Penduduk asli Taiwan: Perbedaan revisi

1.001 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
Pada periode Eropa (1623–1662), para prajurit dan pedagang mewakili [[Perusahaan Hindia Timur Belanda]] membuat sebuah koloni di barat daya Taiwan (1624–1662) yang sekarang dekat [[Kota Tainan]]. Koloni tersebut mendirikan sebuah pangkalan [[Asia]] untuk [[perdagangan triangular]] antara perusahaan tersebut, [[Dinasti Qing]] dan [[Jepang]], dengan harapan bersaing dengan aliansi dagang Portugis dan Spanyol. Spanyol juga mendirikan sebuah koloni di utara Taiwan (1626–1642) yang sekarang berada di [[Keelung]]. Namun, pengaruh Spanyol mengalir hampir dari awal, sehingga pada akhir 1630an, mereka me arjm sebagian besar pasukan mereka.<ref>{{Harvcol|Andrade|2005|p=296 ''2n''}}</ref> Setelah mereka diusir dari Taiwan oleh sebuah padukan kombinasi penduduk asli dan Belanda pada 1642, Spanyol "memiliki dampak kecil bagi sejarah Taiwan".<ref>{{Harvcol|Gold|1986|pp=10–11}}</ref> Pengaruh Belanda jauh lebih menonjol: menyebar ke barat daya dan utara pulau tersebut, mereka mengeluarkan sistem pajak dan mendirikan sekolah-sekolah dan gereja-gereja di beberapa desa.
 
Saat [[Bangsa Belanda|Belanda]] datang pada 1624 di Pelabuhan Tayouan ([[Anping, Tainan|Anping]]), para perwakilan yang memakai bahasa Siraya dari dekat desa [[Benteng Provintia|Saccam]] kemudian mendatangi benteng Belanda untuk melakukan barter dan perdagangan; sebuah peristiwa yang sangat disambut oleh Belanda. Namun, desa-desa Sirayan terbagi dalam faksi-faksi yang berperang: desa Sinckan ([[Sinshih]]) berperang dengan Mattau (Madou) dan sekutunya Baccluan, sementara desa [[Jiali, Tainan|Soulang]] yang berada pada posisi netral merasa tidak tenang. Pada 1629, sekelompok serdado Belanda yang mencari para pembajak Gan dibantai oleh para prajurit dari Mattau, dan kemenangan tersebut membuat desa-desa lainnya memberontak.<ref>{{Harvcol|Shepherd|1995|pp=52–3}}</ref> Pada 1635, dengan bala bantuan yang datang dari [[Jakarta|Batavia]] (sekarang Jakarta, [[Indonesia]]), Belanda menyerang dan membakar Mattau. Sejak Mattau menjadi desa paling berkuasa di wilayah tersebut, kemenangan tersebut memberikan tawaran perdamaian dari des-desa terdekat lainnya, beberapa diantara mereka berasal dari luar wilayah Siraya. Peristiwa tersebut menjadi permulaan konsolidasi Belanda atas sebagian besar wilayah Taiwan, yang mengakhiri peperangan antar-desa yang terjadi selama berabad-abad.<ref>{{Harvcol|Blusse|Everts|2000|pp=11–20}}</ref> Periode dama yang baru membuat Belanda leluasa untuk membangun sekolah-sekolah dan gereja=gereja dalam rangka mengakulturasi dan mengkonversi penduduk asli.<ref>{{Harvcolnb|Campbell|1915|p=240}}</ref><ref>{{Harvcolnb|Shepherd|1995|p=66}}</ref> Sekolah-sekolah Belanda mengajarkan abjad yang diromanisasikan ([[penulisan Sinckan]]), yang men[[transkripsi]]kan bahasa Siraya language. Abjad tersebut menjadi umum digunakan pada abad ke-18.<ref>{{Harvcol|Shepherd| 1995|pp=66–8}}</ref> Today only fragments, dalam dokumen-dokumen dan ukiran-ukiran [[prasasti]] batu. Sekolah-sekolah juga digunakan untuk membentuk aliansi dan wilayah penduduk asli terbuka untuk kegiatan wirausaha dan komersial Belanda.
Sumber terbaik ialah yang sumber [[VOC]] (Perusahaan Hindia Timur Belanda). Sumber ini menunjukkan bahwa kala itu [[Belanda]] tiba pada [[1624]] di pelabuhan Tayouan ([[Anping, Tainan|Anping]]). Lalu wakil dari desa yang paling dekat—semua di antaranya ialah penutur bahasa Siraya—pergi ke benteng Belanda untuk meminta tanda persahabatan. Kaum Belanda pun menyetujui segala permintaan mereka.
 
Namun wilayah perdesaan kala itu sedang berada dalam keadaan perang suku. Desa Sinckan ([[Sinshih]]) berperang dengan Mattau (Madou) dan sekutunya Baccluan, dengan desa Soulang memelihara keadaan damai tak-tenang. Maka pada [[1629]] sekelompok serdadu Belanda dibantai di sebuah sungai oleh suku Mattau, setelah peristiwa ini keadaan menjadi tegang.
 
Lalu pada [[1635]], dengan tibanya bantuan dari [[Batavia]], angkatan perang Belanda menaklukkan Mattau. Karena Mattau adalah desa yang paling kuat di daerah ini, kemenangan Belanda membawa serangkaian permintaan damai dari desa-desa dekat lainnya, banyak di antaranya di luar daerah Siraya.
 
Ini adalah kelahiran ''pax hollandica'', yang lambat laun menyebar sewaktu orang Belanda memperbesar kekuasaan mereka akan bagian-bagian besar Taiwan. Hal ini hanya berakhir pada 1662, ketika para pendukung Dinasti Ming; angkatan perang Zheng Chenggong mendirikan kerajaan wangsa Zheng di Taiwan atas nama dinasti Ming yang telah kalah.