Buka menu utama

Perubahan

81 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
k
Suku ini dapat digolongkan sebagai suku Dayak, karena mereka teguh memegang kepercayaan atau religi suku mereka. Akan tetapi religi suku ini, agak berbeda dengan suku Dayak di [[Kalimantan Tengah]] (Rumpun Dayak Ngaju atau Rumpun Barito), yang banyak menekankan [[ritual]] upacara kematian dalam agama [[Kaharingan]]. Salah satu Suku Dayak di Kalimantan Selatan yang juga banyak menekankan [[ritual]] upacara kematian adalah [[Suku Dayak Dusun Deyah]].
 
Sedangkan kepercayaan suku Meratus biasanya disebut agama [[Balian]] yang lebih menekankan [[upacara]] dalam [[kehidupan]], seperti upacara pada proses penanaman padi atau panen, sebagaimana halnya dengan suku Kanayatn yang melakukan upacara pesta panen Naik Dango di Kalimantan Barat. Suku Dayak Bukit juga tidak mengenal tradisi '''[[ngayau]]''' yang ada zaman dahulu pada kebanyakan suku Dayak.<ref>http://eprints.unlam.ac.id/219/2/14%20Badingsanak%20Banjar%20Dayak.pdf</ref>
 
Upacara ritual suku Dayak Bukit, misalnya "Aruh Bawanang" yang disebut juga [http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/04/24/upacara-aruh-ganal/ Aruh Ganal]. Tarian ritual misalnya tari ''Babangsai'' untuk wanita dan tari ''Kanjar'' untuk pria. Suku Bukit tinggal di dalam rumah bersama yang dinamakan'' balai'' yang lebih tepat berfungsi sebagai rumah ritual adat. Istilah ''balai'' juga masih dipakai suku Banjar Hulu yang tinggal di pedalaman untuk menyebut surau/langgar, karena kesamaannya sebagai tempat ibadah/ritual.
29.546

suntingan