Perang Salib Kedua: Perbedaan revisi

10 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (- tapi + tetapi)
k (Bot: Penggantian teks otomatis (- tapi + tetapi))
Sementara itu, [[Zengi]], seorang [[Atabeg]] dari [[Mosul]], merebut [[Aleppo]] pada tahun 1128. Aleppo merupakan kunci kekuatan di [[Suriah]]. Baik Zengi maupun raja Baldwin II mengalihkan perhatian mereka ke arah Damaskus. Sayangnya, Baldwin dapat ditaklukan di luar kota tersebut pada tahun 1129. Damaskus yang dikuasai oleh [[Dinasti Burid]], selanjutnya bersekutu dengan raja Fulk ketika Zengi mengepung kota Damaskus pada tahun 1139 dan tahun 1140.<ref name=RuncimanII227>{{harvnb|Runciman|1952|pp=227–228}}</ref>
 
Pada akhir tahun 1144, Joscelin II bersekutu dengan Ortoqid dan menyerang [[Edessa, Mesopotamia|Edessa]] dengan hampir seluruh pasukannya untuk membantu Ortoqid melawan [[Aleppo]]. Zengi, yang hendak mengambil kesempatan atas kematian Fulk tahun 1143, dengan cepat bergerak ke utara untuk [[pengepungan Edessa|mengepung Edessa]], yang akhirnya jatuh ke tangannya setelah sebulan pada tanggal [[24 Desember]] [[1144]]. [[Manasses dari Hierges]], [[Philip dari Milly]] dan lainnya dikirim dari Yerusalem untuk membantu, tetapi mereka sudah terlambat. Joscelin II terus menguasai sisa wilayah Edessa dari [[Turbessel]], tetapi sedikit demi sedikit sisa daerah tersebut direbut atau dijual kepada Bizantium. Zengi sendiri dipuji sebagai "pelindung kepercayaan" dan ''al-Malik al-Mansur'', "raja yang berjaya". Ia tidak menyerang sisa teritori Edessa, atau kerajaan Antiokhia. Peristiwa di Mosul memaksanya untuk pulang, dan ia sekali lagi mengalihkan perhatiannya pada Damaskus, namun ia dibunuh oleh seorang budak pada tahun 1146 dan digantikan oleh anaknya, [[Nuruddin]].<ref>Durant (1950) hal.594.</ref> Joscelin berusaha untuk merebut kembali Edessa dengan terbunuhnya Zengi, tapitetapi Nuruddin dapat mengalahkannya pada November 1146.
 
=== Reaksi dari Barat ===
Tentara salib Perancis berangkat dari [[Metz]] pada bulan Juni 1147, dipimpin oleh Louis, Thierry dari Elsas, [[Renaut I dari Bar]], [[Amadeus III dari Savoy]] dan saudaranya [[William V dari Montferrat]], William VII dari [[Auvergne]], dan lain-lain, bersama dengan pasukan [[Lorraine]], [[Bretagne]], [[Burgundi]], dan [[Aquitaine]]. Pasukan dari [[Provence]], dipimpin oleh Alphonse dari Tolosa, memilih untuk menunggu sampai bulan Agustus. Di [[Worms]], Louis bergabung dengan tentara salib dari [[Normandia]] dan Inggris. Mereka mengikuti rute Conrad dengan damai, meskipun Louis datang dalam konflik dengan Geza dari Hongaria sat Geza menemukan Louis telah mempersilakan orang Hongaria untuk bergabung dengan pasukannya.<ref>Runciman (1952) 259-263.</ref>
 
Sejak negosiasi awal di antara Louis dan Manuel, Manuel telah menghentikan kampanye militer melawan [[Kesultanan Rüm]] dan menandatangani gencatan senjata dengan [[Mas'ud dari Rüm|Mas'ud]]. Hal ini dilakukan sehingga Manuel dapat memusatkan perhatiannya pada pertahanan kekaisarannya dari tentara salib, yang memiliki reputasi buruk akibat pencurian dan pengkhianatan sejak [[Perang Salib Pertama]]. Mereka dituduh melakukan hal yang jahat di [[Konstantinopel]]. Hubungan Manuel dengan pasukan Perancis lebih baik daripada dengan orang Jerman. Beberapa orang Perancis marah karena gencatan senjata Manuel dengan Seljuk dan melakukan penyerangan di Konstantinopel, tapitetapi mereka dapat dikendalikan oleh Louis.<ref>Runciman (1952) hal.268-269.</ref>
 
Ketika pasukan dari Savoy, [[Auvergne]], dan [[Montferrat]] bergabung dengan Louis di Konstantinopel dengan melewati Italia dan menyeberang dari [[Brindisi]] menuju [[Durres]], seluruh pasukan mereka menyeberangi [[Bosporus]] menuju [[Asia Kecil]] melalui kapal. Mereka disemangati oleh rumor bahwa Jerman telah merebut [[Konya|Iconium]], tetapi Manuel menolak memberi Louis bantuan tentara Bizantium. Bizantium baru saja diserang oleh [[Roger II dari Sisilia]], dan seluruh pasukan Manuel dibutuhkan di Balkan. Baik Jerman dan Perancis memasuki Asia tanpa bantuan Bizantium, tidak seperti pada Perang Salib Pertama. Dalam tradisi yang dibuat oleh kakek dari Manuel, [[Alexios I Komnenos|Alexios I]], Manuel menyuruh orang Perancis untuk menyerahkan wilayah manapun yang direbutnya kepada Romawi Timur.<ref>Runciman (1952) hal.269</ref>
 
Pasukan Perancis bertemu sisa pasukan Conrad di [[Nicea]], dan Conrad bergabung dengan pasukan Louis. Mereka mengikuti rute Otto dari Freising, dan tiba di [[Efesus]] pada bulan Desember. Di situ, mereka menyadari bahwa Turki Seljuk mempersiapkan serangan terhadap mereka. Sementara itu, Manuel mengirim utusan yang menyatakan keluhan mengenai penjarahan dan perampasan yang dilakukan oleh Louis, dan tidak ada jaminan bahwa Bizantium akan membantu mereka melawan Turki Seljuk. Setelah itu, Conrad jatuh sakit dan kembali ke Konstantinopel. Louis tidak mendengarkan peringatan mengenai serangan Seljuk dan lalu bergerak keluar Efesus. Seljuk menunggu menyerang, tapitetapi dalam pertempuran kecil di luar [[Efesus]], pasukan Perancis berhasil memenangkan pertempuran.<ref>Runciman (1952) hal.270-271.</ref>
 
Mereka mencapai [[Denizli|Laodicea]] pada Januari [[1148]], hampir pada waktu yang sama ketika Otto dari Freising dihancurkan di tempat yang sama.<ref>Riley-Smith (1991) hal.51</ref> Perjalanan pun tetap dilanjutkan. Barisan depan dibawah pimpinan Amadeus dari Savoy terpisah dari pasukan di [[Gunung Cadmus]], sementara pasukan Louis mengalami kekalahan. Pasukan Turki tidak mengganggu dengan menyerang lebih lanjut dan pasukan Perancis bergerak menuju Adalia. Adalia telah dihancurkan oleh Seljuk, dan juga dibakar agar pasukan Perancis tidak mendapat makanan. Louis tidak lagi ingin melalui jalur darat, dan memilih untuk mengumpulkan armada di Adalia dan berlayar ke Antiokhia.<ref name="res50" /> Setelah terlambat selama 1 bulan karena badai, hampir semua kapal yang dijanjikan tidak tiba. Louis dan koleganya mengambil kapal untuk diri mereka sendiri, sementara sisa pasukan harus melanjutkan perjalanan yang jauh ke Antiokhia. Pasukan itu hancur, baik karena serangan Turki maupun karena sakit.<ref>Runciman (1952) hal.272-273.</ref>
 
== Akibat ==
Setiap pihak Kristen merasa saling dikhianati satu sama lain.<ref name="rs50" /> Rencana baru dibuat untuk menyerang [[Ascalon]], dan Conrad membawa pasukannya kesana, tapitetapi tidak ada bantuan tiba, karena kurangnya kepercayaan akibat kegagalan pengepungan Damaskus. Ketidakpercayaan ini terus berkepanjangan, sehingga menghancurkan kerajaan Kristen di Tanah Suci. Setelah ekspedisi Ascalon dihentikan, Conrad kembali ke Konstantinopel untuk memperkuat aliansi dengan Manuel. Louis tetap berada di Yerusalem sampai tahun [[1149]].
[[Bernardus dari Clairvaux]] juga dipermalukan oleh kekalahan ini. Bernardus meminta maaf kepada Paus. Dalam bagian kedua bukunya, ''Book of Considerations'', Bernardus menjelaskan bagaimana [[Dosa (Kristen)|dosa-dosa]] yang dilakukan para tentara salib adalah penyebab kemalangan dan kegagalan mereka. Ketika usahanya untuk menyerukan perang salib baru gagal, ia mencoba memisahkan dirinya dari kegagalan Perang Salib Kedua.<ref>Runciman (1952) hal. 232-234 dan hal. 277.</ref> Bernardus meninggal dunia pada tahun [[1153]].
Perang Salib Wend membuahkan hasil yang manis dan pahit. Sementara Sachsen menyatakan Wagria dan Polabia sebagai jajahan mereka, pagan tetap menguasai wilayah Obodrit di sebelah timur Lübeck. Sachsen menerima upeti dari Niklot, memungkinkan kolonisasi [[Keuskupan Havelberg]], dan pembebasan beberapa tahanan Denmark, namun pemimpin-pemimpin Kristen saling mencurigai dan menuduh satu sama lain atas tuduhan mensabotase kampanye militer. Di Iberia, kampanye militer di Spanyol, dan juga pengepungan Lisboa, merupakan satu-satunya kemenangan Kristen dalam Perang Salib Kedua. Kampanye tersebut dianggap sebagai pertempuran penting dalam [[Reconquista]], yang akan selesai pada tahun 1492.<ref name="rs126" />
 
Serangan terhadap [[Damaskus]] membawa malapetaka kepada Yerusalem: Damaskus tidak lagi percaya kepada negara-negara tentara salib, dan kota itu diberikan kepada [[Nuruddin]] tahun [[1154]]. Baldwin III [[Pengepungan Ascalon|menguasai Ascalon]] pada tahun [[1153]], yang menyeret [[Mesir]] kedalam konflik ini. Yerusalem mampu memasuki Mesir dan merebut [[Kairo]] pada tahun [[1160]].<ref>Riley-Smith (1991) hal.56.</ref> Akan tetapi, bantuan dari Eropa jarang datang setelah bencana yang diakibatkan oleh Perang Salib Kedua. Raja [[Amalric I]] dari Yerusalem bersekutu dengan Romawi Timur dan melancarkan invasi gabungan ke Mesir tahun [[1169]], tapitetapi serangan ini gagal. Pada tahun [[1171]], [[Salahuddin Ayyubi]], keponakan dari salah satu jenderal Nuruddin, menjadi Sultan Mesir. Ia mempersatukan Mesir dan Suriah, lalu mengepung kerajaan tentara salib. Sementara itu, aliansi dengan Bizantium berakhir setelah kematian Kaisar [[Manuel I Comneus|Manuel I]] pada tahun 1180, dan pada tahun [[1187]], [[Pengepungan Yerusalem (1187)|Yerusalem diserang dan direbut oleh Salahuddin]]. Pasukannya lalu menyebar ke utara dan merebut semua ibukota negara-negara tentara salib, memicu meletusnya [[Perang Salib Ketiga]].<ref>Riley-Smith (1991) hal.60.</ref>
 
== Catatan kaki ==
648.123

suntingan