Buka menu utama

Perubahan

2 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (- tapi + tetapi)
Pada masa kolonial, nasib nyai jauh lebih beruntung daripada para budak. Pada masa awal kolonisasi Hindia Belanda, para pejabat Belanda datang tanpa disertai ''[[mevrouw]]'' (nyonya). keberadaan nyai sepenuhnya difaktori kepentingan seksual dan status sosial pejabat kolonial di tanah Hindia.
 
Seorang nyai berada dalam posisi yang tinggi secara ekonomis, tapitetapi rendah secara moral. Secara ekonomis, mereka berada di atas rata-rata perempuan [[pribumi]] yang bukan bangsawan. Para nyai mengenakan kain [[songket]] bersulam benang emas dan perak, mengenakan tusuk konde roos, peniti intan, dan giwang yang terbuat dari berlian.
 
Nyai juga berarti isteri (nyonya) dari Kyai (gelar ulama di Jawa), misalnya [[Nyai Ahmad Dahlan]]. Tetapi [[Kiai]] di Kalimantan merupakan gelar menteri kerajaan dan gelar kepala distrik (Lalawangan) yang bukan keturunan bangsawan (Tutus Raja), sedangkan Nyai berarti gelar untuk wanita terhormat yang bukan keturunan bangsawan, misalnya [[Nyai Undang]], [[Nyai Siti Diang Lawai]], [[Nyai Ratu Komalasari]]. Ratu Komalasari adalah permaisuri Sultan Adam dari [[Kesultanan Banjar]], penambahan gelar Nyai di depan gelar '[[Ratu]]' menunjukan bahwa dia bukan berasal dari kalangan bangsawan.
621.459

suntingan