Penduduk asli Taiwan: Perbedaan revisi

340 bita dihapus ,  4 tahun yang lalu
Saat [[Bangsa Belanda|Belanda]] datang pada 1624 di Pelabuhan Tayouan ([[Anping, Tainan|Anping]]), para perwakilan yang memakai bahasa Siraya dari dekat desa [[Benteng Provintia|Saccam]] kemudian mendatangi benteng Belanda untuk melakukan barter dan perdagangan; sebuah peristiwa yang sangat disambut oleh Belanda. Namun, desa-desa Sirayan terbagi dalam faksi-faksi yang berperang: desa Sinckan ([[Sinshih]]) berperang dengan Mattau (Madou) dan sekutunya Baccluan, sementara desa [[Jiali, Tainan|Soulang]] yang berada pada posisi netral merasa tidak tenang. Pada 1629, sekelompok serdado Belanda yang mencari para pembajak Gan dibantai oleh para prajurit dari Mattau, dan kemenangan tersebut membuat desa-desa lainnya memberontak.<ref>{{Harvcol|Shepherd|1995|pp=52–3}}</ref> Pada 1635, dengan bala bantuan yang datang dari [[Jakarta|Batavia]] (sekarang Jakarta, [[Indonesia]]), Belanda menyerang dan membakar Mattau. Sejak Mattau menjadi desa paling berkuasa di wilayah tersebut, kemenangan tersebut memberikan tawaran perdamaian dari des-desa terdekat lainnya, beberapa diantara mereka berasal dari luar wilayah Siraya. Peristiwa tersebut menjadi permulaan konsolidasi Belanda atas sebagian besar wilayah Taiwan, yang mengakhiri peperangan antar-desa yang terjadi selama berabad-abad.<ref>{{Harvcol|Blusse|Everts|2000|pp=11–20}}</ref> Periode dama yang baru membuat Belanda leluasa untuk membangun sekolah-sekolah dan gereja=gereja dalam rangka mengakulturasi dan mengkonversi penduduk asli.<ref>{{Harvcolnb|Campbell|1915|p=240}}</ref><ref>{{Harvcolnb|Shepherd|1995|p=66}}</ref> Sekolah-sekolah Belanda mengajarkan abjad yang diromanisasikan ([[penulisan Sinckan]]), yang men[[transkripsi]]kan bahasa Siraya. Abjad tersebut menjadi umum digunakan pada abad ke-18.<ref>{{Harvcol|Shepherd| 1995|pp=66–8}}</ref> Saat ini, fragmen-fragmen yang selamat hanya dalam bentuk dokumen-dokumen dan ukiran-ukiran [[prasasti]] batu. Sekolah-sekolah juga digunakan untuk membentuk aliansi dan wilayah penduduk asli terbuka untuk kegiatan wirausaha dan komersial Belanda.
 
Belanda kemudian tergiur dengan perdagangan kulit dan daging rusa di pasar Asia Timur<ref>{{Harvcol|Shepherd|1993|p=451 ''19n''}}</ref> dan mengajak [[Penduduk Asli Dataran Rendah Taiwan|Penduduk Asli Dataran Rendah]] untuk diajari cara menguliti hewan. Perdagangan rusa membuat desa-desa penduduk asli disoroti oleh para pedagang Han awal, namun pada awal 1642, permintaan rusa yang besar membuat harga rusa menjadi anjlok. Penurunan harga tersebut mengurangi kemakmuran suku-suku penduduk asli,<ref>{{Harvcol|Andrade|2005|p=303}}</ref> yang memaksa beberapa penduduk asli bercocok tanam untuk menanggulangi dampak ekonomi yang menghilangkan sebagian besar sumber makanan mereka.
Ini adalah kelahiran ''pax hollandica'', yang lambat laun menyebar sewaktu orang Belanda memperbesar kekuasaan mereka akan bagian-bagian besar Taiwan. Hal ini hanya berakhir pada 1662, ketika para pendukung Dinasti Ming; angkatan perang Zheng Chenggong mendirikan kerajaan wangsa Zheng di Taiwan atas nama dinasti Ming yang telah kalah.
 
[[Berkas:Dapper - 1670 - Gedenkwaerdig bedryf - UB Radboud Uni Nijmegen - 180148540 038 (cropped).jpg|thumbnail|Para penduduk asli Taiwan yang digambarkan pada ''Gedenkwaerdig bedryf'' karya [[Olfert Dapper]] (1670)]]
Salah satu [[pranata]] menarik periode Belanda ialah "landdag," atau perkumpulan tahunan sesepuh desa (''ouders'') di hadapan Gubernur Belanda.
 
Karena Belanda mulai menguasai desa-desa penduduk asli di selatan dan barat Taiwan, jumlah imigran Han pengeksploitasi lahan yang kaya dan subur meningkat. Belanda awalnya membiarkannya, karena orang-orang Han terampil dalam agribudaya dan perburuan berskala besar. Beberapa orang Han bermukim di desa-desa Siraya. Belanda menggunakan para agen Han untuk mengumpulkan pajak, memungut biaya perijinan berburu dan pemasukan lainnya. Kebijakan tersebut membuat masyarakat mengira "beberapa kolonis adalah [[Tionghoa Han]] namun struktur militer dan administratif-nya adalah Belanda".<ref>{{Harvcol|Andrade|2005|p=298}}</ref> Disamping itu, aliansi-aliansi lokal dicap sebagai etnisitas pada zaman Belanda. Contohnya, [[Pemberontakan Guo Huaiyi]] pada 1652, sebuah kebangkitan kaum petani Han, dikalahkan oleh sebuah aliansi 120 musketer Belanda dengan bantuan para loyalis Han dan 600 prajurit penduduk asli.<ref>{{Harvcol|Shepherd|1993|p=90}}</ref>
Orang Belanda memberi masing-masing pemimpin tanjung beledu hitam, tongkat [[rotan]] berujung perak dan bendera yang mewakili Pangeran Oranje untuk membuktikan kesetiaan mereka kepada VOC. Pada gilirannya suku bangsa pribumi memberikan orang Belanda pot-pot pohon palem sebagai bukti kesetiaan mereka.
 
Orang Belanda mendirikan sekolah dan gereja. Pendeta Georgius Candidius dan Robertus Junius mempelajari bahasa setempat untuk mulai mengajar orang pribumi membaca bahasa mereka sendiri dengan [[huruf Latin]].
Bangsa pribumi tetap menggunakan huruf Latin ini sampai [[abad ke-18]], namun sekarang hanya beberapa fragmen saja yang masih ada dalam bentuk naskah dan beberapa prasasti ([[tulisan Sinckan]]).
 
Orang Belanda juga mencari emas di Taiwan dan mereka mampu memberi semangat suku Puyuma supaya membawa mereka ke sumber emas pulau ini. Suku Puyuma membawa orang-orang Belanda 80 kilometer ke ladang Kavala di mana emas bisa dicela dari aliran sungai. Laporan ini dipastikan baik oleh sumber arsip Belanda maupun tradisi lisan Puyuma.
 
Orang Belanda memperkerjakan orang pribumi tanah datar untuk memperoleh kulit rusa yang bisa digunakan sebagai komoditi dagang di antara perdagangan segitiga Taiwan, [[Dinasti Qing]] dan [[Jepang]]. Namun perdagangan rusa jualah yang membawa para pedagang pertama bangsa Han ke daerah asli pedesaan. Permintaan untuk rusa sangat mengurangi persediaan rusa dan sudah sangat awal pada 1642 ada jumlahnya sudah menurun secara drastis di beberapa habitat mereka. Penurunan ini membawa dampak berat bagi masyarakat pribumi Taiwan sebab dengan begitu, sangat banyak orang pribumi mesti bercocok tanam untuk menanggulangi dampak ekonomi sumber makanan penting mereka.
 
Periode Belanda berakhir dengan kedatangan kaum loyalis Ming, Zheng Cheng-gong ([[Koxinga]]), tetapi pengaruh bangsa Belanda sangat mendarah-daging di antara masyarakat pribumi Taiwan. Pada abad ke-19 dan ke-20, para penjelajah bangsa Eropa menulis bahwa mereka disambut sebagai kerabat oleh orang pribumi yang mengira mereka adalah orang Belanda yang telah berjanji untuk kembali.