Buka menu utama

Perubahan

k
Bot: Penggantian teks otomatis (- tapi + tetapi)
Joseph Lazarsky, wakil kepala CIA di [[Jakarta]], mengatakan bahwa konfirmasi pembantaian datang langsung dari markas Soeharto. "Kami memperoleh laporan yang jelas di Jakarta mengenai siapa-siapa saja yang harus ditangkap," kata Lazarsky. "Angkatan bersenjata memiliki 'daftar tembak' yang berisi sekitar 4,000 sampai 5,000 orang. Mereka tidak memiliki cukup tentara untuk membinasakan mereka semua, dan beberapa orang cukup berharga untuk diinterogasi. Infrastruktur milik PKI dengan cepat dilumpuhkan. Kami tahu apa yang mereka lakukan... Soeharto dan para penasehatnya mengatakan, jika kamu membiarkan mereka hidup, kamu harus memberi mereka makan."<ref name=SFE>''San Francisco Examiner'', 20 Mei 1990</ref><ref>''The Washington Post'', 21 Mei 1990.</ref>
 
Duta Besar Amerika di Jakarta adalah [[Marshall Green]], yang dikenal di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat sebagai "ahli kudeta". Green telah tiba di Jakarta hanya beberapa bulan sebelumnya, membawa serta reputasi karena telah mendukung penggulingan diktator Korea [[Syngman Rhee]], yang telah keluar bersama Amerika. Ketika pembantaian berlangsung di Indonesia, manual mengenai pengorganisasian pelajar, yang ditulis dalam [[bahasa Inggris]] dan [[bahasa Korea]], disebarkan oleh kedutaan Amerika Serikat ke Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).<ref name=pilger>Pilger, John. 2002. ''The New Rulers of the World.''</ref> Amerika Serikat juga secara langsung mendanai mereka yang berpartisipasi dalam penindasan terhadap orang-orang komunis. Pada tanggal 2 Desember 1965, Green mendukung rencana untuk menyediakan lima puluh juta [[rupiah]] untuk apa yang disebutnya sebagai "gerakan Kap-Gestapu," yang dia gambarkan sebagai "kelompok aksi sipil tapitetapi terilhami tentara" yang "membawa beban upaya represif yang ditujukan kepada PKI, terutama di Jawa Tengah." <ref name=Tele>Telegram, Kedutaan di Indonesia untuk Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Jakarta, 2 Desember 1965, FRUS 64–68, 379.</ref> Green tidak menyebutkan fakta bahwa "upaya represif saat ini" terhadap PKI di Jawa Tengah meliputi, menurut Konsulat Amerika Serikat di Medan, usaha untuk "membasmi semua orang PKI". Apakah dia menyadari fakta ini atau tidak, agak diragukan, karena ia sendiri mencatat bahwa Kedutaan Besar Amerika Serikat memiliki akses ke "laporan intelijen substansial" mengenai kegiatan Kap-Gestapu, kegiatan yang ia yakinkan pada Departemen Luar Negeri sebagai kegiatan yang "sepenuhnya sejalan dengan dan dikoordinasikan oleh tentara" dan yang ia puji sebagai kegiatan yang "sangat sukses".<ref>Telegram, Kedutaan di Indonesia untuk Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Jakarta, 2 Desember 1965, FRUS 64–68, 379–80.</ref>
 
Selain itu, Amerika Serikat memasok peralatan logistik penting pada jenderal-jenderal Indonesia. Para jenderal memintanya melalui penghubung yang ditunjuk di [[Bangkok]], [[Thailand]].<ref name="insideindonesia.org">{{cite web
 
== Perkembangan kontemporer ==
Setelah [[Kejatuhan Soeharto|Soeharto mundur]] bekat adanya reformasi 1998, Parlemen membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi untuk menganalisis pembunuhan massal, tapitetapi itu ditangguhkan oleh Pengadilan Tinggi. Sebuah konferensi akademis mengenai pembantaian diadakan di Singapura pada tahun 2009.<ref name=SMH>{{cite web
| url = http://www.smh.com.au/world/indonesia-unwilling-to-tackle-legacy-of-massacres-20090612-c63h.html
| title = Indonesia unwilling to tackle legacy of massacres
}}</ref>
 
Pembantaian ini telah banyak dihilangkan dari buku pelajaran sejarah Indonesia. Dalam buku pelajaran sejarah, disebutkan bahwa pembantaian ini adalah "kampanye patriotik" yang menghasilkan kurang dari 80.000 korban jiwa. Pada tahun 2004, buku-buku pelajaran diubah dan mencantumkan kejadian tersebut, tapitetapi kurikulum baru ini ditinggalkan pada tahun 2006 karena adanya protes dari kelompok militer dan Islam.<ref name=SMH/> Buku-buku pelajaran yang menyebutkan pembunuhan massal itu kemudian [[Pembakaran Buku|dibakar]],<ref name=SMH/> atas perintah [[Jaksa Agung Indonesia|Jaksa Agung]].<ref>{{cite web
| url = http://www.insideindonesia.org/weekly-articles/teaching-and-remembering
| title = Teaching and remembering: The legacy of the Soeharto era lingers in school history books
604.378

suntingan