Kota Bandung: Perbedaan revisi

1 bita dihapus ,  4 tahun yang lalu
k
clean up, replaced: atmosfir → atmosfer using AWB
k (clean up, replaced: atmosfir → atmosfer using AWB)
Berdasarkan filosofi Sunda, kata ''Bandung'' juga berasal dari kalimat ''Nga-Bandung-an'' ''Banda Indung'', yang merupakan kalimat sakral dan luhur karena mengandung nilai ajaran Sunda. ''Nga-Bandung-an'' artinya menyaksikan atau bersaksi. ''Banda'' adalah segala sesuatu yang berada di alam hidup yaitu di bumi dan atmosfer, baik makhluk hidup maupun benda mati. Sinonim dari ''banda'' adalah harta. ''Indung'' berarti ''Ibu'' atau Bumi, disebut juga sebagai ''Ibu Pertiwi'' tempat ''Banda'' berada.
 
Dari Bumi-lah semua dilahirkan ke alam hidup sebagai ''Banda''. Segala sesuatu yang berada di alam hidup adalah ''Banda Indung'', yaitu Bumi, air, tanah, api, tumbuhan, hewan, manusia dan segala isi perut bumi. Langit yang berada di luar atmosfiratmosfer adalah tempat yang menyaksikan, ''Nu Nga-Bandung-an''. Yang disebut sebagai ''Wasa'' atau ''SangHyang Wisesa'', yang berkuasa di langit tanpa batas dan seluruh alam semesta termasuk Bumi. Jadi kata Bandung mempunyai nilai filosofis sebagai alam tempat segala makhluk hidup maupun benda mati yang lahir dan tinggal di Ibu Pertiwi yang keberadaanya disaksikan oleh yang Maha Kuasa.
 
Kota Bandung secara geografis memang terlihat dikelilingi oleh pegunungan, dan ini menunjukkan bahwa pada masa lalu kota Bandung memang merupakan sebuah telaga atau danau. Legenda [[Sangkuriang]] merupakan legenda yang menceritakan bagaimana terbentuknya danau Bandung, dan bagaimana terbentuknya [[Gunung Tangkuban Perahu]], lalu bagaimana pula keringnya danau Bandung sehingga meninggalkan cekungan seperti sekarang ini. Air dari danau Bandung menurut legenda tersebut kering karena mengalir melalui sebuah gua yang bernama [[Sangkyang Tikoro]].
 
== Perhubungan ==
Sampai pada tahun [[2004]], kondisi [[transportasi]] jalan di kota Bandung masih buruk dengan tingginya tingkat kemacetan serta ruas jalan yang tidak memadai, termasuk masalah parkir dan tingginya polusi udara.<ref>Sihombing, J., (2004), ''[http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbpl-gdl-s1-2004-jennysihom-134 Identifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap rendahnya kinerja pelaksanaan administratif Badan Koordinasi Transportasi Jalan (Bakortrans Jalan) kota Bandung]'', Skripsi, Departemen Teknik Planologi, ITB.</ref> Permasalahan ini muncul karena beberapa faktor diantaranya pengelolaan transportasi oleh pemerintah setempat yang tidak maksimal seperti rendahnya koordinasi antara [[instansi]] yang terkait, ketidakjelasan wewenang setiap instansi, dan kurangnya sumber daya manusia, serta ditambah tidak lengkapnya peraturan pendukung.
 
=== Infrastruktur ===