Buka menu utama

Perubahan

4.076 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
===Zaman perunggu===
{{Main|Timur Dekat Kuno}}
[[Zaman Tembaga]] bermula sekitar 4500 SM, disusul [[Zaman Perunggu]] yang bermula sekitar 3500 SM, menggantikan peradaban [[Neolitikum|Zaman Batu Muda]].
 
[[Peradaban Lembah Sungai Indus]] adalah peradaban Zaman Perunggu (3300–1300 SM; periode kedewasaan 2600–1900 SM) yang berpusat di bagian barat dari Anak Benua India; ada anggapan bahwa pada zaman peradaban ini sudah dipraktekkan suatu bentuk awal agama Hindu. Beberapa kota besar dari peradaban ini adalah [[Harappa]] dan [[Mohenjo-daro]], yang memiliki perencanaan tata kota dan seni rupa bertaraf tinggi. Penyebab hancurnya wilayah ini sekitar 1700 SM masih diperdebatkan, meskipun bukti-bukti yang ada telah menimbulkan dugaan bahwa bencana alam (khususnya banjir) adalah penyebabnya.<ref>{{cite web|title=The Indus Valley Civilisation|url=http://library.thinkquest.org/11372/data/history.htm|work=ThinkQuest|accessdate=9 Februari 2013}}</ref> Era ini menandai [[Periode Weda|Zaman Weda]] di India, yang berlangsung sejak kira-kira 1500 sampai 500 SM. Pada zaman ini, [[bahasa Sanskerta]] berkembang dan kitab-kitab [[Weda]] ditulis, yakni kidung-kidung pujian yang bertutur tentang dewa-dewi dan peperangan. Inilah dasar agama Weda, yang kelak bertumbuh dan berkembang menjadi [[agama Hindu]], sebuah agama yang berasaskan [[kasta|sistem kasta]] (yang terdiri atas empat [[Warna (Hindu)|warna]]), kepemimpinan kaum [[brahmana]] di bidang kerohanian, dan ajaran semi-[[monoteisme]] yang berkembang.{{sfn|Stearns|2011|page=68}}
Tiongkok dan [[Vietnam]] juga adalah pusat-pusat kriya logam. Semenjak Zaman Batu Muda, tambur-tambur perunggu yang pertama, yang disebut [[nekara]] atau tambur Dong Son telah ditemukan di kawasan-kawasan muara Sungai Merah ([[bahasa Tionghoa]]: 紅河 dalam aksara tradisional atau 红河 dalam aksara yang disederhanakan, pinyin: Hóng Hé; [[bahasa Vietnam]]: Sông Hồng) dan sekitarnya di Vietnam dan Tiongkok Selatan. Nekara-nekara ini berkaitan dengan peradaban prasejarah Dong Son di Vietnam.
 
Di [[Ban Chiang]], Thailand (Asia Tenggara), telah ditemukan artefak-artefak perunggu yang berasal dari 2100 SM. Pada penggalian di Nyaunggan, Birma, telah didapati peralatan perunggu bersama dengan tembikar dan artefak-artefak batu. Penentuan penanggalannya sampai sekarang masih luas berkisar antara 3500 sampai 500 SM).
 
===Zaman Besi===
Melalui [[Jalur Sutra]], pemerintah Han menjalin kontak dengan Kekaisaran Persia di Timur Tengah dan dengan bangsa Romawi, sehingga dapat memperdagangkan banyak komoditas dengan mereka, terutama sutra. Banyak peradaban kuno mendapatkan pengaruh dari luar melalui [[Jalur Sutra]], yang menghubungkan Tiongkok, [[India]], Timur Tengah, dan Eropa. Kaisar-kaisar Han seperti Wu juga mempromosikan ajaran Konfusius sebagai "agama" bangsa (meskipun para teolog memperdebatkan, apakah konfusianisme dimaknai sebagai suatu agama ataukah filsafat). Rumah-rumah peribadatan yang dibaktikan bagi Konfusius didirikan dan filsafat Konfusius diajarkan kepada semua cendekiawan yang masuk ke birokrasi Tiongkok. Birokrasi dikembangkan lebih lanjut dengan memperkenalkan sebuah sistem ujian yang menyaring para cendekiawan berilmu tinggi. Kebanyakan para birokrat ini adalah warga kelas atas yang dididik di sekolah-sekolah khusus, tetapi kekuasaan mereka diimbangi pemeriksaan oleh warga kelas bawah yang dimasukkan ke dalam birokrasi berkat keterampilan mereka. Birokrasi Kekaisaran Tiongkok sangat efektif, sangat dihormati seluruh rakyat, dan bertahan lebih dari 2.000 tahun. Pemerintah Han yang sangat teratur itu mengurusi bidang militer, kehakiman (yang mempergunakan sistem peradilan dan hukum-hukum yang tegas), produksi pertanian, perekonomian, dan kehidupan rakyat pada umumnya. Pemerintah juga mempromosikan filsafat intelektual, kajian ilmiah, dan pencatatan sejarah secara rinci.
 
Meskipun demikian, dengan segala stabilitas yang mengagumkan ini, kekuasaan pusat mulai kehilangan kendali menjelang peralihan dari kurun Sebelum Masehi ke [[Masehi|kurun Masehi]]. Seiring kemerosotan wangsa Han, banyak permasalahan datang bertubi-tubi menimpa dan menjadikannya tak berdaya sehingga Tiongkok terpuruk dalam kekacauan. Menjelang 100 Masehi, kegiatan filsafat melamban, dan korupsi dalam birokrasi tak terbendung lagi. Para tuan tanah di daerah mulai mengambil alih kendali tatkala para cendekiawan menelantarkan tugas-tugas mereka, akibatnya rakyat jelata harus menanggung beban cukai yang berat. Para pengikut ajaran Tao mulai mendapat dukungan yang signifikan dan memprotes kemerosotan yang tengah berlangsung. Mereka mulai mengaku-aku menguasai ilmu sihir dan berjanji akan menggunakannya demi menyelamatkan Tiongkok; [[Pemberontakan Serban Kuning]] yang dikobarkan kaum Tao pada 184 (dipimpin para pemberontak yang mengenakan destar kuning) berakhir dengan kegagalan namun mampu melemahkan pemerintah. Serbuan bangsa Hun bersamaan dengan merebaknya wabah penyakit membunuh setengah dari keseluruhan populasi dan secara resmi mengakhiri kekuasaan wangsa Han pada 220. Zaman kekacauan yang mengikutinya teramat parah sampai-sampai berlangsung selama tiga abad. Selama itu pula tak satu pun pemimpin dan wangsa daerah yang mampu menegakkan ketertiban di Tiongkok. Zaman kekacauan beserta upaya-upaya penegakkan ketertiban ini secara umum dikenal sebagai zaman [[Enam dinasti|enam wangsa]]. Babak pertama dari zaman ini meliputi zaman [[Zaman Tiga Negara|tiga kerajaan]] yang dimulai pada 220 dan diisi oleh "wangsa-wangsa" lemah yang silih berganti berkuasa dalam jangka pendek sesudah tumbangnya pemerintah Han. Pada 265, [[Dinasti Jin (265-420)|wangsa Jin]] di Tiongkok mulai berkuasa dan tak lama kemudian pecah menjadi dua kekaisaran, yang satu menguasai wilayah barat laut Tiongkok, dan yang lain menguasai wilayah tenggara Tiongkok. Pada 420, penaklukan dan pengunduran diri kedua wangsa ini berujung pada zaman kekuasaan perdana [[Dinasti Selatan dan Utara|wangsa-wangsa selatan dan utara]]. Zaman kekuasaan wangsa-wangsa selatan dan utara terus berlangsung hingga akhirnya, menjelang 557, [[Dinasti Zhou Utara|wangsa Zhou Utara]] memerintah atas wilayah utara dan [[Dinasti Chen|wangsa Chen]] memerintah atas wilayah selatan.
 
==Sejarah pertengahan==
{{main|Kekhalifahan Umayyah}}
[[File:Muhammad 11.jpg|thumb|left|190px|Muhammad digambarkan berada dalam sebuah mesjid tanpa memperlihatkan satu pun anggota tubuhnya.]]
Sejak 613 sampai pada 630, [[Muhammad]] menyebarkan agama Islam di gurun Arabia, berpuncak pada kemenangannya di [[Mekah]]. Ia kemudian mempersatukan suku-suku Arab menjadi sebuah Kekaisaran Islam yang dikepalai oleh seorang pemimpin agama dan politik, [[khalifah]]. Gabungan suku-suku Arab ini kelak maju menaklukkan Kekaisaran Sasania serta wilayah-wilayah yang kini disebut [[Suriah]], [[Palestina]], [[Mesir]], dan [[Libya]].{{sfn|Stearns|2011|page=148=149}} Sebuah bala pasukan laut Arab dibentuk dan tak lama kemudian menguasai Mediterania, membuat Kekaisaran Bizantium tidak berdaya dalam kepungannya sampai berabad-abad kemudian.{{sfn|Stearns|2011|page=148-149}} Permasalahan-permasalahan seputar penentuan para khalifah pengganti Muhammad berakibat meletusnya [[Perang Riddah]] dan pada akhirnya mengakibatkan perpecahan [[Sunni]]-[[Syi'ah]], dua golongan umat Islam yang saling bertentangan; kaum Sunni pada akhirnya menjadi golongan yang dominan dan mendirikan [[Kekhalifahan Umayyah|Kekhalifahan Umawiyah]].{{sfn|Stearns|2011|page=148-149}}
 
Kekhalifahan Umawiyah berpusat di ibu kota mereka, [[Damaskus|Damsyik]] di Suriah sekarang ini. Bani Umayyah melakukan lebih banyak lagi penaklukan yang menjadikan mereka penguasa atas Asia Tengah, sebagian besar Afrika Utara, dan dari situ ke [[Semenanjung Iberia]] (sekarang [[Spanyol]] dan [[Portugal]]). Hanya sedikit konversi agama yang terjadi kala itu akibat dari kurangnya rasa hormat terhadap kaum Muslim non-Arab ([[bahasa Arab]]: موالي, Mawali), yang ditunjukkan oleh Bani Umayyah. Umat [[Kristen]] dan [[Yahudi]] lebih dihargai sebagai kaum yang dilindungi (bahasa Arab: أهل الذمة, Ahl al-Dzimmah), dan khususnya sebagai kaum berkitab (bahasa Arab: أهل الكتاب, Ahl al-Kitab), mengacu pada [[Alkitab|Kitab Suci]] mereka. Di masa kekuasaan Bani Umayyah, posisi perempuan meningkat ke taraf yang lebih baik dibanding semasa Arab pra-Islam; ajaran Muhammad melarang zinah, mendorong perkawinan dan perlakuan baik terhadap isteri dan anak perempuan, serta memproklamirkan kesetaraan wanita dan pria "di mata Tuhan."{{sfn|Stearns|2011|page=151}}
 
====Kekaisaran Abbasiyah====
{{main|Kekhalifahan Abbasiyah}}
[[File:Abbasid Caliphate most extant.png|230px|thumb|Keseluruhan wilayah yang pernah dikuasai Kekaisaran Abbasiyah]]
Kekaisaran Umawiyah mengalami kemunduran sejak permulaan abad ke-8 tatkala para pemimpinnya makin lama makin menjauh dari rakyat, terutama dari para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawa dalam perang-perang penaklukan.{{sfn|Stearns|2011|page=151}} Sebuah golongan politik baru, Bani Abbas, bergabung dengan golongan-golongan yang memendam kekecewaan, yakni para pejuang, kaum Syi'ah, dan kaum Mawali, kemudian menumbangkan Bani Umayyah pada 750 dalam [[Pertempuran Zab]]. Sisa-sisa Bani Umayyah melarikan diri ke [[Iberia|Semenanjung Iberia]], kemudian mendirikan di sana sebuah kerajaan Islam merdeka, [[Kekhalifahan Kordoba]]. Pembentukan [[Kekhalifahan Abbasiyah]] bermula dengan pemindahan ibu kota ke [[Baghdad]] di Persia (sekarang Irak) pada 762, dan bersamaan dengan itu terjadi pula penerapan tata lembaga politik Persia, seperti pembentukan monarki absolut yang berkuasa penuh secara mutlak tanpa tentangan, serta suatu birokrasi yang lebih baik di bawah kepemimpinan seorang [[Wazir]] yang mengambil alih hampir seluruh tanggung jawab politik dan administrasi yang sebelumnya diemban Khalifah.{{sfn|Stearns|2011|page=154}} Pemerintahan Bani Abbas juga mengalami suatu lonjakan besar di bidang perniagaan, khususnya perniagaan di laut, dengan mengirim kapal-kapal [[dhow|dow]] (bahasa Arab: داو, dāw) yang melanjutkan ekspansi, pertama-tama dengan mengutus para saudagar dan misionaris ke [[India]] dan [[Asia Tenggara]]. Pada akhirnya timbul konflik akibat dari masalah-masalah perompakan di India yang mendorong Bani Abbas mulai berupaya menaklukkan wilayah barat India yang menjadi mitra dagang mereka. Ekspedisi pertama dipimpin oleh seorang panglima berkebangsaan [[bangsa Turk|Turk]], [[Qutb-ud-din Aybak]], dan berjaya mendirikan [[Kesultanan Mamluk (Delhi)|Kesultanan Mamluk]] pada 1206 yang diperintah oleh seorang sultan (bahasa Arab: سلطان) yang berarti "penguasa."
 
[[File:Saladin in Jerusalem.jpg|thumb|left|180px|Para prajurit Perang Salib Kristen di hadapan Saladin di Yerusalem]]
 
Akan tetapi pemerintahan Bani Abbas tak lama kemudian tumbang oleh penyebab yang sama dengan penyebab kejatuhan Bani Umayyah. Golongan-golongan yang berbeda-beda di kalangan istana, khususnya sejumlah kelompok [[bangsa Turk|orang Turk]], bertarung memperebutkan kekuasaan. Khalifah mulai bergantung pada para penasihat yang berasal dari keluarga-keluarga kaya, yang kadang-kadang menjadikannya sebagai boneka mereka belaka. Semua ini terjadi tatkala [[Dinasti Buya|wangsa Buya]] berkebangsaan Persia berdiri pada 934. Pemerintah Syi'ah ini hanya mampu bertahan selama seabad lebih, dan dengan cepat dikalahkan bangsa Turk yang kelak membentuk [[dinasti Seljuk|wangsa Seljuk]] menjelang 1051 dan menegakkan kembali pemerintahan Sunni.
 
==Sejarah kontemporer==
Jelang [[Perang Dunia II]], pecah perang saudara di Tiongkok antara Partai Komunis pimpinan [[Mao Zedong]] melawan Partai Nasionalis pimpinan [[Chiang Kai-shek]]; kaum nasionalis tampak memimpin. Meskipun demikian, tatkala [[Perang Tiongkok-Jepang Kedua|Jepang menginvasi]] pada 1937, kedua belah pihak terpaksa sepakat mengadakan gencatan senjata sementara dalam rangka mempertahankan Tiongkok. Kaum nasionalis mengalami banyak kekalahan dalam pertempuran yang mengakibatkan mereka kehilangan wilayah teritorial, dan oleh karena itu juga kehilangan rasa hormat dari rakyat Tiongkok. Berbeda dari kaum nasionalis, kaum komunis menggunakan taktik perang gerilya (di bawah pimpinan [[Lin Biao]]) yang terbukti efektif melawan metode-metode perang konvensional yang digunakan Jepang sehingga menempatkan Partai Komunis di posisi puncak menjelang 1945. Mereka juga mendapatkan popularitas dari upaya-upaya perbaikan yang sudah diterapkan di wilayah-wilayah yang mereka kuasai, seperti distribusi ulang tanah, reformasi pendidikan, dan karya pemeliharaan kesehatan sampai ke pelosok-pelosok daerah. Empat tahun berikutnya digunakan untuk memukul mundur kaum nasionalis ke pulau kecil di sebelah timur Tiongkok, yang dikenal dengan nama [[Taiwan]] (sebelumnya dikenal dengan nama Formosa), tempat mereka sekarang menetap. Di daratan Tiongkok, Partai Komunis mendirikan [[Republik Rakyat Tiongkok]], dengan [[Mao Zedong]] sebagai [[Presiden Republik Rakyat Tiongkok|kepala negara]].
 
Pemerintah komunis di Tiongkok terbentuk dari para [[partai pelindung|kader partai]]. Pejabat-pejabat garis keras ini mengendalikan [[Tentara Pembebasan Rakyat]], dan Tentara Pembebasan Rakyat itu sendiri mengendalikan sejumlah besar birokrasi. Sistem ini selanjutnya dikendalikan oleh [[Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok|Komite Sentral]], yang selain itu juga mendukung kepala negara sebagai kepala pemerintahan. Kebijakan-kebijakan luar negeri Republik Rakyat Tiongkok mencakup menekan upaya-upaya pemisahan diri di Mongolia dan Tibet, mendukung [[Korea Utara]] dalam [[Perang Korea]], dan mendukung [[Vietnam Utara]] dalam [[Perang Vietnam]]. Selain itu, menjelang 1960 Tiongkok mulai memutus hubungan-hubungan dengan Uni Soviet karena masalah perbatasan dan, semakin meningkatnya rasa superioritas Tiongkok, dan khususnya terkaitkarena sentimenketidaksukaan pribadi Mao terhadap pemimpin Rusia, [[Nikita Khrushchev]].
 
Kini Tiongkok, India, Korea Selatan, Jepang, dan [[Rusia]] memainkan peranan penting dalam perekonomian dan perpolitikan dunia. Tiongkok sekarang ini adalah negara dengan perekononomian terbesar kedua di dunia, sekaligus negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat kedua di dunia. Perekonomian India menempati peringkat terbesar ke-7 di dunia berdasarkan [[Produk domestik bruto|PDB]] nominal, dan peringkat terbesar ke-3 di dunia berdasarkan paritas daya beli, serta merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.
19.519

suntingan