Penduduk asli Taiwan: Perbedaan revisi

1.979 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
Berbagai desa penduduk asli di wilayah terdepan memberontak melawan Belanda pada 1650an karena penekanan seperti saat Belanda memerintahkan wanita penduduk asli untuk melakukan pelayanan seksual, menyerahkan kulit rusz, dan beras agar diberikan kepada mereka yang membuat penduduk asli di cekungan Taipei, desa Wu-lao-wan mrlakukan pemberontakan pada Desember 1652 pada saat yang sama dengan pemberontakan Tiongkok. Dua penerjemah Belanda dipenggal oleh penduduk asli Wu-lao-wan dan kemudian 30 penduduk asli dan dua orang Belanda lainnya tewas. Setelah sebuah embargo garam dan besi di Wu-lao-wan, penduduk asli terpaksa berdamai pada Februari 1653.<ref>[https://books.google.com/books?id=g3oWoSKVnVIC&pg=PA59&lpg=PA59#v=onepage&q&f=false Shepherd1993], p. 59.</ref>
 
Namun, suku-suku penduduk asli Taiwan yang sebelumnya bersekutu dengan Belanda melawan Tiongkok pada Pemberontakan Guo Huaiyi pada 1652 berbalik melawan Belanda pada [[Pengepungan Benteng Zeelandia]] dan mengalahkan pasukan Tiongkok yang dipimpin [[Koxinga]].<ref>{{cite book |last=Covell |first=Ralph R. |date=1998 |title=Pentecost of the Hills in Taiwan: The Christian Faith Among the Original Inhabitants |publisher=Hope Publishing House |edition=illustrated |pages=96–97 |isbn=0932727905}}</ref> Penduduk asli (Formosa) dari Sincan mengalahkan Koxinga setelah ia menawarkan mereka amnesti; penduduk asli Sincan kemudian bekerja untuk Tiongkok dan memegang orang Belanda dalam penghukuman mati saat pendidik asli di dataran tinggi dan dataran rendha juga menyerah dan melindungi Tiongkok pada 17 Mei 1661, merayakan kebebasan mereka dari pendidikan wajib di bawah kekuasaan Belanda dengan berburu orang Belanda dan memenggal mereka dan membuang buku-buku teks sekolah Kristen mereka.<ref>{{cite book |last=Hsin-Hui |first=Chiu |date=2008 |title=The Colonial 'civilizing Process' in Dutch Formosa: 1624 - 1662 |location= |publisher=BRILL |edition=illustrated |volume=Volume 10 of TANAP monographs on the history of the Asian-European interaction |page=222 |isbn=900416507X }}</ref>
Periode Belanda berakhir dengan kedatangan kaum loyalis Ming, Zheng Cheng-gong ([[Koxinga]]), tetapi pengaruh bangsa Belanda sangat mendarah-daging di antara masyarakat pribumi Taiwan. Pada abad ke-19 dan ke-20, para penjelajah bangsa Eropa menulis bahwa mereka disambut sebagai kerabat oleh orang pribumi yang mengira mereka adalah orang Belanda yang telah berjanji untuk kembali.
 
Periode Belanda berakhir pada 1662 saat pasukan loyalis [[Dinasti Ming|Ming]] dari Zheng Chenggong ([[Koxinga]]) mendepak Belanda dan mendirikan [[Kerajaan Tungning|kerajaan keluarga Zheng]] yang berusia pendek di Taiwan. Keluarga Zheng membawa 70,000 prajurit ke Taiwan dan mulai memnyelesaikan traktat-traktat lahan untuk mendukung pasukan mereka. Disamping bertarung dengan Kekaisaran Qing sebelum pendudukan, keluarga Zheng berfokus untuk menyejahterakan penduduk asli di Taiwan. Keluarga Zheng membangun aliansi, mengumpulkan pajak dan mendirikan sekolah-sekolah penduduk asli, dimana pendidik asli Taiwan pertama kali diperkenalkan dengan [[Konghucu Klasik]] dan penulisan Tionghoa.<ref>{{Harvcol|Shepherd|1993|pp=92–103}}</ref> Namun, pengaruh bangsa Belanda sangat mendarah-daging di antara masyarakat pribumi Taiwan. Pada abad ke-19 dan ke-20, para penjelajah bangsa Eropa menulis bahwa mereka disambut sebagai kerabat oleh orang pribumi yang mengira mereka adalah orang Belanda yang telah berjanji untuk kembali.<ref>{{Harvcol|Pickering|1898|pp=116–18}}</ref>
 
=== Penguasaan Qing ===