seorang diplomat pun akhirnya berganti setelah dia diterima menjadi jaksa fungsional di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat yang dijalaninya dari tahun 1985 sampai 1989. Keinginannya untuk tidak pernah berhenti belajar membuat kariernya semakin meningkat. Tercatat setelah itu, dia menjadi Jaksa Fungsional di Kejaksaan Negeri Tanjung Pinang (1989-1992), Kasi Penyidikan Korupsi Kejaksaan Tinggi Lampung (1992-1994) dan kemudian Kasi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Jakarta Barat (1994-1996). Antasari mulai merasakan posisi puncak dengan menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Baturaja (1997-1999).
 
Setelah itu ia mulai berkarier di jajaran [[Kejaksaan Agung Republik Indonesia|Kejaksaan Agung]]. Tahun 1999, ia menjadi Kasubdit upaya hukum pidana khusus Kejaksaan Agung, Kasubdit Penyidikan Pidana khusus Kejaksaan Agung (1999-2000) dan terakhir Kepala bidang hubungan media massa Kejaksaan Agung (2000).
 
Namun sebenarnya jabatannya saat menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan (2000-2007) yang membuat namanya pertama kali dikenal secara luas di publik. Pada saat itu dia gagal mengeksekusi [[Hutomo Mandala Putra|Tommy Soeharto]] begitu putusan MA turun. Ketika eksekusi paksa hendak dilakukan setelah panggilan pada siang harinya tidak berhasil, Tommy sudah tidak ada lagi di Cendana. Kejadian tersebut memunculkan kesan di masyarakat kesan kalau Antasari sengaja mengulur-ulur waktu eksekusi.
 
== Ketua KPK ==
Kontroversi itu tidak menghalangi pengangkatannya menjadi Ketua KPK setelah berhasil mengungguli calon lainnya yaitu [[Chandra Hamzah|Chandra M. Hamzah]] dengan memperoleh 41 suara dalam pemungutan suara yang dilangsungkan Komisi III DPR. Kiprahnya sebagai Ketua KPK langsung mencuri perhatian setelah KPK mebuat gebrakan di antaranya menangkap Jaksa [[Urip Tri Gunawan]] dan [[Artalyta Suryani]] dalam kaitan penyuapan kasus [[Bantuan Likuiditas Bank Indonesia|BLBI]] [[Syamsul Nursalim]]. Kemudian juga penangkapan Al Amin Nur Nasution dalam kasus persetujuan pelepasan kawasan hutan lindung Tanjung Pantai Air Telang, Sumatera Selatan.
 
== Kasus pidana ==
{{S-start}}
{{s-gov}}
{{kotak suksesi|jabatan=[[Komisi Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia|Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi]]|pendahulu= [[Taufiequrachman Ruki]] |pengganti=[[Tumpak Hatorangan Panggabean]]<small><br/>(Pelaksana Tugas)<small>|tahun=2007-2011|tahun=2007-2009}}
{{End}}